Menyerap Makna Hidup dari 5 Persembahan Puja Hari Raya Waisak

Bandung - TemanBaik, 26 Mei 2021 diperingati sebagai Hari Raya Waisak 2656 TB. Waisak edisi tahun ini mengusung tema 'Eling dan Waspada Membangun Kepedulian Sosial'.

Salah satu rangkaian dalam perayaan Waisak, ada satu rangkaian yang disebut Puja. Nah, dalam rangkaian puja ini, akan dihadirkan persembahan untuk para Buddha. Di Vihara Tanda Bhakti, ada lima persembahan yang dihadirkan.

Beritabaik.id punya kesempatan untuk mengikuti rangkaian Puja Bakti Waisak 2656 TB di Vihara Tanda Bhakti, Jl. Vihara, Kebon Jeruk, Andir, Bandung. Saat diwawancara lebih lanjut, Heny selaku Pemimpin Sembahyang di Vihara Tanda Bhakti menjelaskan kelima persembahan dalam rangkaian Puja.


Ada 5 macam persembahan untuk Buddha. Kelima persembahan ini disajikan dalam bentuk simbol mulai dari dupa, lilin, air, bunga, dan buah. Simak satu persatu filosofi kelima persembahan tersebut, yuk!

Pertama ada dupa. Dupa disimbolkan karena wanginya. Menurut Heny, filosofinya, wangi dupa ini bisa mengharumkan dunia. Kedua ada lilin. Lilin ini disimbolkan sebagai simbol penerangan. Cahaya lilin ini disimbolkan sebagai penerang kehidupan di bumi.

Baca Ini Juga Yuk: Rayakan Hari Raya Waisak Sambil Berbagi Kebaikan

Ketiga ada air. Air di sini disimbolkan karena sifatnya yang mengalir. Kehidupan di bumi seolah disimbolkan seperti air mengalir. Filosofi air ini juga bisa menjadi refleksi bagi kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

"Air itu mengalir dan enggak menetap. Kehidupan ini disimbolkan sebagai air yang mengalir, tidak menetap, dan apa adanya," ujar Heny.

Lalu ada bunga. Bunga di sini melambangkan ketidak kekalan. Karena sifat bunga itu bisa layu, maka bunga bisa menjadi refleksi bagi kita dalam menjalani hidup. Singkatnya, bunga seolah mengingatkan kita bahwa hidup di dunia tidaklah kekal.

Terakhir, ada buah sebagai simbol ketidak kekalan. Senada dengan filosofi bunga tadi, buah pun bisa menjadi refleksi bagi kita bahwa hidup ini tidaklah kekal. Ya, sebab buah itu sendiri bisa membusuk.

Kelima simbol ini dihadirkan dalam satu altar. Prosesi penyajian kelima simbol persembahan tadi dibawakan satu persatu oleh kru Vihara. Dibacakan pula filosofi dari kelima simbol sebagai refleksi menjalani hidup sebagai manusia.


Dalam kesempatan yang sama, Heny juga menjelaskan definisi eling dan waspada dalam filosofi Waisak ini merupakan proses belajar, berlatih, dan praktik dengan perhatian dan pemahaman sejati yang mengedepankan kebijaksanaan. Mengutip Pesan Waisak dari Dewan Pimpinan Sangha Agung Indonesia, eling dan waspada ini dijadikan refleksi untuk menyadari bahwa umat Buddha di Indonesia hidup dalam keberagaman dan berdampingan dengan berbagai suku, ras, dan agama.

"Hidup berdampingan dengan suku, agama, bahasa, adat, budaya, ras dan antargolongan menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang kaya akan keberagaman dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika," tutupnya.

TemanBaik, Selamat Hari Raya Waisak 2656 TB, khususnya buat kamu yang merayakan. Semoga perayaan Waisak ini bisa menjadi refleksi bagi diri tiap umat untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Foto: Rayhadi Shadiq/Beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler