Aturan Merokok ala Singapura di Bandung, Sanksinya Bikin Minder

Bandung - TemanBaik, tahu kan jika di Singapura denda merokok sembarangan bisa menguras isi dompet atau tabungan kamu? Di sana, denda akibat merokok sembarangan berkisar antara Rp1,5 juta hingga lebih dari Rp10 juta.

Jadi, enggak heran jika di 'Negeri Singa' ini sangat langka orang merokok di sembarang tempat. Selain karena faktor kesadaran yang tinggi, sanksi yang ada tentu bikin keder.

Bahkan, ada istilah jika perokok dari Indonesia ke Singapura, mereka bakal taat banget sama aturan. Sebaliknya, saat kembali ke Indonesia, perilaku merokok sembarangan bakal kembali.

Padahal, di balik larangan itu, ada pelajaran yang bisa dipetik. Di sana, mereka yang enggak merokok dilindungi biar enggak terpapar dampak negatif rokok.

"Kalau misalnya orang Indonesia ke Singapura, dia nurut (dengan aturan merokok), padahal (tujuan dibuatnya aturan) itu untuk kesehatan ya, bukan sekadar uangnya," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung Achyani Raksanagara di sela peringatan Hari Tanpa Tembakau di Alun-alun Kota Bandung, Senin (31/5/2021).

Nah, aturan ini secara enggak langsung diadaptasi di Bandung melalui Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2021 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Dengan aturan ini, merokok enggak bisa lagi sembarangan. Aturan ini mempertegas aturan yang sebelumnya diterbitkan melalui Peraturan Wali Kota (Perwal).



Baca Ini Juga Yuk: Fakta Komodo yang Sering Disangka Turunan Dinosaurus

Total, ada delapan kawasan yang harus menjadi KTR alias tak boleh ada asap rokok. Rinciannya adalah fasilitas layanan kesehatan, tempat proses belajar-mengajar, tempat bermain anak, tempat ibadah, transportasi umum, tempat kerja, tempat umum, dan tempat lain yang ditetapkan dengan keputusan wali kota.

Mereka yang merokok di tempat-tempat di atas bakal dibayangi sanksi. Jika ketahuan, siap-siap harus merogoh kocek Rp500 ribu untuk membayar denda. Ya, sanksi ini enggak sebesar sanksi di Singapura. Namun, dengan denda ini, perokok diharapkan 'minder' untuk merokok di sana. Sebab, enggak ada yang mau Rp500 ribu melayang gara-gara menghisap rokok, kan?

Warga Boleh Melapor
Ada perokok yang berpikir mau sembunyi-sembunyi 'ngebul'? Jangan coba-coba, ya! Sebab, warga bisa melaporkan orang yang merokok di tempat terlarang tersebut. Jadi, meski enggak ketahuan langsung oleh petugas, perokok yang ngeyel bisa dilaporkan orang lain.

Saluran untuk pelaporan pun banyal pilihannya, loh. Mulai dari Call Center 112, laman www.lapor.go.id, SMS 1708 dengan format: BDG (spasi) isi aduan, serta Twitter dengan menyertakan tagar #LaporBDG.

Achyani pun mengajak warga untuk aktif melaporkan orang yang merokok di tempat terlarang, termasuk melapor jika tempat-tempat tersebut tidak menjadi KTR. Sehingga, menghadirkan udara yang bersih dan yang bukan perokok terlindungi dari paparan asap rokok diharapkan bakal terwujud.

Jadi, hindari berpikir jika aturan ini dibuat untuk mengumpulkan pundi-pundi uang agar masuk ke kas daerah, ya. Aturan ini perlu dimaknai dibuat untuk kesehatan bersama.

"Mohon bantu kami. Ini arahnya untuk kesehatan kita semua," ajak Achyani.

Dibentuk Satgas KTR
Selain pengawasan langsung dan pelaporan oleh warga, aturan untuk menjalankan KTR ini bakal diawasi dan ditindak oleh Satuan Tugas (Satgas) KTR. Nantinya, masing-masing pihak di tempat yang dilarang merokok wajib membentuk Satgas KTR.

Satgas inilah yang bakal jadi pengawas sekaligus menindak para pelanggar. Sehingga, dengan hadirnya satgas, aturan yang ada diharapkan bakal berjalan efektif.

Esensi Hari Tanpa Tembakau
Nah, ada yang tahu enggak jika 31 Mei 2021 ini diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau? Setiap tahun, acara ini diperingati di berbagai negara, loh.

Di Kota Bandung, acara ini diperingati dengan kegiatan diskusi di Pendopo Kota Bandung. Kegiatan kemudian ditutup dengan memasang plang KTR di kawasan Alun-alun Bandung.

Melalui plang ini, dicantumkan bahwa di kawasan tersebut dilarang merokok dan bakal disanksi Rp500 ribu. Tempat-tempat lain yang dilarang jadi area merokok juga dijelaskan di sana.

Ada juga tulisan dan gambar dampak merokok yang diharapkan bikin perokok pelan-pelan mau meninggalkan kebiasaannya. Pada bagian bawahnya terdapat tagar #LeuwihHadeTeuNgarokok yang berarti lebih baik tidak merokok.

Nantinya, plang itu juga bakal dihadirkan di berbagai tempat lain, khususnya di lokasi yang harus menjadi KTR. Tujuannya biar orang-orang tahu bahwa di Bandung ada larangan merokok ala Singapura.

Diskusi dan pemasangan plang ini memang dilakukan untuk memperingati Hari Tanpa Tembakau. Namun, ada esensi yang diharapkan pelajarannya bisa dipetik publik.

Warga diharapkan semakin sadar akan bahaya tembakau. Sehingga, diharapkan semakin yang berkurang menghisap asap tembakau. Kalaupun ada yang keukeuh alias ngotot ingin merokok, setidaknya merokoklah di tempat yang tidak akan merugikan orang lain, terutama yang tidak merokok.

"Setiap tanghal 31 Mei (peringatan Hari Tanpa Tembakau) di seluruh dunia mengingatkan bahwa da dampak bila tembakau itu dikonsumsi kepada kesehatan. Makanya yang menginisiasi ini adalah WHO," tutur Achyani.

Untuk tahun ini, tema peringatan Hari Tanpa Tembakau yang diangkat adalah 'Berhenti dari Rokok Apapun'. "Jadi, saya kira bahwa Hari Tanpa Tembakau ini diperingati agar seluruh masyarakat memahami dan lebih aware tentang bahaya tembakau," tandasnya.

Foto: 
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler