Menyelami Perasaan Guru saat Bisa Melihat Siswa Lagi

Bandung - Setelah setahun lebih tak bertemu, rasa gembira membuncah dalam benak guru ketika bisa melihat kembali siswa kembali ke sekolah. Suasana ini terasa di kawasan sekolah Santo Yusup di Jalan Jawa, Kota Bandung, Senin (7/6/2021).

Di sini, sekolahnya tak hanya satu, melainkan dari mulai tingkat PAUD hingga SMP. Hari ini pun cukup istimewa karena ada siswa di sekolah di tengah simulasi PTM. Memang hanya ada beberapa siswa saja, bahkan ada yang satu kelas berisi tiga siswa, tapi hal ini cukup membahagiakan.

Sebab, selama lebih dari setahun, tidak ada kegiatan pembelajaran di sekolah. Semua dilakukan daring demi meminimalisir penularan dan penyebaran COVID-19. Alhasil, suasana di sekolah terasa hampa karena tak ada riuh suara dan kemeriahan para siswa.

Namun, hari ini, suasana terasa lebih hangat dengan kehadiran siswa. Sehingga, guru tak hanya mengajar daring. Mengajar daring tetap dilakukan dan berada di depan layar komputer jinjing. Di saat yang sama, di dalam kelas ada siswa yang belajar tatap muka.

Jarak antara siswa cukup berjauhan, memakai masker, dan face shield alias pelindung wajah. Di banyak titik juga terdapat hand sanitizer dan tempat cuci tangan. Jalur masuk dan keluar sekolah juga diatur. Bahkan, sejak memasuki area sekolah, siswa wajib mencuci tangan, dicek suhu tubuh, dan memasuki lorong disinfeksi agar seluruh tubuhnya disterilkan.

Inggrid Louise, salah seorang guru di sana, mengaku bahagia bisa kembali melihat siswa bersekolah. Sehingga, suasana di sekolah tak lagi terlalu sepi seperti sebelumnya. Rasa kangen bertemu para siswa pun terobati.

Baca Ini Juga Yuk: Pesan Penting Bagi Guru yang akan Kembali Mengajar Tatap Muka

Namun, di saat yang sama, ada kesedihan dalam Inggrid. Sebab, ada hal berbeda yang dilakukan, baik oleh siswa, guru, maupun para pegawai sekolah. Tak ada interaksi fisik seperti salaman atau pelukan yang biasa dilakukan. Hal-hal sederhana tapi bermakna itu terhalang protokol kesehatan.

Hal ini tak hanya berlaku selama simulasi saja, tapi juga bakal diterapkan jika nantinya sekolah tatap muka benar-benar dijalankan. Ini tentu jadi hal yang tak diinginkan, tapi tentu harus diterima dan dilakukan demi kesehatan serta keselamatan bersama.

"Perasaannya, sedih, karena biasanya kita bisa meluk (siswa)," ujar Inggrid.

Di sini, menurutnya antara siswa, guru, dan seluruh elemen di sekolah terbangun kekeluargaan serta kedekatan yang baik. Sehingga, interaksi fisik kerap dilakukan, terutama terhadap siswa dari sekolah 'kecil'.

Sehingga, ketika tak boleh berinteraksi fisik, perasaan yang ada berbeda. Sebab, kebiasaan yang selama ini dilakukan justru jadi hal terlarang. "Walaupun nanti sekolah tatap muka benar-benar diberlakukan, kita enggak boleh menyentuh siswa," ucapnya.

Kepala TK Santo Yusup Risnauli Pandjaitan juga mengungkap rasa senang sekaligus sedihnya. Namun, ia bersyukur karena hari ini bisa melihat kembali aktivitas siswa di sekolah. Hal ini cukup mengobati kerinduan besar terhadap suasana sekolah.

"Saya sendiri kangen pastinya (dengan suasana sekolah sebelum pandemi). Kangen sama suara anak-anak, kangen suara panggilan 'miss, miss', kangen semuanya," tutur Risnauli.

Bagi Risnauli, meski tak bertugas mengajar, ia kerap berinteraksi dengan para siswa. Ia pun terbiasa dengan kemeriahan suara khas anak-anak dan tingkah uniknya. Namun, sejak setahun lebih terakhir, hal itu tak pernah lagi dirasakannya karena kegiatan sekolah dilakukan daring.

Hari ini, meski yang mengikuti simulasi hanya siswa SD dan SMP, hal itu cukup mengobati kerinduannya. Sebab, siswa SD dan SMP itu masih berada di area sekolah yang sama dengan TK. Sehingga, suasana sekolah dirasa lebih hangat.

Secara umum, simulasi ini dilakukan untuk menyambut rencana pembelajaran tatap muka terbatas (PTMP). Di sana pun sudah siap menggelar PTMP, termasuk untuk sekolah tingkat TK. Selain penerapan protokol kesehatan, ada berbagai hal khusus yang dilakukan. Misalnya menghindari permainan yang dilakukan bersama hingga tak ada alat yang dipakai giliran.

PTPM Tergantung Situasi
Simulasi PTMP di Santo Yusup ini ditinjau langsung Sekda Kota Bandung Ema Sumarna. Ia ingin melihat kesiapan sekolah dalam menghadapi PTM, terutama dalam penerapan protokol kesehatan dan teknis kegiatannya.

Sekolah lain menurutnya juga dipantau secara bersamaan oleh petugas dari Dinas Pendidikan Kota Bandung. Hasil dari pemantauan terhadap sekolah-sekolah di Bandung itu nantinya akan dilaporkan kepada Wali Kota Bandung. Setelah semua laporan terkumpul, baru akan diputuskan apakah Kota Bandung akan menggelar PTMT atau tidak.

Di tengah meningkatnya kasus COVID-19 di Bandung, PTMT ini pun jadi bahan pertimbangan apakah akan benar-benar berlanjut atau simulasi saja. Sebab, pemerintah tak mau mengimbil risiko.

"Nanti kebijakannya ada di pimpinan. Bisa saja PTMT ini ditunda atau tidak. Kalau (kasus COVID-19 di Bandung) meningkat, saya akan usulkan kepada pimpinan untuk ditunda. Karena kita sudah sepakat keselamatan dan kesehatan bersama jauh lebih penting. Toh, tidak dilaksanakan PTMT pun kegiatan belajar mengajar tetap bisa berjalan seperti terus," tutur Ema.

Sementara jika PTMT ini akan berlanjut, ada beberapa hal yang peru diperhatikan dan dijalankan, baik oleh pihak sekolah maupun siswa. Selain penerapan protokol kesehatan, salah satu yang terpenting adalah siswa disarankan membawa bekal makan dan minum sendiri. Sebab, kantin sekolah tidak diperbolehkan buka.

Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler