Mau Jadi Paleontolog? Simak Fakta Menarik Ini Biar Enggak Kaget

Bandung - TemanBaik, pernah membayangkan enggak jadi seorang paleontolog alias ahli paleontologi? Profesi ini kerap dianggap keren. Apalagi setelah ada beberapa film yang mengangkat aktivitas paleontolog.

Salah satu film yang membuat profesi paleontolog diminati adalah 'Jurassic Park'. Setelah itu, muncul beberapa film lain yang mengangkat profesi paleontolog. Alhasil, profesi ini makin banyak diminati.

Namun, memandang paleontolog sebagai profesi keren aja enggak cukup, loh! Sehingga, jika ingin jadi paleontolog, kamu harus memikirkannya dengan matang sejak awal. Dengan begitu, kamu enggak akan merasa salah jurusan atau terjebak di 'dunia lain' yang sebenarnya bukan minatmu.



Nah, biar enggak gagal paham, ada beberapa hal yang perlu kamu tahu sebelum memutuskan meniti jalur menjadi paleontolog. Apa saja? Simak ulasannya, yuk!
1. Memahami Tugasnya
Paleontologi kerap dianggap sama dengan arkeologi. Padahal, ini merupakan dua keilmuan yang berbeda satu sama lain. Mau tahu bedanya?

Paleontologi lebih fokus pada penelitian seputar alam di masa lampau. Di dalamnya mulai dari mempelajari flora, fauna, serta berbagai aspek kehidupan sebelum adanya manusia. Sementara arkeologi lebih fokus mempelajari manusia dan produk ciptaannya.

Masih belum paham? Singkatnya, dinosaurus dan hewan purba lainnya, hingga tanaman purba, ini diteliti paleontolog. Sedangkan sejak adanya manusia purba dan produk ciptaannya, itu diteliti 
Dalam paleontologi, yang diteliti lebih berfokus pada alam di masa lampau, terutama flora, fauna, serta berbagai aspek kehidupan sebelum kehadiran manusia. Sedangkan sejak adanya manusia purba dan produk yang dihasilkannya, misalnya artefak, merupakan ranah penelitian para arkeolog.

Namun, ada bagian juga dimana paleontolog dan arkeolog bekerja sama. Misalnya ketika meneliti manusia purba. Paleontolog meneliti bagaimana manusia purba itu terfosilkan hingga bagaimana kehidupannya di masa lampau. Sedangkan arkeolog meneliti berbagai hal yang terkait dengan fosil manusia purba itu, misalnya peralatan berburu hingga cara mereka hidup.

2. Siap Tempur di Lapangan
Ini jadi hal penting yang perlu kamu ketahui. Jangan membayangkan paleontolog lebih banyak menghabiskan waktunya bekerja di ruangan. Justru, mereka banyak menghabiskan waktu di luar ruangan.

Paleontolog kerap pergi ke alam terbuka. Sebab, area penelitiannya memang seperti itu. Jadi, jangan kaget jika kamu harus tidur di alam terbuka, sulit mencari makanan, serta hal kurang menyenangkan lainnya.

Meski begitu, tentu enggak melulu paleontolog kerja di lapangan terus. Ada kalanya mereka juga bekerja di dalam ruangan untuk sebuah penelitian. Namun, tentu kamu harus lebih siap untuk tempur di lapangan karena jauh lebih banyak tantangannya ketimbang di alam ruangan.

"Cukup banyak sekali hal di luar teori ya kalau kita di lapangan. Intinya sih kita enggak bisa terlalu mengandalkan fasilitas kalau sudah jadi orang lapangan. Istilahnya enggak boleh manja, apalagi di daerah (penelitian) itu susah, fasilitasnya terbatas. Kalau misalnya minatnya bukan di situ (jadi paleontolog), biasanya akan repot sendiri," ucap Unggul.

3. Jauh dari Keluarga
Salah satu konsekuensi dari pekerjaan paleontolog adalah jauh dari keluarga, terutama saat melakukan penelitian. Hal ini bisa berlangsung berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Seperti yang dialami paleontolog Museum Geologi Unggul Prasetyo misalnya, ia sudah khatam betul rasanya jauh dari keluarga.

Untuk penelitian yang sudah sering dilakukan seperti di Flores misalnya, waktu penelitiannya biasanya berkisar sekitar satu bulan. Sedangkan untuk daerah yang 'baru', biasanya ada waktunya lebih singkat.

"Paling minimal itu dua minggu (untuk penelitian di daerah 'baru') untuk mengecek area. Tapi, kalau ditindaklanjuti, bisa lebih lama lagi (waktu penelitiannya)," kata Unggul.

4. Sulit Menghubungi Keluarga
Ini jadi bagian yang harus kamu bayangkan sebelum memutuskan jadi paleontolog. Bayangkan kamu berada di dalam hutan untuk sebuah penelitian dan tak ada sinyal untuk menghubungi keluarga selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

Sanggup enggak menahan rasa rindu tak bertemu dengan mereka, termasuk tak bisa berkomunikasi dengan menggunakan ponsel? Unggul dan rekan-rekan sesama paleontolog sudah kenyang betul akan pengalaman ini.

"Pekerjaan kayak gini kadang susah ketemu istri, ketemu keluarga. Tapi itu jadi tantangan tersendiri," tutur Unggul.

Ia cukup sering bertugas ke dalam hutan yang belum terjamah jaringan telekomunikasi. Bahkan, kadang telepon satelit pun menjadi tak berguna ketika lokasi kerja benar-benar 'tersembunyi'.

Unggul sendiri biasanya melakukan penjadwalan untuk berkomunikasi ketika menjalankan tugas. Biasanya, sepekan sekali akan ada perwakilan dari tim paleontolog untuk mencari lokasi yang bisa melaporkan berbagai hasil penelitian melalui ponsel. Sesekali, kegiatan ini juga dilakukan untuk menghubungi keluarga.

"Kita ngakalinnya ada penjadwalan untuk nyari sinyal. Misalnya dalam empat minggu tugas, seminggu sekali kita perwakilan ada yang ke daerah yang ada sinyal, bawa hanphone. Jadi ada sesi juga buat (menghubungi) keluarga," jelasnya.

Terbayang enggak TemanBaik seperti apa rasanya punya ponsel tapi tak bisa dipakai menghubungi keluarga tercinta? Hal ini harus kamu hadapi jika jadi paleontolog.

5. Mental dan Cinta
Hal terpenting dari berbagai ulasan di atas adalah mental. Sebab, menjadi paleontolog membutuhkan mental yang kuat, terutama saat bekerja di lapangan. Selain itu, paleontolog adalah profesi yang sebaiknya dijalani dengan cinta. Sehingga, berbagai kendala dan kesulitan yang dihadapi bakal teratasi jika rasa cintamu pada profesi ini besar.

Oleh karena itu, ia menyarankan agar mereka yang ingin menjadi paleontolog mengetahui berbagai hal tentang dunia paleontologi sebelum meniti prosesnya. Sehingga, saat terjun jadi paleontolog, kamu enggak terlalu kaget dengan berbagai hal yang ada.

"Yang perlu disiapin, baca-baca dulu (seputar dunia paleontologi). Takutnya ngerasa salah jurusan. Nanti kalau sudah terperangkap (merasa salah jurusan), repot," pungkas Unggul.

Foto: Djuli Pamungkas/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler