Cerita dari Simulasi Sekolah Tatap Muka di SLB

Bandung - TemanBaik, saat ini banyak sekolah di Indonesia melaksanakan simulasi pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT). Hal ini juga dilakukan SLBN Cicendo di Kota Bandung.⁣

BeritaBaik.id pun berkunjung ke lokasi pada Kamis (10/6/2021). Ada beberapa cerita menarik dari hasil pantauan ke lokasi. Simak ulasannya, yuk!⁣

Terapkan Protokol Kesehatan⁣
Ini jadi hal wajib yang harus diterapkan saat simulasi PTMT. Di SLBN Cicendo, protokol kesehatan dijalankan dengan ketat. Jalur masuk dan keluar siswa dibuat berbeda.⁣

Sebelum masuk, siswa maupun guru diharuskan dicek suhu oleh petugas. Selanjutnya, mereka akan diarahkan masuk ke area penyemprotan disinfektan dan mencuci tangan.⁣

Masker pun wajib dipakai. Beberapa siswa juga terlihat ada yang memakai face shield alias pelindung wajah. Saat di kelas, jumlah siswa dibatasi dan berjarak. Sentuhan fisik antara guru dan murid juga sangat dihindari.⁣

Kaget dengan Perkembangan Siswa⁣
Hadirnya para siswa dan kegiatan belajar-mengajar di kelas ini jadi pemandangan berbeda di sana. Sebab, selama sekitar 1,5 tahun terakhir, kegiatan sekolah difokuskan secara daring, kecuali saat ujian.⁣

Namun, hari ini siswa dan guru sama-sama hadir di sekolah meski dengan jumlah terbatas. Hal ini memantik kebahagiaan tersendiri bagi para guru maupun siswa.⁣

"Yang pertama saya rasain sih haru ya, karena yang terakhir ketemu tuh masih kecil. Pertumbuhan anak tuh cepat kan, ya, kalau biasanya kita lihat tiap hari, jadi enggak terasa (pertumbuhannya)," kata Adinda Meita Putri, staf Wakasek Kehumasan sekaligus guru.⁣

Perempuan yang akrab Dinda itu juga seorang guru. Kini, ia mendapat tugas mengajar untuk sekolah tingkat SMP LB di bidang mata pelajaran bahasa Inggris dan tata kecantikan.⁣

Saking lamanya tak bertemu siswa, ada hal yang dirasa cukup mengagetkan. "Karena ini di rumah setahun lebih enggak ketemu, pas ketemu tuh (anak-anak) sudah tiba-tiba tinggi. Pas ketemu juga tiba-tiba sudah ada kumisan yang SMP, suaranya jadi berat, dan sebagainya," tuturnya.⁣

Baca Ini Juga Yuk: Menyelami Perasaan Guru saat Bisa Melihat Siswa Lagi⁣
⁣⁣
Kehilangan Pelukan⁣
Meski senang, ada rasa 'hambar' yang dirasakan Dinda dan guru-guru lain di sana, termasuk siswa. Sebab, kedekatan antara guru dan siswa di sini sangat erat. Pelukan pun jadi hal yang biasa di antara mereka.⁣

Namun, ketika bisa bertemu, pelukan itu terpaksa hilang. Hal ini juga dialami Dinda. Ia pun hanya bisa menahannya. Setidaknya, bisa bersua dan berkomunikasi saja dirasa cukup memberi kebahagiaan serta mengobati rasa kangennya.⁣

"Tadi juga saya pengen meluk. Cuma tetap harus jaga jarak. Selain itu, saya juga enggak boleh egois, dengan saya menjaga diri, saya juga menjaga anak-anak. Kuncinya harus pintar-pintar sebagai guru memberikan contoh," tuturnya.⁣

Tantangan Mengajar Tatap Muka⁣
Bagi guru yang mengajar di sekolah dengan siswa tunarungu alias teman Tuli, tantangannya jauh lebih besar. Sebab, antara guru dan siswa komunikasinya mengandalkan bahasa isyarat. Tak hanya itu, bahasa isyarat juga harus dibarengi dengan gerakan bibir.⁣

"Kunci komunikasi dengan anak tunarungu itu (selain bahasa isyarat adalah) keterarahan wajah, artikulasi yang jelas (dari gerakan bibir)," jelas Dinda.⁣

Namun, hal ini jadi kendala tersendiri. Sebab, guru maupun siswa wajib memakai masker. Sehingga, gerakan bibir otomatis akan terhalang. Bahkan, penggunaan masker transparan pun kurang efektif karena berembun dan akhirnya menutupi area sekitar mulut penggunanya.⁣

Saat ini, pihak SLB Cicendo pun terus mencari cara agar bisa mengajar dan berkomunikasi secara efektif. Meski area mulut tertutup masker, komunikasi yang dilakukan diharapkan tidak terhambat.⁣
"Ini masih jadi tantangan buat kita dimana kita guru-guru di SLBN Cicendo untuk memodifikasi masker yang memang nyaman dipakai, tapi tidak menghambat komunikasi untuk pembelajaran," paapr Dinda.⁣

Sulitnya Mengajar Kelas 'Kecil'⁣
Simulasi PTMT di SLBN Cicendo sendiri berlangsung apda 7-11 Juni 2021 secara bertahap. Pada 7 Juni lalu, simulasi dilakukan untul siswa tingkat SMA LB. Hari ini, simulasi berlaku untul siswa tingkat SMP LB dan SD kelas 4-6. Sedangkan sisanya yang merupakan kelas 'kecil' akan melakukan simulasi pada 11 Juni 2021.⁣

Simulasi yang sudah dan sedang dilakukan pun sudah atas persetujuan orang tua. Sebab, sosialisasi sudah dilakukan kepada para orang tua. Mereka juga sempat diminta mengisi kuesioner dan mayoritas setuju mengikuti PTMT.⁣

Siswa yang mengikuti simulasi PTMT pun diwajibkan membawa surat persetujuan dari orang tua. Sedangkan siswa yang tak diizinkan orang tuanya tidal dipaksa datang ke sekolah. Mereka tetap bisa belajar, hanya saja secara daring.⁣

Sementara untuk menambah rasa tenang, seluruh guru di sana sudah menjalani vaksinasi COVID-19 tahap pertama dan kedua. Meski vaksinasi tak menjamin terpapar COVID-19, langkah ini diharapkan membuat para guru lebih terlindungi.⁣

Sedangkan khusus bagi siswa kelas 'kecil', simulasi sengaja digelar paling akhir. Untuk mematangkan rencana itu, pihak sekolah hari ini melakukan pertemuan dengan orang tua siswa. Sebab, mengajar siswa kelas 'kecil' tak semudah mengajar siswa yang lebih besar.⁣

"Kalau kelas kecil itu sulit menghindari sentuhan fisik," ucap Dinda.⁣

Tak hanya antara guru dan siswa, sentuhan fisik di antara sesama siswa juga cukup sulit dihindari. Ya, namanya juga anak kecil. Membuat mereka patuh pada protokol kesehatan akan lebih sulit ketimbang anak-anak yang sudah lebih dewasa atau remaja.⁣

Salah satu solusi yang akan dibahas adalah bagaimana meminimalisir sentuhan fisik, tapi membuat pembelajaran tetap efektif. Bisa juga sentuhan fisik dilakukan, tapi masing-masing harus menggunakan sarung tangan.⁣

"Ada wacana seperti itu (menggunakan sarung tangan), tapi kita rumuskan hari ini (bersama orang tua siswa)," ucap Dinda.⁣

Foto: Oris Riswan/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler