Ini 5 Pejuang Perempuan dalam Mata Uang Rupiah

Bandung - TemanBaik, ada belasan sosok perempuan yang menyandang status sebagai Pahlawan Nasional di Indonesia. Namun, tahu enggak jika lima orang di antaranya sempat diabadikan dalam mata uang rupiah?

Para  pahlawan perempuan ini berjuang di bidang masing-masing. Ada yang berjuang lewat tulisan, pendidikan, hingga terjun langsung di medan pertempuran. Simak ulasannya, yuk!

1. R.A. Kartini
Dilansir dari laman Bank Indonesia, Kartini jadi perempuan bergelar pahlawan pertama yang sosoknya diabadikan dalam mata uang Indonesia. Wajahnya muncul pada uang pecahan Rp5 pada 1953. Uang tersebut merupakan uang rupiah seri tokoh dan kebudayaan, seri uang yang pertama kali dicetak oleh Bank Indonesia (BI).

Uang ini sebenarnya telah disiapkan sejak 1952. Saat itu, Bank Indonesia (BI) sedang mempersiapkan kelahirannya setelah menasionalisasi De Javasche Bank (DJB) pada 1951.

Namun, karena Undang-Undang tentang BI baru lahir pada 1953, maka uang kertas emisi 1952 tersebut baru resmi dikeluarkan pada 2 Juli 1953. Gambar Kartini kembali muncul di bagian depan uang kertas nominal Rp10.000 emisi 1985.

2. Martha Christina Tiahahu
Beliau adalah sosok pahlawan yang berasal dari Maluku. Ia merupakan pemimpin perang saat Maluku melawan penjajah kolonial Hindia-Belanda.

Martha kemudian ditangkap pihak penjajah hingga akhirnya meninggal dalam perjalanan menuju Pulau Jawa pada 2 Januari 1818. Mirisnya, jasad Martha dibuang ke laut Banda.
Aksi heroik Martha dalam menentang, bahkan berani bertempur melawan penjajah ini, sangat melekat bagi rakyat Maluku. Pemerintah Maluku bahkan membuat monumen untuk mengenang jasa besar Martha.

Sebagai bentuk penghargaan, Bank Indonesia pun sempat mengabadikan sosok Marta pada mata uang nominal Rp5.000 emisi 1985 sebagai watermark alias tanda air.

3. Raden Dewi Sartika
Beliau adalah sosok pejuang perintis pendidikan, khususnya bagi kaum perempuan di zaman kolonial Hindia-Belanda di Bandung. Salah satu perjuangannya adalah menghadirkan Sakola Istri pada 16 Januari 1904. Sakola Istri ini pun masih ada sampai sekarang dikenal dengan sebutan Sekolah Dewi Sartika.

Di zamannya, Dewi Sartika juga bisa dibilang sebagai pelopor emansipasi. Ia memperjuangkan agar kaum perempuan bisa mendapat kesetaraan dengan laki-laki, terutama dalam sisi pendidikan.

Sosok Dewi Sartika pun sangat dihormati di Bandung. Namanya bahkan diabadikan menjadi nama jalan. Sedangkan Bank Indonesia menghadirkan sosok Dewi Sartika pada mata yang nominal Rp5.000 emisi 1982 sebagai tanda air.


                                                                                     Foto: dok. Istimewa

4. Tjut Njak Din
Tjut Njak Din atau sering juga ditulis Cut Nyak Dien adalah tokoh pejuang perempuan asal Aceh. Sosoknya sangat ditakuti Belanda karena beliau punya kemampuan mengobarkan semangat rakyat dalam melawan penjajahan.

Ia beberapa kali memimpin perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda. Beliau jadi perempuan yang istimewa berkat keberaniannya berperang. Cut Nyak Dien sendiri meninggal di Sumedang saat masa pengasingan oleh penjajah dan akhirnya dimakamkan di sana.

Sebagai bentuk penghargaan, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada Cut Nyak Dien. Namanya bahkan diabadikan menjadi mama bandara di Meulaboh, Aceh.

Wajah Cut Nyak Dien pun dihadirkan sekali dalam mata uang nominal Rp10.000 pada 1998. Wajahnya terpampang pada bagian depan uang kertas tersebut.

5. Tjut Meutia
Tjut Meutia atau Cut Meutia juga adalah pejuang asal Aceh yang dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional. Ia gigih berjuang dan bertempur melawan penjajah. Namun, pada 24 Oktober 1910, Tjut Meutia gugur di medan pertempuran

Bank Indonesia pun sempat menghadirkan sosok Tjut Meutia pada mata uang rupiah yang dikeluarlan. Pertama kali, sosok Tjut Meutia hadir pada emisi 1992 dalam nominal Rp1.000 dan Rp5.000 sebagai tanda air.

Selanjutnya, Tjut Meutia muncul lagi sebagai tanda air dalam nominal yang sama pada tahun 2000, 2001, dan 2016. Baru pada 2016, wajahnya muncul sebagai gambar depan uang kertas nominal Rp1.000.

by dok. Bank indonesia

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler