Perlunya Memandang Disabilitas dari Sudut Berbeda

Bandung - TemanBaik, menciptakan lingkungan inklusif bagi teman disabilitas adalah tugas setiap orang. Keberadaan dan kesempatan mengakses pekerjaan hingga pendidikan layak perlu disetarakan dengan orang lain pada umumnya.

Hingga kini, masih banyak permasalahan yang dihadapi teman disabilitas dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Mulai dari melawan stigma dan tabu, sulit mendapat pendidikan formal, pelatihan yang justru mempersempit peluang disabilitas untuk berkembang, peraturan yang tidak diimplementasikan maksimal, hingga kondisi pandemi.

Di sisi lain, keberadaan media massa saat ini sangat berpeluang membantu teman disabilitas. Media massa melalui pemberitaan yang dibuatnya dapat membantu mewujudkan lingkungan inklusif bagi teman disabilitas.

Untuk membahas lebih jauh soal media dan disabilitas ini, Himpunan Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad bekerja sama dengan jaringan kerja disabilitas DNetwork menggelar 'Dialog Asik #3: Media dan Penyandang Disabilitas di Indonesia'. Lewat kegiatan ini dipaparkan pentingnya mengubah cara pandang terhadap disabilitas, baik oleh media maupun masyarakat umum.

Sebenarnya, sudah ada peraturan resmi yang mengatur media dan disabilitas. Misalnya panduan peliputan disabilitas di Indonesia dari Dewan Pers dan ILO. Lalu, yang terbaru adalah Peraturan Dewan Pers Nomor 01/Peraturan DP/II/2021 tentang pedoman pemberitaan disabilitas. Namun di luar itu, ada beberapa hal yang perlu dilakukan masyarakat, termasuk pekerja media, agar peraturan itu bisa diimplementasikan lebih baik.

Baca Ini Juga Yuk: CidCo Bandung, Ajak Teman Disabilitas untuk Terus Berkarya

Menurut Project Manager DNetwork Indonesia Hani Fauzia, perlu dilakukan pendekatan berbasis hak terhadap penyandang disabilitas pada masyarakat. Ini bertujuan untuk memberdayakan dan memastikan disabilitas berpartisipasi aktif dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan budaya.

"Perlu membuat pandangan terhadap disabilitas dengan sosial model. Keterbatasan yang dimiliki itu bukan kekurangan, melainkan kekuatan. Untuk itu, perlu perubahan dari masyarakat untuk cara pandang, cara berinteraksi, hingga bagaimana media merepresentasikan disabilitas," ujar Hani.

Selain itu, media perlu lebih aktif menyuarakan isu penting penyandang disabilitas. Seperti isu kebijakan, aksesibilitas, kesenjangan, dan diskriminasi yang terjadi pada teman disabilitas. Sebab, ada lebih dari 20 juta penduduk Indonesia yang merupakan penyandang disabilitas. Sehingga, akan sangat disayangkan jika isu-isu tersebut tidak disuarakan.

'Nothing about us without us' juga dapat diterapkan dalam peliputan media. Hani mengartikan hal ini sebagai melibatkan penyandang disabilitas dalam peliputan dengan meminta pandangan dari mereka sesuai bidang yang mereka kuasai.

"Kenali juga teman disabilitas karena kita enggak akan tahu isu apa yang sedang mereka perjuangkan kalau enggak terjun langsung. Pelajari juga bagaimana cara berinteraksi, kadang ini menjadi hambatan karena perasaan canggung dan cenderung takut menyinggung," jelas Hani.

Hani juga memberikan empat catatan penting untuk masyarakat, termasuk pekerja media dalam menciptakan lingkungan inklusif bagi teman disabilitas nih. Apa saja?

Pertama, ability before disability. Menurut Hani sebaiknya fokus liputan terhadap teman disabilitas tidak perlu pada sisi disabilitasnya, melainkan pada siapa orangnya, apa inspirasi dan prestasinya, dan sebagainya.

"Dalam dunia kerja juga kan yang penting itu apa yang bisa kita lakukan, bukan apa yang tidak bisa kita lakukan. Jadi, tidak perlu terlalu banyak menjelaskan disabilitasnya atau ketidakbisaan dia apa. Nanti jadi hilang fokusnya," kata Hani.

Kedua, diskusi sebelum berasumsi. Jika kita meragukan atau penasaran akan suatu hal terkait pengetahuan seputar penyandang disabilitas, cara terbaik yang bisa dilakukan adalah melakukan diskusi. TemanBaik boleh kok mengonfirmasi kebenaran atas suatu hal kepada teman disabilitas. Jangan sampai hanya sibuk berasumsi, ya!

Ketiga, aksesibilitas. Kita bisa mulai dari memanfaatkan apa yang tersedia dan mudah untuk dilakukan. Hani mencontohkan, saat ingin melakukan wawancara dengan teman Tuli, tapi kamu tidak bisa menggunakan bahasa isyarat, kita bisa melakukan wawancara via pesan teks.

Baca Ini Juga Yuk: Cerita Arina & Antoni Lawan Stigma Disabilitas Lewat Profesi

Keempat, respek atau menghormati satu sama lain. Salah satunya adalah dengan mengetahui penyebutan yang nyaman untuk teman disabilitas dan bagaimana cara berinteraksi yang sopan dengan mereka.

"Penyebutan ini sebenarnya masih menimbulkan banyak perdebatan. Tapi fokus aja ke bagaimana teman disabilitas yang kita temui ini ingin dipanggil dan hormati itu," ucap Hani.

Beberapa kata yang perlu TemanBaik ketahui adalah soal penggunaan kata penyandang disabilitas, non disabilitas, Tuli dengan penggunaan T kapital untuk menunjukan identitas Teman Tuli, disabilitas netra, disabilitas fisik, disabilitas intelektual, dan ODGJ.

"Tapi ada juga teman Tuli yang maunya disebut tunarungu. Hormati saja dan boleh konfirmasi saja kepada dengan siapa kita berinteraksi soal pemanggilan itu," tambah Hani.

Pandangan Teman Disabilitas
Project Officer DNetwork Indonesia sekaligus teman disabilitas netra Kadek Agus Weda pun membagi pandangannya soal peranan media dan disabilitas ini, termasuk peran masyarakat dalam menciptakan inklusivitas. Ia berharap isu bagaimana disabilitas bekerja hingga kampus dan lapangan kerja yang inklusif bisa lebih banyak diberitakan. Ini bertujuan agar masyarakat lebih tahu penyandang disabilitas.

"Pemberitaan soal disabilitas diharapkan dapat menguatkan dan membantu menyosialisasikan isu disabilitas. Isi berita yang menunjukkan bahwa disabilitas bisa mandiri, cerita teman disabilitas yang sudah bekerja, bahkan menempuh pendidikan," ujar Kadek.

Selain itu, menurutnya pemberitaan soal disabilitas juga diharapkan dapat membantu agar lebih membuka pandangan masyarakat, termasuk para pemilik lapangan kerja. "Pemilik lapangan kerja bisa mendapat gambaran soal bagaimana disabilitas dapat bekerja. Sehingga, lapangan pekerjaan untuk disabilitas lebih terbuka," tambah Kadek.

Selain itu, jika bicara soal interaksi dengan teman disabilitas, Kadek menyarankan untuk memulainya dari menghindari pemikiran soal disabilitas yang lemah dan tidak tahu apa-apa. Bagi Kadek, teman disabilitas tetap mampu menangkap informasi yang ada, tapi dengan cara yang berbeda.

Kadek mengatakan, sebenarnya tidak perlu ada rasa canggung saat berinteraksi dengan teman disabilitas. Sebab, pemikiran soal teman disabilitas yang cepat tersinggung itu tidak benar.

"Lalu, bisa dengan belajar dari Youtube soal edukasi dari teman disabilitas, juga ikut menjadi relawan di komunitas disabilitas. Tapi, yang terpenting dimulai dari pola pikir dulu," ujar Kadek.

Nah, TemanBaik, ternyata peluang kita mengambil bagian dalam menciptakan lingkungan inklusif bagi Teman Disabilitas sangat besar, ya. Jadi, yuk mulai dari apa yang bisa kita lakukan!


Ilustrasi: Unsplash/Rasmus Gerdin


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler