Data & Fakta Vaksin Moderna yang Baru Tiba di Indonesia

Bandung - TemanBaik, vaksin COVID-19 yang sedang digencarkan di Indonesia akan bertambah. Sebab, ada vaksin Moderna yang akan datang dengan jumlah 4 juta dosis.

Nah, di antara kamu mungkin belum tahu apa itu vaksin Moderna yang merupakan bantuan dari Amerika Serikat melalui kerja sama multilateral ini. Yuk, simak data dan fakta dari vaksin Moderna ini!

Jadi Vaksin Kelima di Indonesia
Vaksin Moderna ini tentu bukan vaksin pertama yang dipakai dalam program vaksinasi COVID-19 di Indonesia. Vaksin ini jadi vaksin kelima yang boleh digunakan di Indonesia setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan emergency use authorization (EuA) alias izin penggunaan darurat.

Terhitung dalam kurun Januari hingga Juni 2021, BPOM sudah menerbitkan EuA untuk vaksin Sinovac, vaksin yang diproduksi Bio Farma dari bulk yang didapatkan dari Sinovac, vaksin AstraZeneca, dan vaksin Sinopharm.

"Kemarin (akhir Juni) kami menambah lagi jenis vaksin COVID-19 yang telah mendapatkan emergency use authorization dari Badan POM, yaitu vaksin Moderna COVID-19 Vaccine," kata Kepala BPOM Penny K. Lukito dalam konferensi persnya, Jumat (2/7/2021).

Vaksin mRNA Pertama di Indonesia
Vaksin Moderna ini berbeda dibanding empat varian vaksin lain yang sudah digunakan sebelumnya di Indonesia. Apa bedanya?

"Vaksin Moderna ini adalah vaksin pertama yang mendapatkan emergency use authorization dari Badan POM yang menggunakan platform mRNA," ucap Penny.

Bagi sebagian orang, mRNA ini tentu bikin mengernyitkan dahi karena terdengar asing? Apa sih bedanya dengan empat vaksin sebelumnya yang digunakan dalam program vaksinasi di Indonesia?

Keempat vaksin sebelumnya menggunakan metode virus yang dilemahkan atau dimatikan. Sedangkan metode mRNA tidak menggunakan virus COVID-19 sebagai 'bahan baku' vaksin.

Dilansir dari laman alodokter.com, vaksin dengan platform mRNA ini menggunakan komponen materi genetik yang direkayasa agar menyerupai kuman atau virus tertentu. Dengan demikian, vaksin ini dapat memicu reaksi kekebalan tubuh layaknya virus dan kuman yang dilemahkan pada vaksin biasa.

Vaksin mRNA diberikan dengan cara disuntikkan ke otot, biasanya di bagian lengan atas. Setelah masuk ke dalam tubuh, mRNA dari vaksin yang ditangkap sel imun akan mengarahkan sel tersebut untuk memproduksi spike protein. Protein ini merupakan protein yang menyusun bagian dari permukaan virus Corona.  



Baca Ini Juga Yuk: Memetik Hikmah dari Ambulans yang Wara-wiri di Jalan

Selanjutnya, setelah sel imunitas tubuh mengenal komponen tersebut, sistem kekebalan tubuh akan menghasilkan antibodi yang spesifik untuk melawan virus Corona. Dengan pemberian vaksin mRNA, diharapkan tubuh akan lebih cepat mendeteksi dan menghancurkan virus Corona saat seseorang terpapar virus tersebut. Sehingga, seseorang itubisa terhindar dari penyakit COVID-19, terutama terhindar dari gejala berat.

Penyimpanan Super Ketat
Nah, karena vaksin Moderna ini merupakan platform mRNA, ada perlakuan berbeda untuk metode penyimpanan dan pendistribusiannya. Tujuannya agar kualitas vaksin tetap terjaga dari proses awal sampai penggunaan. Vaksin dengan metode inactiviy virus saja sudah ketat dan khusus, apalagi mRNA.

Karena perlu perlakuan khusus, saat datang ke Indonesia nanti, yang datang enggak hanya vaksinnya saja, melainkan lengkap dengan sarana penyimpanan dan distribusinya. Jadi, kualitasnya dipastikan bakal tetap terjaga.

"Karena ini diterima melalui (kerja sama multilateral) Covax Facility, mereka akan memberikan vaksin ini bersamaan dengan teknologi penyimpanan dan distribusinya. Tentunya nanti akan memeengaruhi juga target-target lokasi di mana vaksin ini akan diberikan," ungkap Penny.

"Teknologi penyimpanannya adalah minus 20 derajat celcius. Ini memang membutuhkan teknologi penyimpanan khusus. Tapi (vaksin Moderna) ini akan datang bersama teknologi penyimpanan dan distribusinya," tuturnya.

Bagaimana Keamanannya?
Ini jadi pertanyaan banyak pihak. Namun, tenang, vaksin ini sudah teruji keamanannya, kok. Itu kenapa BPOM menerbitkan EuA dan memastikan vaksin Moderna ini boleh dipakai dalam program vaksinasi massal.

Vaksin ini boleh digunakan untuk orang berusia di atas 18 tahun hingga lansia. Dosis yang diberikan adalah 0,5 mili dengan dua kali penyuntikan dalam rentang waktu satu bulan.

"Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan Badan POM dan Tim Ahli Komite Nasional Penialaian Vaksin COVID-19 dan ITAGI, menunjukkan bahwa secara umum keamanan vaksin dapat ditoleransi, baik reaksi lokal maupun sistemik dengan tingkat keparahan grade 1 dan 2 dengan kejadian yang paling sering adalah nyeri di tempat suntikan, kelelahan, sakit kepala, nyeri otot sendi," jelas Penny.

"Kejadian ini umumnya didapatkan setelah penyuntikan kedua dan confirm keamanan umumnya pada usia dewasa di bawah 65 tahun mirip dengan kelompok usia di atas 65. Jadi aman (digunakan lansia)," ujarnya.

Dari sisi efikasi atau khasiat, berdasarkan data uji klinis fase ketiga, vaksin Moderna ini menunjukkan tingkat kekebalan terhadap COVID-19 sebesar 94,1 persen pada kelompok usia 18-65 tahun. Sedangkan pada usia di atas 65 tahun, efikasinya mencapai 86,4 persen.

"Vaksin ini juga memberikan profil keamanan efikasi yang serupa pada kelompok populasi pada komorbid. Jadi, bisa diberikan pada populasi dengan komorbid berdasarkan hasil uji klinis fase ketiga, yaitu individu dengan penyakit paru kronis, jantung, obesitas berat, diabetes, penyakit liver hati dan HIV," papar Penny.

TemanBaik, yuk sukseskan program vaksinasi COVID-19 yang sedang digencarkan pemerintah. Dengan kamu bersedia jadi penerima vaksinasi, ini jadi langkah nyata kamu dalam menciptakan herd immunity alias kekebalan kelompok. Sehingga, mengakhiri pandemi COVID-19 yang sudah melelahkan ini bisa segera terwujud.

Foto: Ilustrasi Pexels/Cottonbro


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler