Masih Kesal dengan PPKM Darurat ? Coba Pahami Hal Ini

Bandung - TemanBaik, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat sudah diberlakukan di Jawa dan Bali sejak 3 Juli hingga 20 Juli 2021. Ya, kebijakan ini memang sudah berlaku sejak 3 Juli, tapi masih ada yang merasa kesal?

Alasannya, mau ngapa-ngapain susah, jalan banyak yang ditutup, mau jajan ke tempat favorit juga mungkin enggak bisa karena terhalang penyekatan. Di luar itu, setiap orang punya keluhan masing-masing yang bikin enggak nyaman.

Namun, mau enggak mau PPKM Darurat ini harus diterima. Kamu juga disarankan patuh terhadap setiap aturan yang dikeluarkan pemerintah. Ya, ini demi kebaikan bersama dalam rangka mencegah lonjakan kasus COVID-19 terus-menerus.

Kenapa sih kita harus lapang dada menerima PPKM Darurat ini, termasuk menaati semua aturannya? Biar paham, simak penjelasannya, yuk!

Pakar kesehatan masyarakat Universitas Padjadjaran (Unpad) Irvan Arfiandi mengatakan lonjakan kasus yang terjadi saat ini dipengaruhi berbagai faktor. Sehingga, tak bisa disalahkan satu faktor begitu saja.

"Tentu hipotesisnya banyak. Beberapa variabel tentu berperan dan kita tidak bisa menyalahkan atau menuding pada satu aspek saja di antara yang bisa kita duga," ujar Irvan.

Hal yang pasti, dari berbagai faktor atau aspek, kelengahan jadi salah satu penguatnya. Sebab, COVID-19 menular dari jarak dekat. Saat seseorang abai atau lengah akan protokol kesehatan, COVID-19 pun hinggap.

"Virus itu tidak mungkin loncat sendiri. Dia itu menyebar karena terjadinya perjalanan. Enggak mungkin seseorang yang diam kemudian virusnya jadi nyebar, enggak seperti demam berdarah (orang) yang sakitnya diam, lalu virusnya nyebar dibawa nyamuk," jelasnya.

"Ini enggak begitu logikanya. Teorinya, penularan terjadi karena ada interaksi dekat tanpa disertai perilaku pencegahan yang memadai," ungkap Irvan.

Akibatnya, lonjakan kasus COVID-19 meningkat drastis dalam beberapa pekan terakhir dan kini PPKM Darurat diberlakukan. Lewat PPKM Darurat ini, pemerintah ingin berusaha mengendalikan kasus COVID-19. Minimal, jumlah kasus COVID-19 tidak terus bertambah dan mereka yang positif tertangani dengan baik.


                                                                          Foto: Ilustrasi/dok. Humas Kota Bandung

Perlu Penanganan Luar Biasa
Irvan mengatakan, kasus COVID-19 yang terjadi saat ini sangat luar biasa. Bahkan, ada banyak rumah sakit yang sudah tidak mampu menerima pasien baru lagi karena keterbatasan sarana dan prasarana.

Di berbagai daerah, tempat isolasi pun disiapkan pemerintah. Tujuannya agar mereka yang terpapar tidak menularkan lagi pada orang lain. Di sisi lain, mereka yang berada di tempat isolasi juga akan lebih 'terawat'.

Bahkan, dari waktu ke waktu, kamu pasti sering banget mendengar ada saudara atau teman meninggal dunia akibat terpapar COVID-19. Siapapun enggak pernah membayangkan jika di Indonesia akan terjadi kondisi seburuk ini. Ya, ini memang kejadian buruk, tapi sudah terjadi dan harus dihadapi.

Baca Ini Juga Yuk: Madu hingga Noken Jadi Kandidat Pernak-pernik PON XX

Sadar enggak sih kondisi ini bisa dikatakan luar biasa jika berkaca dari kasus yang ada? Untuk menangani kasus luar biasa ini, tentunya penanganan yang dilakukan juga harus luar biasa, salah satunya memberlakukan PPKM Darurat.

"Saya menyebutnya sudah luar biasa karena yang dulu, tahun lalu, enggak seperti ini polanya (kejadiannya). Maka, penanganannya harus luar biasa. Kalau situasi luar biasa ditangani biasa, hasilnya biasa saja," jelas Irvan.

Namun, penanganan luar biasa ini tentu menghadirkan konsekuensi tersendiri, bahkan mungkin sulit diterima. Meski begitu, jika dipandang dari sudut positif, manfaatnya akan terasa.

Dua Pekan Krusial
Kenapa sih PPKM Darurat diberlakukan dua pekan? Bakal seefektif apa sih kebijakan ini menekan lonjakan kasus COVID-19?

Lewat PPKM Darurat, kegiatan masyarakat diharapkan akan lebih terkendali. Sehingga, interaksi bisa diminimalisir sekecil mungkin. Di saat yang sama, kamu juga sebaiknya patuh menjalankan protokol kesehatan.

Jika enggak penting-penting amat ke luar rumah, lebih baik di rumah saja, ya. Kalaupun terpaksa ke luar rumah, pastikan kamu steril ketika kembali ke rumah. Sehingga, potensi terpapar COVID-19 di luar dan menularkannya pada orang rumah bisa diminimalisir.

Menurut Irvan, jika semua orang taat dengan peraturan yang ada, kebijakan seperti itu bisa berdampak positif. Apalagi jika diberlakukan lockdwon seperti yang pernah dilakukan di Wuhan atau Selandia Baru. Lockdown akan jauh lebih efektif, tapi PPKM setidaknya bisa jadi solusi minimal mengatasi lonjakan kasus COVID-19.

Sebab, pemerintah tidak sanggup melakukan lockdown total seperti yang pernah dilakukan di negara lain. Itu karena butuh anggaran super besar untuk menjamin kebutuhan warga selama mengunci diri di rumah.

Jika semua pihak menerima PPKM Darurat dan mengikuti seluruh kebijakan yang ada, kasus COVID-19 memang akan langsung turun? Jawabannya adalah tidak! Loh, kok begitu, ya?

Dua pekan PPKM Darurat inilah kuncinya. Selama dua pekan, mereka yang terpapar dan bergejala diharapkan sembuh. Di sisi lain, mereka yang terpapar dan menjalani isolasi mandiri, juga diharapkan sembuh dalam dua pekan.

"Secara rata-rata, orang yang terinfeksi dengan virus ini sebagian besar, 85 persen, itu akan sembuh tanpa perawatan di rumah sakit. Maka, dia akan membaik dalam waktu dua minggu. Dengan dua minggu ini virus enggak ada (mati) di dalam tubuh," tutur Irvan.

Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk memprioritaskan di rumah saja. Semakin banyak orang tak keluar rumah, semakin kecil potensi tertular dan penyebaran terjadi. "Kalau semua kompak diam, virus meluruh dalam dua minggu, habis, ya sudah selesai (kondisi akan membaik)," ucapnya.

Jika semakin minim terjadi mobilitas dan interaksi warga, besar kemungkinan kasus COVID-19 bisa lebih terkendali. Logikanya, ketika lebih banyak orang yang diam di rumah, maka seseorang tidak akan terpapar dan menularkannya lagi pada orang lain.

Namun, dampak dari PPKM Darurat ini tidak akan langsung terasa setelah kebijakan ini selesai. Justru, efektivitas PPKM Darurat baru akan terlihat beberapa waktu kemudian.

"Kalau tidak terjadi interaksi, tidak terjadi penularan, maka kasus baru tidak akan terjadi. Kalau dua minggu (kebijakan ini diberlakukan), manfaat atau efeknya baru kelihatan sebulan yang akan datang," papar Irvan.

Setelah sebulan itu, jika semua disiplin, sebulan ke depan akan terjadi pelandaian atau penurunan kasus. Jadi, enggak akan benar-benar langsung hilang COVID-19 ini. "Landai dulu biasanya. Kalau (setelah kondisi landai itu) di-maintenance di sebulan berikutnya, yang landai akan makin turun," jelasnya.

Namun, kata kuncinya, disiplin ini harus dimiliki semua orang. Sebagai contoh, jika di area pusat kota terjadi penyekatan yang membuat mobilitas dan interaksi menjadi minim, akan sia-sia jika di pemukiman tak diterapkan disiplin.

Coba deh cek orang di sekitar tempat tinggalmu. Masih banyak yang disiplin menerapkan protokol kesehatan, enggak? Jangan-jangan hanya ketika bepergian saja disiplin, tapi ketika sudah di lingkungan tempat tinggal justru menanggalkan protokol kesehatan.

Di sini semua orang perlu berperan aktif agar warga di lingkungan tempat tinggal juga disiplin. Jangan karena merasa aman, protokol kesehatan kemudian diabaikan di sekitar tempat tinggal.

Foto: Ilustrasi/Rayhadi Shadiq-beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler