Dipersatukan Profesi, Saling Membantu di Tengah Pandemi

Bandung - Bekerja sebagai jurnalis di tengah pandemi COVID-19 memiliki tantangan tersendiri. Sebab, jurnalis pada umumnya tetap harus berburu berita. Di saat yang sama, risiko terpapar COVID-19 begitu terbuka lebar.

Alhasil, tak sedikit jurnalis yang akhirnya terpapar. Bahkan, ada yang pada akhirnya meninggal dunia. Ya, ini jadi salah satu risiko yang dihadapi jurnalis dalam menekuni pekerjaannya.

Namun, banyak jurnalis yang masih tetap bertugas seperti biasa di tengah pandemi ini. Sama seperti orang lain pada umumnya, jurnalis juga berusaha menjalankan protokol kesehatan.

Tak hanya itu, adaptasi kebiasaan baru dilakukan untuk menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Mulai dari menjaga jarak dengan narasumber saat wawancara, liputan daring, hingga rutin melakukan sterilisasi peralatan kerja.

Namun, COVID-19 yang tak kasat mata jelas sulit dihindari. Risiko terpapar bisa hadir tanpa mengenal waktu dan tempat. Saat sedikit lengah dan 'sial', terpapar pun akhirnya tak bisa dihindari. Tak hanya saat bekerja, jurnalis bisa terpapar COVID-19 dalam kegiatan lain.

Saat terpapar, mereka yang bergejala berat tentu perlu mendapat perawatan di rumah sakit. Di sana, semua kebutuhan akan lebih terjamin. Namun, beda cerita saat menjalani isolasi mandiri. Ragam kesulitan bisa dirasakan, mulai dari sulitnya mencari obat hingga makanan.

Baca Ini Juga Yuk: Kekuatan #AksiBaik Kolektif, Lahirkan Optimisme di Tengah Pandemi

Ketika isolasi mandiri inilah peran keluarga, tetangg, hingga teman sangat diperlukan. Bahkan, rekan seprofesi pun bisa sangat berarti dalam membantu mereka yang menjalani isolasi.

Hal ini dilakukan jurnalis yang tergabung dalam Forum Diskusi Wartawan Bandung (FDWB). Mereka berusaha mengambil peran, mewujudkan solidaritas, dan memberi perhatian bagi jurnalis yang tengah menjalani isolasi mandiri.

Mereka menggalang dana di kalangan jurnalis di Bandung. Setelah terkumpul, dana itu jadi semacam uang kas. Tujuannya demi membantu para jurnalis di tengah kondisi sulit saat terpapar COVID-19 dan menjalani isolasi mandiri.

Ketua FDWB Debby Sutrisno mengatakan ide mengumpulkan dana itu sebenarnya sudah ada sejak sebulan lalu. Namun, ide ini tak terlaksana karena kesibukan masing-masing anggota.

Pekan lalu, ide itu akhirnya bisa terwujud setelah ada sekitar enam jurnalis di Bandung terpapar COVID-19 dan harus menjalani isolasi mandiri. Penggalangan dana pun dilakukan bermodalkan solidaritas di antara sesama jurnalis. Tak hanya di internal FDWB, tapi juga di kalangan jurnalis secara umum di Bandung.

"Kita share di grup-grup WhatsApp, alhamdulillah banyak yang merespon. Ada teman-teman yang ngasih dan kita kumpulkan," ujar Debby.

Setelah dana terkumpul, tak lama berselang hasilnya langsung disalurkan. Namun, sebelum disalurkan, jurnalis yang terpapar isoman lebih dulu ditanya apa kebutuhannya agar bantuan yang diberikan benar-benar bermanfaat.

"Kebutuhannya beda-beda, ada yang butuh vitamin, masker, makanan. Bantuannya kita kirimkan lewat driver ojol. Alhamdulillah respon dari teman-teman yang menerima ini bagus dan mereka mengucapkan terima kasih buat teman-teman wartawan," ungkap Debby.

Setelah ditelusuri lebih lanjut, menurutnya para jurnalis di Bandung memiliki beragam status. Ada yang berstatus karyawan dengan gaji tetap hingga kontributor berpenghasilan tak pasti setiap bulannya.

Saat terpapar dan menjalani isolasi, ada jurnalis yang tak mendapat perhatian dari tempatnya bekerja dengan berbagai alasan. Namun, ada juga yang mendapat perhatian dan bantuan dari kantor tempatnya bekerja.

Namun, mendapat perhatian atau tidak dari tempat kerjanya, jurnalis yang terpapar ini tetap perlu mendapat perhatian dari rekan seprofesi. Setidaknya, kesamaan profesi membuat satu sama lain bisa saling menguatkan.

Ditargetkan Jangka Panjang
Aksi baik menggalang dana membantu jurnalis ini diharapkan bisa berlangsung jangka panjang. Sehingga, penggalangan dana akan terus dilakukan. Dengan begitu, saat ada jurnalis terpapar, bantuan bisa terus diberikan.

Selain bagi yang terpapar COVID-19, FDWB juga berencana membeli vitamin untuk dibagikan pada jurnalis jika dananya mencukupi. Harapannya, daya tahan tubuh jurnalis terjaga dan terhindar dari efek buruk jika suatu saat terpapar COVID-19.

"Harapannya,ke depan mudah-mudahan kita bisa bantu teman-teman jurnalis mendapatkan asupan vitamin. Karena kita enggak tahu pandemi ini akan berakhir kapan, sedangkan sebagai jurnalis kita jadi garda terdepan untuk menyampaikan informasi yang bekerja di lapangan," tutur Debby.

Ia pun berharap perusahaan tempat para jurnalis bekerja memberi perhatian khusus bagi pekerjanya. Sebab, jurnalis banyak yang harus bekerja seperti biasa tanpa mengenal pandemi atau tidak. Sedangkan saat ini, risiko terpapar begitu mengintai.

"Penginnya sih dari perusahaan media massa, entah itu status jurnalisnya kontrak atau apapun, bisa memberikan tunjangan vitamin atau perlengkapan seperti masker, hand sanitizer, secara berkala," harapnya.

Sebab, tak semua jurnalis punya pendapatan besar. Ada yang penghasilannya pas-pasan, bahkan berkekurangan, tapi mereka tetap bekerja seperti biasa dengan loyalitasnya. Di saat yang sama, kebutuhan bertambah demi melindungi dari terpapar COVID-19.

Debby pun berharap aksi solidaritas bagi jurnalis ini menular pada jurnalis di daerah lain. Sebab, secara umum, kondisi jurnalis di berbagai daerah sama di tengah pandemi ini.

Sehingga, mau tidak mau, pandemi ini jadi momentum saling merekatkan hubungan dan saling peduli di antara sesama jurnalis. Saat ada yang perlu bantuan, jurnalis lain diharapkan bisa saling membantu.

"Mudah-mudahan kegiatan seperti ini bisa menyebar ke organisasi dan jurnalis di tempat lain. Minimal ketika ada yang isolasi bisa dibantu. Walaupun tidak banyak bantuannya, tapi kita bisa saling bantu," pungkas Debby.

Foto: Ilustrasi Unsplash/Michael Fousert
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler