Jangan Lengah, DBD Mengintai di Tengah Pandemi

Bandung - TemanBaik, masih tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan agar terhindari dari COVID-19, kan? Usahakan selalu konsisten ya demi kebaikan bersama!

Tentu kamu sudah tahu kan jika belakangan ini kasus COVID-19 mengalami peningkatan pesat? Bahkan, banyak pasien COVID-19 yang harus masuk daftar tunggu demi bisa mendapat perawatan di rumah sakit.

Ini tentu jadi warning alias peringatan tersendiri bagi publik. Sebab, kasus COVID-19 makin kritis dari waktu ke waktu. Sehingga, kewaspadaan tetap perlu ditamakan biar kamu enggak tertular.

Namun, di saat bersamaan, ada berbagai penyakit lain yang juga mengintai. Sehingga, kamu jangan hanya fokus mengantisipasi biar enggak terpapar COVID-19. Antisipasi juga biar enggak terpapar penyakit lain, ya!

Salah satu yang perlu diwaspadai di masa peralihan musim seperti ini adalah demam berdarah dengue (DBD). Saat ini, kasus DBD juga termasuk yang cukup banyak dialami warga.

"Penyakit lain yang sangat membutuhkan perhatian sekarang itu penyakit menular, DBD itu angkanya tinggi terus," kata Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Bandung Yorisa Sativa.

Baca Ini Juga Yuk: Cara Aman dan Nyaman Rayakan Iduladha saat Pandemi

Secara umum, ada banyak daerah di Indonesia yang daerahnya rawan dengan penyakit DBD. Sebab, Indonesia merupakan kawasan endemis. Jadi, enggak heran setiap tahun kasus DBD selalu tinggi.

Itu karena kawasan Indonesia bikin nyamuk aedes aegypti bisa hidup dengan nyaman. Selain itu, tentu perilaku warga juga berperan penting dalam 'lestarinya' penyakit DBD.

"Namanya penyakit endemis itu selalu setiap tahun terulang karena situasi musimnya juga begini, situasi geografisnya begini," jelas Yorisa.

Oleh karena itu, berbagai langkah antisipasi perlu dilakukan untuk mencegah terjangkit DBD. Cara utamanya adalah mencegah nyamuk aedes aegypti berkembang biak. Siasatnya adalah menerapkan 3M Plus.

Pertama, menguras dan membersihkan tempat penampungan air serta tempat yang berpotensi hadirnya genangan air. Sebab, lokasi ini bisa jadi sarang dan tempat berkembang biak nyamuk. Cek sedetail mungkin biar nyamuk enggak punya kesempatan berkembang biak.

Kedua, menutup tempat penampungan air untuk meminimalisir jadi 'rumah' yang nyaman bagi nyamuk. Ketiga, mendaur ulang atau menyingkirkan barang bekas. Plus-nya adalah melakukan berbagai langkah lain, mulai dari memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, memasang kawat atau kasa pada jendela, menghindari menggantung pakaian bekas pakai, menggunakan lotion antinyamuk, hingga menyalakan 'obat' nyamuk.

Menurut Yorisa, banyaknya kasus COVID-19 membuat rumah sakit mengalami overkapasitas. Sehingga, mayoritas ruangan di berbagai rumah sakit harus dialihkan untuk menangani pasien COVID-19.

Akibatnya, pelayanan untuk pasien umum banyak yang mengalami hambatan. Tak hanya di Bandung, kondisi hampir serupa terjadi di berbagai wilayah lain karena sama-sama sedang tinggi kasus COVID-19.

Sehingga, banyak yang kesulitan mengakses perawatan di rumah sakit. Bahkan, saat ini mereka yang sakit disarankan tidak ke rumah sakit jika kondisinya masih tergolong ringan. Oleh karena itu, prinsip mencegah lebih baik daripada mengobati sangat tepat di tengah kondisi seperti ini. Jangan sampai sampai sakit ya TemanBaik, termasuk terjangkit DBD.

"Kita harus mencegah sakit karena banyak fasilitas kesehatan yang sudah penuh," imbau Yorisa.

TemanBaik, yuk, tetap waspada dengan berbagai penyakit yang ada selain COVID-19!

Foto: Ilustrasi Unsplash/Wolfgang_Hasselman

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler