Cerita Menggugah Hati dari Makan Siang Gratis di Kedai Kopi

Bandung - Aksi baik di saat pandemi selalu punya cerita menarik tersendiri. Selalu ada hikmah yang bisa dipetik dan tentunya jadi pelajaran bagi banyak orang.

Salah satu kisah hadir dari Kozi Coffee Veteran di Jalan Veteran, Kota Bandung. Sejak awal Juli, di sini selalu disediakan makan siang gratis dengan menu beragam setiap harinya.

Sebelum pukul 11.00 WIB, biasanya di area halaman kedai kopi ini akan memasang dua meja yang digabungkan. Tak lama berselang, puluhan nasi kotak akan dibawa dan ditata di atas meja.

Saat Beritabaik.id hadir di lokasi, kurang dari lima menit, puluhan nasi kotak sudah tandas. Hanya tinggal meja kosong dan sepinya suasana kedai karena tak boleh ada konsumen yang makan-minum di tempat.

Mereka yang mengambil nasi kotak ini adalah warga sekitar, pejalan kaki, pekerja pertokoan di Jalan Veteran, hingga pengemudi ojek online (ojol). Ada yang terlihat ragu-ragu mengambilnya dan memilih bertanya lebih dulu untuk meyakinkan makanan itu gratis. Namun, ada juga yang sudah tahu itu gratis dan mengambilnya sesuka hati.

Ada yang hanya satu nasi kotak saja. Namun, ada pula yang mengambil dua hingga nasi kotak. "Dua enggak apa-apa ya, buat teman saya satu di sana," tanya perempuan pejalan kaki.

Setelah dijelaskan itu gratis dan boleh membawa berapapun, pejalan kaki itu mengambil nasi kota dengan gembira. Bahkan, ia terlihat beberapa kali menganggukkan kepala sambil berucap hatur nuhun berkali-kali yang berarti terima kasih.

Pemandangan ini kerap terjadi setiap hari. Suasana yang ada seolah memberi bukti bahwa begitu banyak orang terdampak pandemi hingga kesulitan makan. Di sisi lain, situasi ini juga mengamini bahwa kebaikan selalu ada meski tengah pandemi.

Beritabaik.id kemudian berbincang dengan Owner Kozi Coffee Veteran Ayu Oktarini seputar aksi bagi-bagi makan siang gratis ini. Ia juga membagi pengalaman menariknya selama perjalanan aksi baiknya.

"Ini sudah hari ke-18 kita berbagi makan siang gratis buat orang-orang yang membutuhkan di sekitar Kozi Coffee Veteran. Ide utamanya sebenarnya diajak sama temen-temen (Kozi) cabang Dipatiukur. Jadi, awalnya mereka provide, terus berbagi sama kita," ujar Ayu.

Setelah beberapa hari berjalan, bagi-bagi makan siang ini mendapat respons tinggi dari penerimanya. Agar program ini bisa berjalan, Ayu kemudian membukan donasi terbuka. Gayung bersambut, kucuran dana berdatangan dari berbagai pihak.

Program ini akhirnya bisa terus bergulir sampai sekarang. Harapan besarnya, meski sekadar makan siang gratis, tapi hal ini bisa bermanfaat dan berarti bagi yang membutuhkan.

"Jadi, ide utamanya sebenarnya memang hanya ingin meringankan beban orang-orang di masa pandemi, meskipun hanya sekotak nasi," ungkap Ayu.

Soal sampai kapan program ini berjalan, ia belum bisa memastikannya. Namun, selama masih ada dana, bagi-bagi makan siang ini diupayakan terus berjalan konsisten.

"Mungkin kalau lihat saldo donasi yang masuk, lima hari sampai seminggu ke depan juga masih bisa sih. Tapi, sampai kapannya (program ini berjalan) kami belum bisa memastikan. Tapi kalau manjang dan masih dikasih amanah, ya, Insyaallah (terus berjalan)," jelas Ayu.

Empati dan Saling Peduli

Sejak program ini berjalan, Ayu mendapat banyak cerita dan pemandangan menarik. Bahkan, penerima manfaat berkali-kali membuat hatinya diselimuti rasa kagum.

Salah satunya ketika ada pedagang keliling yang mengambil makanan itu. Sehingga jatah uang untuk membeli makan siang bisa mereka simpan. Bahkan, ada yang mengalihkan uang makan siangnya untuk makan malam.

"Sebenarnya (pengalaman menarik) banyak , ya. Kayak beberapa orang yang dia pedagang keliling, ya, tukang-tukang kayak cuanki, terus kemudian kayak tukang bakwan Malang, gitu-gitu. Kan mereka tuh menyisihkan uang mereka dari hasil dagangan mereka untuk beli makan siang juga, kan," ungkapnya.

"Nah, (uang yang harusnya dibeli untuk makan siang) itu tuh bisa mereka simpan gitu, buat kemudian nanti, dipakai buat makan malam. Jadi, buat saya kayak sesederhana itu gitu pesannya (manfaatnya), meskipun itu cuma makan siang," tutur Ayu.

Cerita lainnya, Ayu setiap hari bertemu dengan suami-istri dan tiga anaknya yang rutin mengambil makanan. Keluarga itu tak pernah membawa makanan berlebih. Masing-masing membawa satu nasi kotak saja.

"Jadi mereka berlima tuh beberapa hari ini datang terus, terus ngambilnya cukup. Terus saya bilang, bu ambilnya masing-masing dua boks aja biar sekalian buat sore atau malam. Mereka enggak mau, mereka bilang nanti malam gimana nanti, ini (makanan yang masih ada) bisa buat yang lain. Saya pikir, wah, ini gila sih," ucap Ayu.

Dari kejadian itu, ia mengambil pelajaran bahwa orang yang dalam kesulitan pun tak mementingkan diri sendiri. Mereka masih mengingat ada orang lain yang mungkin sangat membutuhkan makanan. Sehingga, mereka lebih rela mengambil seadanya demi membuat perut orang lain juga ikut terisi.

Bahkan, mereka yang datang ke sana juga kerap saling menginformasikan pada orang lain bahwa di lokasi ada makanan gratis. Tak jarang, warga yang datang juga memanggil orang lain dari jauh.

"Mereka tuh saling menginformasikan gitu bahwa ini ada makan siang dan apa ya, energinya tuh sesederhana itu gitu untuk bisa saling membantu," kata Ayu.

Pentingnya Melangkah Bersama

Aksi baik di tengah pandemi ini memang banyak banget kan, TemanBaik? Ayu pun membagi pandangannya soal aksi baik yang dilakukan berbagai pihak di banyak daerah. Hal itu jadi spirit tersendiri untuk membangun kebersamaan, terutama di tengah pandemi.

Ia sendiri memandang kebijakan PSBB, PPKM, atau apapun namanya punya tujuan baik. Kebijakan ini dikeluarkan untuk membatasi aktivitas, terutama agar kasus COVID-19 tak terus meningkat.

Di saat yang sama, pemerintah tak bisa membantu rakyat seluruhnya. Sehingga, perlu langkah bersama untuk sama-sama meringankan beban di tengah dampak pandemi. Oleh karena itu, ia sangat menyambut baik hadirnya berbagai gerakan baik membantu sesama. Setiap orang pun bisa melakukan aksi baik meski dari hal kecil.

"Sampai ada yang bilang saya cuma bisa kasih Rp50 ribu, karena dia masih sekolah, gitu. Eh enggak apa-apa saya bilang," ucapnya.

Ada juga seorang temannya yang berstatus mahasiswa di Australia. Ia rela mengorbankan uang makannya selama sepekan untuk berdonasi agar bagi-bagi makan siang ini terus berjalan.

"Dia kirim uang (ke) saya (dia) bilang 'Yu, ini kalau gua di sini (Australia) bisa buat makan seminggu, jadi mudah-mudahan ini bermanfaat buat kamu'. Dia ngirim Rp1 juta, terus saya bilang eh kalau Rp1 juta mah saya bisa buat tiga kali makan 40 orang," tutur Ayu.

Berkaca dari hal itu, ia mengambil kesimpulan jika setiap orang sebenarnya bisa berbuat baik dan membantu orang lain. Setiap orang bisa melakukan sesuatu sesuai dengan kadar kemampuannya.

"Saya berpikir orang-orang yang ngasih (donasi) juga bukan mampu banget gitu, orang-orang yang sebenarnya juga struggling dalam hidupnya," cetusnya.

Ia pun berharap gerakan saling bantu ini semakin banyak dilakukan orang. Sehingga, akan semakin banyak orang terdampak yang berkurang bebannya. Langkah ini jauh lebih baik dilakukan ketimbang sekadar ngomel atau protes tanpa aksi.

"Kita kan sekarang akhirnya bertahan (di tengah pandemi) dengan cara kita masing-masing. Jadi, daripada egois, marah-marah, ngomentarin orang, kan capek. Energinya mendingan gimana caranya kita bisa bahu-membahu dengan cara-cara sederhana," ujarnya.

"Jadi kita bisa melakukan apapun hal baik, sekecil apapun. Jadi enggak usah berpikir pemerintah tidak melakukan apa-apa buat kita, tapi itunya dipinggirin dulu aja, fokus sama kebaikan, itu aja," pungkas Ayu.


Foto: Oris Riswan/Beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler