Kerennya Bank Sampah Bersinar, Sampah Bisa Jadi Emas hingga Haji

Bandung - Inovasi keren dibuat Bank Sampah Bersinar. Berdiri sejak 2014, bank sampah ini menjadi model keren yang patut ditiru bank sampah lainnya.

Jika biasanya kita mengenal bank sampah sebatas mengumpulkan sampah dan lekat dengan aksi sosial saja, konsep berbeda justru datang dari Bersinar. Mereka memadukan konsep gerakan sosial dan bisnis dalam menjalankan bank sampah.

Secara umum, Bersinar tidak beda jauh dengan bank sampah lainnya. Mereka menerima tabungan sampah organik, anorganik, juga sampah residu dari nasabahnya. Namun, tidak hanya itu, sampah yang diterima dari masyarakat kemudian diolah menjadi produk baru bernilai tinggi.

Kami punya kesempatan berkunjung ke Bank Sampah Bersinar, belum lama ini. Saat masuk ke ruang tunggu, sudah terpampang 70 jenis sampah sebagai sampel edukasi.

"Jadi, 70 kategori ini juga masuknya edukasi ke nasabah kalau sebetulnya sampah yang mereka kumpulkan itu punya nilai beragam. Misalnya sampah tembaga, itu nilainya tinggi," ujar CEO Bank Sampah Bersinar Fei Febri.

Baca Ini Juga Yuk: Inovasi Keren Plepah, Ubah Pinang Jadi Wadah Makanan Kece

Nah, kembali ke konsep pengolahannya. Jadi, sampah-sampah dari nasabah Bersinar diolah menjadi beberapa produk baru. Misalnya, sampah popok bekas pakai yang disulap jadi produk bernilai tinggi dengan menerapkan teknologi hydrothermal.

Di satu titik khusus, popok bekas pakai diolah dan hasilnya bisa menjadi tiga produk: serat yang bisa dijadikan material batako dan bahan baku untuk kertas daur ulang, pupuk cair, dan juga minyak bakar.

Selain itu, produk olahan popok bekas ini juga menghasilkan refused paper plastic fuel (RPF) yang bisa menjadi bahan baku batubara bernilai kalori tinggi. Lahan luas juga membuat bank sampah ini punya area terpisah dengan fokus pada jenis sampah yang bisa diolah.

Setelah main ke area limbah popok, selanjutnya kita mengunjungi area sampah botol plastik bekas. Di sini, sampah botol plastik bekas pun sudah terpilah dan terpisah sesuai jenisnya. Sampah botol plastik ini kemudian ditekan dan siap diolah menjadi produk daur ulang baru.

Enggak hanya itu saja, mereka juga punya spot khusus mengolah sampah organik menjadi beberapa produk seperti maggot, perkebunan organik, serta mengolah limbah kain bekas. Nah, olahan sampah yang dijadikan pupuk tersebut juga digunakan sendiri untuk perkebunan kecil milik mereka.

Hasilnya, aneka sayuran tumbuh subur di kebun organik. Selain itu, ada pula peternakan lele yang juga kebutuhan ternaknya dipenuhi dari ekosistem pengolahan limbah. Para nasabah biasanya kebagian panen sayur di Bank Sampah Bersinar pada waktu tertentu.

"Kita ngasih reward kepada masyarakat yang sudah mulai pilah sampah dan itu terpantau lewat aplikasi," terang Fei.

Oh ya, bicara sedikit soal program, Bersinar punya beberapa program buat nasabahnya. Untuk nasabah individu, mereka punya Household Waste Management dan Program Tabungan Sampah. Selain itu, untuk nasabah dari kalangan perusahaan, ada program Responsible Waste Management dan Extended Product Responsibility.

Berbagai program dan konsep yang dijalankan Bersinar pada akhirnya tidak sebatas menjadikan bank sampah sebagai area penampung saja, melainkan juga jadi sumber penghidupan. Setidaknya, saat ini mereka punya 23 karyawan yang hidup dari kegiatan pengolahan sampah di sini.

Ajak Masyarakat Pilah Sampah
Selain menerima tabungan sampah dari masyarakat, tim Bersinar juga memberikan edukasi kepada masyarakat untuk memilah sampah sedari awal. Ya, sebab, hal yang tidak banyak diketahui masyarakat adalah nilai sampah yang sudah dipilah sejak awal akan lebih tinggi ketimbang sampah 'rusak' sebelum disetor ke bank sampah.

Oleh sebab itu, Fei menyebut tidak heran harga sampah di Bersinar bisa empat kali lebih tinggi ketimbang di bank sampah umumnya. Sebab, sampah yang sudah masuk ke sini sudah dipilah nasabahnya sejak awal. Sehingga, kualitas sampahnya bisa dikategorikan baik dan belum rusak.

"Soalnya sayang banget kalau sampahnya enggak dipilah. Misalnya datang ke sini, kondisi sampahnya sudah rusak. Itu bakal murah. Dan kita juga ke nasabah, ya, hanya menerima sampah yang sudah dipilah," jelasnya.

Sebagai upaya edukasi, mereka menargetkan 1.000 titik di wilayah Bandung Raya (Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi) sejak 2019. Kendati dari 1.000 titik mereka hanya bisa menjaring 30 persennya, namun siapa sangka, jumlah tersebut mampu menyumbang hingga 50 ton sampah non organik, 1 ton sampah organik, 500 kilogram sampah jelantah, serta 1,5 ton popok bekas pakai tiap bulannya.

Jumlah nasabah di Bersinar saat kami berkunjung telah mencapai 11 ribu. Hasil konversi tabungan sampah para nasabah akan ditransfer ke rekening yang digunakan mereka untuk menabung.

Berkaca pada jumlah nasabah dan tabungan sampah yang masuk, Fei menyebut saat ini pihaknya sedang menggenjot lagi edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya memilah dan menabung sampah. Ia membayangkan jika target 1.000 titik di Bandung Raya tercapai, boleh jadi masalah sampah di wilayah tersebut perlahan mulai bisa diurai. Enggak hanya itu, di sisi lain, sampah-sampah yang telah ditabung bisa menjadi nilai ekonomi dan faktor menguntungkan untuk berbagai pihak.

"Di satu sisi, pabrik-pabrik industri itu butuh bahan baku yang bagus. Nah, hadirnya bank sampah di sini dengan konsep circular economy, diharapkan bisa menyuplai kebutuhan tersebut. Makanya, kenapa sampah di sini dikasih nilai tinggi, karena nasabahnya sudah mengerti, jadi sampah enggak dibiarin numpuk dan rusak. Sampah dengan kualitas terbaik bisa dapet nilai tinggi. Pabrik dapet bahan baku yang bagus, masyarakat juga sampahnya dihargai tinggi, lingkungan juga diuntungkan karena manusianya sudah mulai sadar akan sampah," beber Fei.

Baca Ini Juga Yuk: Sederhana Mencintai Lingkungan ala Komunitas CAI

Edukasi itu disampaikan lewat pelatihan, baik luring maupun daring. Selain itu, Bersinar pun mulai melek teknologi. Aset digital seperti website dan media sosial ditata sedemikian rupa guna mengundang banyak pihak untuk mengenal mereka. Dari segi bisnis, mereka menggenjot kerja sama dengan berbagai pihak agar produk olahan sampah mereka bisa punya tempat di industri.

Bayar Iuran Pakai Sampah
Konsep menarik lain dari Bank Sampah Bersinar adalah membuka kemungkinan nasabah membayar iuran seperti listrik, PDAM, cicilan kendaraan, hingga membuat tabungan haji dari sampah.

Jadi, hasil konversi nilai sampah yang sudah ditabung nasabah dan sudah masuk ke rekening bisa langsung didistribusikan untuk berbagai jenis pembayaran tadi. Selain itu, di lokasi Bank Sampah Bersinar juga ada minimarket yang produknya bisa dibeli dengan debit tabungan sampah. Menarik!

"Bisa bayar iuran (pakai sampah) ini kan bagian dari edukasi juga. Sampah tuh enggak berarti kotor, bau, dan apa sih, gitu kesannya kan. Dengan konsep ini, masyarakat juga nanti bakal sadar kalau mereka bisa kok memilah sampah sejak awal," terang Fei.

Sebagai penutup, ia mengajakmu gabung menjadi nasabah Bank Sampah Bersinar. Caranya mudah, kamu bahkan bisa bertanya ke Instagram mereka @banksampahbersinar.id atau mengunjungi situs web mereka banksampahbersinar.com. Yuk, mulai pilih sampah sejak saat ini!


Foto: Rayhadi Shadiq/Beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler