Super New Moon hingga Hujan Meteor Warnai Awal Desember Ini

Bandung - TemanBaik, ada fenomena astronomis menarik nih pada awal Desember 2021 ini. Salah satunya puncak hujan meteor yang bakal terjadi pada 6-8 Desember.

Sebelum beralih pada pembahasan hujan meteor, pada awal Desember ini sebenarnya ada beberapa fenomena astronomis. Pada 1-4 Desember ada konjungsi tripel Venus-Saturnus-Jupiter, okultasi Mars oleh Bulan dan konjungsi Bulan-Mars (3 Desember), gerhana matahari total di Antartika dan bulan baru super alias super new moon (4 Desember), serta konjungsi kuartet Bulan-Venus-Saturnus-Jupiter (5-10 Desember),

Nah, sekarang kita lanjut ke pembahasan puncak hujan meteor. Fenomena ini bakal terjadi dalam kurun 6-8 Desember. Pertama adalah puncak hujan meteor Phoenicid. Kedua adalah puncak hujan meteor Puppid-Velid. Simak ulasan lengkapnya, yuk!

Puncak Hujan Meteor Phoenicid
Dilansir dari edukasi.sains.lapan.go.id, Phoenicid adalah hujan meteor yang titik asal kemunculan meteornya (titik radian) berada di konstelasi Phoenix dekat bintang Alfa Eridani (Archenar) konstelasi Eridanus. Hujan meteor ini bersumber bersumber dari sisa debu Komet 289P/Blanpain yang mengorbit matahari selama 5,18 tahun.

Fenomena ini akan terjadi dalam kurun 6-7 Desember dan bisa disaksikan sejak awal senja bahari alias 20 menit setelah terbenam matahari hingga keesokan harinya pukul 02.15 waktu setempat dari arah tenggara hingga barat daya.

Di Indonesia, intensitas hujan meteor ini berkisar 51 meteor/jam (Sabang) hingga 74 meteor/jam (Pulau Rote). Ini dikarenakan titik radian berkulminasi pada ketinggian 31 derajat hingga 48 derajat arah selatan. Sedangkan intensitas hujan meteor saat di zenit sebanyak 100 meteor/jam.

Untuk bisa menyaksikan fenomena ini, cuaca di sekitar lokasi pemantauan harus cerah dan bebas dari penghalang maupun polusi cahaya di sekitar medan pandang.

Baca Ini Juga Yuk: Mencari Jawaban Bentuk Bumi dari Fenomena Super Blood Moon

Puncak Hujan Meteor Puppid-Velid
Puppid-Velid adalah hujan meteor yang titik radiannya berada di dekat bintang Gamma Velorum (Regor) konstelasi Vela yang berbatasan dengan konstelasi Puppis. Fenomena ini bakal terjadi 7-8 Desember.

Hujan meteor ini bersumber dari sisa debu Komet 96P/Machholz yang mengorbit matahari dengan periode 1,93 tahun. Hujan meteor ini dapat disaksikan sejak pukul 21.00 waktu setempat hingga keesokan harinya saat akhir fajar bahari (25 menit sebelum matahari terbenam) dari arah tenggara hingga barat daya.

Intensitas hujan meteor ini untuk Indonesia berkisar enam meteor/jam (Sabang) hingga delapan meteor/jam (Pulau Rote). Ini dikarenakan titik radian berkulminasi pada ketinggian 39-56 derajat arah selatan. Sedangkan intensitas hujan meteor saat di zenit sebanyak 10 meteor/jam.

Nah, untuk menyaksikan fenomena ini, syaratnya sama. Pastikan cuaca cerah dan bebas dari penghalang maupun polusi cahaya di sekitar medan pandang.

TemanBaik, penasaran ingin melihat fenomena dua hujan meteor ini? Catat tanggal dan waktunya baik-baik, ya.


Foto: Ilustrasi Pexels/Raman Deep


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler