Menilik Surga Panas Bumi di Nusantara

TemanBaik, penggunaan energi berbasis fosil tak akan bisa berlangsung selamanya. Sumber energi ini suatu saat akan habis dan tak bisa diperbaharui.

Solusinya, perlu ada pemanfaatan sumber energi lain sebagai alternatif pengganti untuk menunjang kehidupan masyarakat sebelum terlambat. Salah satunya memanfaatkan keberadaan geothermal atau energi panas bumi.

"Energi fosil itu merupakan energi yang tidak dapat diperbaharui, suatu saat pasti akan habis, sementara kita sejauh ini terbuai dengan (penggunaan) energi berbasis fosil. Sebelum ini habis, kita harus punya alternatif energi lain, salah satunya panas bumi," ujar peneliti muda Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara, dan Panas Bumi (PSDMBP) Badan Geologi Kementerian ESDM Lano Adhitya Permana kepada BeritaBaik.id di Kantor PSDMBP, Kota Bandung.

Indonesia sendiri kaya akan beragam jenis sumber daya energi. Bahkan, dalam urusan sumber daya energi, Indonesia merupakan surga karena kekayaannya. Salah satu surga atau kekayaan itu berupa geothermal alias energi panas bumi.

Geothermal berasal bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata, yaitu 'geo' dan 'thermal'. Geo berarti bumi dan thermal berarti panas. Jadi, secara umum, geothermal diartikan sebagai sumber energi yang berasal dari panas alamiah di dalam bumi.


                                                                 Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id

Sedangkan berdasarkan UU Nomor 21 Tahun 2014 tentang Panas Bumi, definisi energi panas bumi adalah sumber energi panas yang terkandung di dalam air panas, uap air, serta batuan bersama mineral ikutan dan gas lainnya yang secara genetik tidak dapat dipisahkan dalam suatu sistem panas bumi.

Karakteristik Panas Bumi
Energi panas bumi ini memiliki karakteristik atau keunggulan tersendiri dibanding sumber energi lain, terutama yang berbasis fosil seperti minyak bumi dan batubara. Keberadaannya pun jadi alternatif sumber energi di masa yang akan datang.

"Panas bumi ini punya karakteristik khusus. Jadi, memang sangat baik sebagai salah satu alternatif energi di masa depan," kata Lano.

Ada empat karakteristik sekaligus keunggulan dari panas bumi ini. Pertama, panas bumi merupakan sumber energi bersih, ramah lingkungan, dan terbarukan. Pemanfaatannya tidak menimbulkan polusi seperti sumber energi lain.

"Saat ini panas bumi ini merupakan salah satu energi yang termasuk dalam sumber energi ramah lingkungan dibandingkan produk energi yang berasal dari energi fosil. Panas bumi ini menghasilkan CO2 (karbondioksida) yang sangat rendah. Bisa dikatakan panas bumi ini termasuk dalam kategori clean energy," jelas Lano.

Karakteristik kedua, energi panas bumi ini tidak bisa diekspor dan hanya bisa dimanfaatkan di wilayah setempat alias bersifat lokal. "Kalau pernah mendengar PLTP Wayang Windu, Darajat, Kamojang, jadi tempatnya di situ aja (pemanfaatannya), nanti dialirkan ke PLN sebagai energi listrik," ucapnya.

Karakteristik ketiga, energi panas bumi tidak tergantung cuaca, supplier, hingga ketersediaan fasilitas pengangkutan dan bongkar muat dalam pasokan bahan bakar. Ini berbeda dengan sumber energi lain yang mesti melalui berbagai proses dan jarak tempuh sebelum bisa dimanfaatkan.


Baca Ini Juga Yuk: Progres Terbaru Pengerjaan Venue PON XX 2021 di Papua

Contohnya pengolahan minyak bumi. Dalam prosesnya, perlu dilakukan pengeboran, penyulingan, proses distribusi, serta rangkaan proses lainnya hingga akhirnya bisa digunakan. "Kalau panas bumi ini hanya di situ saja (pengolahannya), tidak bisa ke mana-mana," ucapnya.

Sedangkan dibanding energi lain seperti tenaga surya atau bayu (angin), panas bumi jauh lebih unggul karena tak dipengaruhi cuaca. Beda misalnya dengan tenaga surya yang tak bisa maksimal saat mendung atau hujan. Sedangkan panas bumi bisa digunakan 24 jam dalam sehari.

"Jadi panas bumi ini bisa digunakan 24 jam sehari, tujuh hari dalam seminggu. Intinya tetap bisa dioperasikan (tanpa terkendala cuaca). Selama sudah berjalan sebagai PLTP, insya Allah (pemanfaatan) ini akan terus tetap ada," tuturnya.

Karakteristik keempat, pemanfaatan energi panas bumi tidak memerlukan lahan luas. Ini berbeda dengan pemanfaatan sumber energi lain yang cenderung butuh lahan berkali-kali lipat lebih luas.

"Secara umum, ini keunggulan dari energi panas bumi dibanding energi lain. Jadi, sangat cocok untuk alternatif energi di masa yang akan datang. Apalagi, sekarang ada kebijakan di negara-negara Eropa juga sudah mulai membatasi penggunaan energi fosil, mulai ada kecenderungan beralih ke energi terbarukan, salah satu yang jadi alternatifnya panas bumi ini," ungkap Lano.

Potensi Panas Bumi di Indonesia
Indonesia sendiri berada di lingkaran ring of fire atau cincin api Pasifik. Salah satu dampak negatifnya, Indonesia jadi negara yang sangat rawan terjadi gempa bumi. Meski begitu, ada sisi positif yang menjadi berkah tersendiri bagi Indonesia dari letak geografis itu.

Berada dalam pertemuan tiga lempeng Indo-Australia, Pasifik, dan Eurasia membuat Indonesia kaya akan sumber daya energi. Bahkan, Indonesia merupakan salah satu negara terkaya di dunia dengan kekayaan sumber daya energinya.

"Indonesia ini memang kompleks karena merupakan pertemuan tiga lempeng. Sisi gelapnya, bencana gempa bumi (rawan terjadi) karena timbul dari pertemuan tiga lempeng ini. Sisi positifnya, ini membawa berkah juga, Indonesia tidak hanya kaya akan panas bumi, tapi juga minyak bumi," ucap Lano.

Sehingga, wajar jika dari Sabang sampai Merauke, Indonesia memiliki kekayaan sumber energi yang begitu melimpah. Bahkan, khusus untuk panas bumi, hingga Agustus 2020 ini tercatat ada 351 titik lokasi sumber panas bumi di berbagai wilayah di Indonesia.

Dari jumlah itu, total sumber daya panas bumi di Indonesia mencapai 23.965,5 MWe (Mega Watt Elektrikal) dan cadangan sebanyak 14.626,5 MWe. Namun, yang sejauh ini termanfaatkan baru 2.130,6 MWe oleh 16 pembangkit listrik tenaga panas bumi (PTLP) di berbagai titik. Artinya, baru 8,89 persen dari seluruh sumber daya panas bumi yang bisa dimanfaatkan menjadi energi berupa listrik.

Dalam pemanfaatan panas bumi, Indonesia menempati peringkat kedua terbesar di dunia. Indonesia unggul di atas Filipina yang ada di posisi ketiga, Kenya di posisi keempat, dan Selandia Baru di posisi kelima. Sedangkan posisi pertama yang memanfaatkan panas bumi terbesar di dunia adalah Amerika Serikat.

Di Indonesia, pemanfaatan panas bumi dimaksimalkan untuk penyediaan listrik melalui PLTP. Mayoritas pemanfaatannya dilakukan BUMN. Namun, ada juga pihak swasta yang turut bergerak, seperti Star Energy Geothermal dan PT Sorik Marapi Geothermal Power.

Sedangkan berdasarkan jumlah lokasi potensi panas bumi, terbanyak ada di Sumatera dengan 101 titik. Terbanyak kedua ada di Sulawesi dengan 90 titik. Berikutnya masing-masing di Jawa (73 titik), Maluku (33 titik), Nusa Tenggara (31 titik), Kalimantan (14 titik), Bali (6 titik), dan Papua (3 titik).

Namun, Jawa Barat menempati urutan pertama dengan kapasitas panas bumi termanfaatkan 1.253,8 MWe. Di urutan berikutnya ada Sumatera (744,3 MWe), Nusa Tenggara (12,5 MWe), dan Sulawesi (12 MWe). Sedangkan potensi panas bumi daerah lain belum termanfaatkan karena belum terbangun PLTP.

Sebab, bukan hal mudah memanfaatkan panas bumi menjadi sumber energi. Butuh waktu bertahun-tahun mulai dari penyelidikan, penelitian, hingga akhirnya dibangun PLTP. Pengusaha pun belum begitu melirik bergerak di bidang pemanfaatan panas bumi. Itu karena biaya yang dikeluarkan sangat besar dengan risiko keuntungan yang belum pasti.

Pemerintah pun terus berusaha agar panas bumi ini bisa dimaksimalkan keberadaannya dan dimanfaatkan sebagai alternatif energi di masa depan. Berbagai rencana dan pengembangan dilakukan.

Bahkan, pemerintah sudah menyusun road map atau peta jalan untuk pengembangan energi panas bumi melalui pembangunan PLTP. Dalam beberapa tahun ke depan, pemerintah menargetkan bisa memanfaatkan energi baru terbarukan (EBT) hingga 23 persen dari potensi yang ada.

"Panas bumi menjadi salah satu sumber energi terbarukan yang diharapkan mampu mendongkrak realisasi bauran EBT sebesar 23 persen pada 2025," ujar Presiden Director of Jacobs Indonesia Tim Anderson di laman Kementerian ESDM, (30/7/2020).

Untuk merealisasikannya, pemerintah menempuh beragam strategi, termasuk di dalamnya berusaha menggaet pihak swasta. Salah satu cara untuk membuat investor swasta tertarik adalah mengambilalih faktor risiko seperti yang akan dilakukan dalam rencana eksplorasi panas bumi di wilayah Cisolok-Sukarame, Sukabumi.

"Risiko pengembangan panas bumi di hulu yang selama ini ditanggung investor kini menjadi tanggung jawab pemerintah," kata Kepala PSDMBP Iman Sinulingga di laman Kementerian ESDM, Jumat (14/8/2020).

Dengan kebijakan ini, harga jual listrik dari panas bumi yang dihasilkan diharapkan nantinya bisa diturunkan. Sebab, biaya untuk pengembangan yang sebelumnya dibebankan kepada investor akan dilakukan pemerintah. Sehingga, investor tak perlu mengeluarkan biaya untuk pengembangan.

Sebagai langkah awal, Tim Kementerian ESDM bersinergi untuk menyiapkan infrastruktur dan perizinan pengeboran eksplorasi WKP Cisolok-Sukarame yang rencananya dimulai pertengahan 2021. Kegiatan ini diharapkan memberikan berbagai efek positif baik bagi pemerintah daerah, masyarakat, serta stakeholder terkait.

Hal ini disambut positif Bupati Sukabumi Marwan Hamami. Berbagai dampak positif dari pemanfaatan panas bumi di wilayahnya diharapkan bisa dirasakan. Karena itu, ia menyatakan kesiapannya mendukung realisasi eksplorasi tersebut.

"Percepatan pengembangan panas bumi bisa ikut mengembangkan wilayah pesisir selatan Kabupaten Sukabumi," tutur Marwan.

Pemanfaatan dan Manifestasi Panas Bumi
Panas bumi sendiri bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal. Jika dikategorikan, panas bumi bisa dimanfaatkan secara langsung dan tidak langsung.

Untuk pemanfaatan melalui PLTP, ini dikategorikan sebagai pemanfaatan tidak langsung. Sebab, sebelum bisa dimanfaatkan, panas bumi mesti melalui berbagai proses.

Sedangkan pemanfaatan langsung, ada banyak yang bisa dilakukan, mulai dari wisata, agrobisnis, industri, peternakan, pertanian, hingga sterilisasi. Contohnya, pemanfaatan air panas untuk berendam atau berenang, pengeringan kopra, hingga untuk budidaya jamur seperti di Lapangan Panas Bumi Kamojang.

Karena bersifat lokal, pemanfaatan panas bumi secara tidak langsung juga hanya bisa dilakukan di skitar lokasi sistem panas bumi berada. Hal ini tentu menjadi berkah karena bisa bisa dimanfaatkan dan menopang kegiatan ekonomi di kawasan setempat.

Sedangkan untuk mengetahui di suatu kawasan terdapat sistem panas bumi, ada beberapa manifestasi atau ciri-ciri khusus. Di lokasi sekitar biasanya terdapat mata air panas, tanah panas, sinter, solfatara, fumarol, spouting spring-geyser, lumpur panas, hingga batuan alterasi.

"Beberapa manifestasi itu adalah panduan atau indikasi bahwa ada sistem panas bumi di daerah tersebut. Tidak harus ada dua atau lebih, ada salah satu indikasi pun bisa jadi manifestasi bahwa di situ ada sistem panas bumi yang bekerja," jelas Lano.

Berdasarkan pengalaman di lapangan, menurutnya, terkadang ada daerah yang memiliki sistem panas bumi yang memiliki satu manifestasi, misalnya adanya mata air panas. Ada juga yang memiliki beberapa manifestasi.

"Bahkan ada juga yang kita tidak menemukan sama sekali manifestasi. Kita hanya menemukan manifestasi misalnya bekas letusan gunung api tua. Memang ada beberapa yang tidak kelihatan (manifestasinya), tapi setelah dieksplorasi di bawah permukaan tanah itu ternyata ada sistem panas bumi yang bekerja. Itu tergantung dari tatanan geologi di daerah tersebut," papar Lano.

Dalam mencari sumber energi panas bumi, biasanya tim dari PSDMBP ke lokasi hingga beberapa kali dengan jumlah personel beragam. Bahkan, tak jarang tim harus menginap di tengah hutan hingga beberapa pekan untuk memastikan keberadaan ada sistem energi panas bumi di lokasi.

Bandung - Foto: dok. Kementerian ESDM


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler