Bipolar Care Indonesia Bandung, Saling Menguatkan Melawan Stigma

TemanBaik, isu kesehatan mental di Indonesia masih menjadi hal yang banyak disalahpahami masyarakat kita. Gangguan kesehatan mental sering diasosiasikan dengan 'gila'. Keberadaan tenaga medis di bidang kejiwaan juga seakan hal yang menakutkan untuk di datangi. Stigma negatif juga kerap kali dilabeli terhadap orang-orang yang pergi konsultasi ke psikiater atau psikolog.

Dari banyak jenis gangguan kesehatan mental yang ada, Bipolar merupakan salah satu yang paling mendapat sorotan belakangan ini. Terlebih, ketika fenomena banyak artis atau influencer mengklaim mengidap Bipolar. Bisa jadi kasus tersebut benar, namun yang berbahaya adalah klaim pribadi tanpa bantuan tenaga ahli, dalam hal ini psikiater dan psikolog yang menjadikan stigma negatif

TemanBaik tentu pernah mendengar tentang Bipolar? Bipolar merupakan gangguan kesehatan mental yang menyerang neurotransmitter otak di bagian pengendali mood, yang menyebabkan ketidakseimbangan mood bagi penderitanya.

Nah, di Bandung sendiri ada sebuah komunitas bernama Bipolar Care Indonesia (BCI) Simpul Bandung yang terbentuk sejak 1 September 2017. Komunitas yang bertujuan menjadi wadah bagi Orang Dengan Bipolar (ODB) didirikan oleh Isti Chalifati, Mirna dan David Rehata yang juga memiliki pengalaman sebagai penyintas Bipolar. BCI Simpul Bandung ini merupakan perpanjangan tangan dari Bipolar Care Indonesia yang sudah terbentuk sejak 2013 lalu.

Baca Ini Juga Yuk: Ubah Stigma, Apresiasi Kesehatan Mental Lewat Karya Seni

Komunitas ini di khususkan menjadi sebuah wadah bagi ODB untuk saling berbagi dan mendukung sesama penyintas. Beberapa kegiatannya juga ditunjukkan untuk menjadi sarana terapi.

"Jadi komunitas ini itu tempat untuk saling support. Karena biasanya ODB itu kan sering dapat stigma negatif dari lingkungannya. Jadi tempat ini juga wadah berbagi dan berempati bagi sesama penyintas," ujar Icha pada Beritabaik (14/01/20).

Icha menuturkan, stigma yang identik dengan ODB di masyarakat ialah sakit jiwa, terlihat tidak fokus, penyendiri, berlebihan dalam menghadapi masalah sehingga di cap cari perhatian. Selain itu penyintas kerap kali dicap aneh dan sombong.

"Sebenarnya sikap seperti itu karena para penyintas kesulitan berinteraksi karena pikiran yang kacau. Jadinya sering menyendiri sehingga ya mungkin lingkungan mencap seperti itu," ujar Icha.

Daniel Ferry Prasetyo selaku manajer program dari Bipolar Care Indonesia Simpul Bandung, mengatakan terdapat beberapa sharing session untuk para penyintas yang tergabung dalam komunitas ini. Salah satunya untuk diajarkan bagaimana cara berkomunikasi yang baik.

"Kadang para penyintas itu enggak sadar dengan apa yang terlontar dari mulutnya itu bisa menyakiti hati orang lain. Jadi kami sebagai pengurus biasanya ngebantu dulu ngasih tau pelan-pelan kalo ada anggota yang kaya gitu, lama-lama juga mereka ngerti dan bisa berkomunikasi dengan baik," ujar Daniel.

Pria yang berprofesi sebagai seorang pekerja paruh waktu itu juga menuturkan komunitasnya memiliki beberapa kelas bagi para penyintas.

"Kita punya kelas musik, kelas lukis, kelas handicraft. Kelas-kelas ini itu sebenernya jadi ajang terapi juga bagi para anggota," ungkapnya.

Adanya kelas di komunitas Bipolar Care Indonesia Simpul Bandung dirasa sangat penting bagi Icha karena para penyintas diarahkan ke arah yang positif.

"ODB juga termasuk orang-orang yang sangat kreatif sebenarnya. Sehingga kami ingin membuat sebuah pola pikir bagi para anggota, bahwa meskipun di diagnosa memiliki bipolar hal tersebut enggak harus membuat hobi mereka terhenti. Jadi dari situlah kami membuat kelas-kelas tersebut," ujarnya.



Baca Ini Juga Yuk: Pekalongan Siapkan Tim Kesehatan Siaga Bencana di Musim Hujan


Daniel juga mengungkapkan bahwa sharing session yang ada tidak sebatas ditujukan kepada para penyintas, melainkan juga bagi para keluarga.

"Kadang kan enggak selamanya para pendukung ODB itu bisa terus kuat dalam menghangdapi dan mensupport para penyintas. Jadi kami rasa perlu adanya sharing session khusus bagi para keluarga anggota," ungkapnya.

Icha juga sempat diundang ke Australia untuk studi banding mengenai permasalahan isu kesehatan mental yang berkaitan dengan Bipolar.

"Sejak itu saya semakin semangat untuk membantu memperjuangkan hak-hak para ODB dan penyintas gangguan kesehatan mental lainnya. Terlebih di negara kita masih banyak yang belum diperhatikan," katanya.

Sejauh ini komunitas Bipolar Care Indonesia Simpul Bandung memiliki anggota sekitar 400 orang. Melalui komunitas ini juga, Icha dan pengurus lainnya turut serta dalam merancang Undang-undang mengenai segala ruang lingkup para penyintas gangguan kesehatan mental. Tujuannya, agar mereka dapat hidup lebih layak dan hidup bermasyarakat tanpa dikucilkan atau diberi stigma negatif.

Foto : dok. Bipolar Care Indonesia Bandung


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler