Jurnalisme Warga ala Balebengong

TemanBaik, pesatnya arus informasi menjadikan kita punya banyak pilihan saat hendak mencari informasi tersebut. Salah satu alternatif sumber informasi yang bisa kita temui sehari-hari adalah jurnalisme warga.

Beritabaik.id punya kesempatan berbagi kisah dengan Oktaria Asmarani. Wanita yang akrab disapa Rani ini aktif menjadi penulis di Balebengong.

Nah, Balebengong itu sendiri merupakan salah satu wadah jurnalisme warga, khususnya untuk wilayah Bali. Konsep jurnalisme warga disajikan oleh Balebengong karena mereka merasa informasi yang bersifat partikular, ringan, dan berasal dari warga juga tak kalah menarik dari informasi yang disajikan oleh media massa pada umumnya. Balebengong itu sendiri hadir sebagai wadah jurnalisme warga sejak tahun 2007.

Sepanjang 13 tahun perjalanannya, media daring yang menjadi wadah menulis warga khususnya di daerah Bali ini begitu tersohor dengan sajian informasinya yang menarik. Enggak melulu disuguhi panasnya perdebatan atau berita-berita yang bikin hati gusar, justru mereka menghadirkan sisi menarik, khususnya dari tempat mereka lahir yakni Pulau Bali. Rani menyebut, berbagai topik jurnalistik yang dirasa sangat ringan, bahkan kerap terlupakan, justru mendapat tempat yang cukup luas di Balebengong.

“Balebengong itu sejenis Hub (perkumpulan) bagi orang-orang yang punya gagasan beragam. Enggak hanya ngomongin sosial dan politik, tapi juga wadah untuk orang-orang yang mau nulis kisah yang bisa dikatakan sangat receh, pengalaman yang banal, itu bisa semua di sana,” terang Rani dalam wawancara khusus dengan Beritabaik.id, Jum’at (13/11/2020).

Jurnalisme warga dalam pandangan Rani sebagai pelaku media itu sendiri disebut sebagai sesuatu yang penting. Sebab, Indonesia dengan keberagamannya tidak mungkin dapat dicakup atau diekspos oleh media pada umumnya atau media mainstream. Kehadiran jurnalisme warga seolah jadi alternatif baru sumber informasi, sehingga pembaca media punya banyak pilihan menu dan dibebaskan memilih informasi jenis apa yang hendak mereka konsumsi.

Konsep jurnalisme warga menurut Rani memang sesimpel melakukan kegiatan jurnalistik (menghimpun, menulis, dan menyiarkan informasi melalui sebuah media) namun dilakukan oleh warga, alias tidak melulu dilakukan oleh jurnalis profesional. Hanya saja, ia mengaku tantangan di jurnalisme warga ini adalah kontrol dalam penyiaran berita itu sendiri. Ada kekhawatiran dalam dirinya, apabila warga dibiarkan melakukan kegiatan jurnalistik tanpa diberi edukasi mengenai kode etik jurnalistik itu sendiri.

“Enggak jarang, kami juga bikin semacam pelatihan jurnalistik ke warga-warga yang, katakanlah di pelosok, begitu. Bukan pelatihan yang ribet sebetulnya. Isi pelatihannya semacam mengumpulkan nih, potensi informasi yang seperti apa yang bisa digali menjadi sebuah berita,” ujar alumni Universitas Gadjah Mada tersebut.

Kendati sudah banyak dilakukan di berbagai wilayah, jurnalisme warga memang belum semasif perkembangan jurnalisme mainstream yang banyak dilakukan oleh pelaku industri media. Rani juga menjelaskan, agar konsep jurnalisme warga ini dapat dilestarikan dan tumbuh di banyak penjuru Nusantara, kita bisa memulainya dengan membangun wadah jurnalisme warga tersebut lalu kemudian rutin menggelar pertemuan atau pelatihan jurnalistik.

Tidak harus mempersiapkan materi jurnalistik yang rumit, kegiatan pelatihan ini cukup diisi dengan membuka mata warga tentang potensi nilai berita di wilayah masing-masing serta menanamkan kepercayaan diri bahwasannya tiap orang bisa menyebarkan berita baik di wilayahnya masing-masing ke seluruh penjuru dunia.

“Kita enggak perlu nunggu orang lain nulisin kita. Kita bisa nulis tentang diri kita kok, dan kita mendorong nih para warga itu untuk bisa menuliskan sesuatu tentang diri mereka,” ujarnya.

Hadirnya pelatihan dalam upaya mengembangkan jurnalisme warga merupakan sesuatu yang disebut sangat penting oleh Rani. Sebab, edukasi mengenai regulasi penerbitan informasi melalui media juga merupakan hal yang tidak boleh luput dari perhatian. Mengajarkan warga untuk jadi jurnalis di wilayahnya mesti dibarengi pula dengan upaya membuat warga tersebut melek regulasi.

Sebagai penyedia informasi yang mungkin tidak terjangkau oleh media mainstream, kehadiran jurnalisme warga tentu menjadi pilihan baik. Selain informasinya yang beragam, jurnalisme warga juga bisa menjadi wahana edukasi baru bagi pembaca yang haus informasi menarik. Rani juga berharap agar jurnalisme warga ini bisa terus tumbuh berkembang di tiap daerah se-Indonesia.

TemanBaik, pernahkah kamu melakukan kegiatan jurnalisme warga dan menyiarkannya? Masih ingat tidak, karya jurnalistik apa yang kamu tampilkan?


Foto: Unsplash/Markus Winkler

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler