#AksiBaik Komunitas Ibu Berbagi yang Bikin Hangat Hati

Bandung - Kebaikan bisa dilakukan siapapun, termasuk oleh ibu rumah tangga. Ini dibuktikan Komunitas Ibu Berbagi Bandung. Seperti apa sih #AksiBaik yang mereka lakukan? Kenalan lebih jauh, yuk!

Pendiri Komunitas Ibu Berbagi Bandung Fitri Asfiaty Garini berbagi cerita dengan BeritaBaik.id soal perjalanan komunitasnya. Perempuan yang akrab disapa Bunbeb itu mengatakan ide awal kegiatan komunitasnya ada sekitar delapan tahun lalu.

Saat itu, Fitri dan teman-temannya yang sesama ibu rumah tangga kerap 'nongkrong' di sekolah untuk menunggu anaknya. Di sela perbincangan dengan teman-teman sesama orang tua siswa, terbersit pikiran untuk melakukan #AksiBaik daripada sekadar mengisi waktu luang dengan 'nongkrong'.

Tak butuh waktu lama, ide itu kemudian terealisasi. Kegiatan awal yang dilakukan adalah berbagi nasi setiap jumat kepada mereka yang membutuhkan. Karena punya kesibukan lain, kegiatan berbagi nasi ini hanya dilakukan sepekan sekali. Jumat dipilih sebagai hari berbagi nasi karena dinilai sebagai hari yang baik.

Seiring perjalanan, para ibu-ibu ini tak hanya berbagi nasi, tapi juga melakukan kegiatan sosial lain, misalnya memberi bantuan kepada warga di lokasi terdampak bencana.

Selama dua tahun, kumpulan ibu-ibu ini tak punya identitas. Mereka hanya menjalankan berbagai aksi sosial tanpa nama. Setelah itu, barulah mereka menamai kelompoknya Komunitas Ibu Berbagi. Itu sesuai dengan anggotanya yang semuanya ibu-ibu rumah tangga.

"Dua tahun lalu, Desember 2018, kita sudah legal secara badan hukum dengan nama Yayasan Komunitas Ibu Berbagi," kata Bunbeb.



Baca Ini Juga Yuk: Kolaborasi #AksiBaik , Bagikan Makanan untuk Jemaah Salat Jumat

Lakukan Beragam Kegiatan
Selama delapan tahun aktif, komunitas ini banyak melakukan aksi sosial. Berbagi nasi tentu jadi hal rutin yang kerap dilakukan. Adanya berbagia bencana juga jadi sarana bagi mereka untuk berbuat baik dengan menggalang donasi dan menyalurkannya.

"Kayak kemarin-kemarin misalnya ada pondok pesantren yang kebakaran, kita open donasi untuk bantu," ujarnya.

Di luar itu, mereka kerap membagikan sembako ke lansia, dhuafa, yatim piatu, hingga membantu perbaikan atau pembangunan masjid. Ada juga kegiatan keagamaan yang dilakukan, misalnya kajian agama Islam. Mereka bahkan pernah menghadirkan beberapa ustaz top di Bandung seperti Ustaz Evie Effendi, Dudi Mutaqien, Edwin Senjaya, Aam Amirudin, bahkan sekelas Ustazah Peggy Melati Sukma.

Komunitas ini juga beberapa kali menggelar kegiatan donor darah. "Bulan depan kita akan agendakan lagi kegiatan donor darah ini," ungkap Bunbeb.

Di tengah pandemi COVID-19, para ibu-ibu juga cukup aktif. Mereka kerap memberi bantuan kepada warga yang terdampak. Teranyar, mereka membantu keluarga terpapar COVID-19 yang sedang menjalani isolasi mandiri di salah satu daerah di Bandung.

"Ada tiga keluarga yang harus isolasi, total semuanya tuh 13-15 orang. Ini mereka sudah 10 hari isolasi dan enggak kerja. Alhamdulillah kita bisa datang, selain berbagi nasi, kita juga menyampaikan sembako dan lauk-pauknya karena enggak mungkin kita support setiap hari. Selain itu, dengan bantuan ini mereka juga bisa mengolahnya sendiri untuk beberapa hari," tutur Bunbeb.

Berjuang Tanpa Melupakan Kodrat
Anggota dari Komunitas Ibu Berbagi ini terdiri dari berbagai macam latar belakang. Ada yang ibu rumah tangga sepenuhnya, ada juga yang punya usaha hingga berdagang.

Sebagai ibu rumah tangga, mereka jelas punya kesibukan sendiri di rumah, mulai dari mengurus rumah, hingga suami dan anak. Namun, di tengah kesibukannya, mereka memaksimalkan waktu luang yang ada untuk berbuat baik.

Setiap anggotanya diberi keleluasaan untuk melakukan aktivitas pribadi masing-masing, terutama yang berhubungan dengan keluarga. Sehingga, ketika bergabung dengan komunitas dan melakukan kegiatan sosial, seluruh kewajiban mereka sebagai ibu rumah tangga sudah dipenuhi.

Sebab, mereka sadar betul kodrat sebagai ibu rumah tangga. Ada kewajiban yang harus didahulukan meski bersama Komunitas Ibu Berbagi berusaha melakukan kebaikan. Intinya, mereka berprinsip kebaikan tetap dilakukan, kewajiban tak ditinggalkan.

"Alhamdulillah, karena Allah SWT memberi kita waktu 24 jam, waktu itu kita maksimalkan sebaik mungkin, (kewajiban) untuk keluarga, anak, semua dipenuhi," ungkap Fitri.

"Jadi, kita menyiasatinya setelah beres semua agenda di rumah (dan kewajiban ibu rumah tangga lainnya), misalnya setelah beres PJJ, makananan sudah siap di rumah, baru kita berkegiatan di luar. Izin suami juga penting. Karena percuma kita melakukan kegiatan sosial di luar kalau suami enggak kasih izin," jealasnya.

Hikmah dan Kepuasan
Bunbeb mengatakan ada rasa kepuasan tersendiri yang dirasakan anggota Komunitas Ibu Berbagi lewat kegiatan sosialnya. Kerap terjun langsung dan bertemu dengan orang-orng yang membutuhkan menempa rasa syukur mereka jadi lebih besar.

Sebab, meski masing-masing anggota punya beragam kesulitan dalam hidup, mereka bisa melihat langsung di luar sana lebih banyak orang yang lebih sulit.

"Kalau kita sering melihat ke atas, jadinya akan kurang bersyukur. Tapi, kalau sering terjun (bertemu orang-orang membutuhkan), melihat ke bawah, kita makin disentil sama Allah SWT bahwa kenikmatan kamu itu banyak," papar Bunbeb.

Ia sendiri mengaku banyak mendapatkan hikmah dari sepanjang perjalan bersama komunitasnya. Ia sudah bertemu berbagai orang dengan segala kesulitan hidup, mulai dari korban bencana hingga orang yang terpapar COVID-19.

Rasa syukur kerap menghampirinya. Bahkan, ia memandang kesulitan yang dialaminya tak seberapa dibanding orang lain di luar sana. Karena itulah ia dan teman-temannya selalu bersemangat dan berusaha konsisten melakukan #AksiBaik.

Berbagai #AksiBaik itu pun memberi kepuasan tersendiri. Ketika apa yang dilakukan bermanfaat dan membuat bahagia orang lain, kebahagiaan yang ada tak dapat digambarkan. Bahkan, kepuasan dan kebahagiaan yang didapat itu tak akan mampu terukur dengan nominal uang.

Selain rasa syukur yang besar, berbagai aksi yang dilakukan juga dirasa membuat para anggotanya selalu dinaungi pertolongan dan kemudahan. Sebagai contoh, ada orang tua salah satu anggota yang mengalami patah tulang.

"Atas izin Allah SWT, begitu masuk rumah sakit tidak menunggu waktu lama, langsung diproses, langsung dioperasi," ungkap Bunbeb.

Ada juga relawan komunitas yang merupakan penyintas kanker. Saat pagi, orang tersebut sempat mengantar pasien dampingan ke rumah sakit. Namun, malamnya ia merasakan mules yang hebat karena akan melahirkan.

"Dia cuma 1,5 jam mulesnya dan melahirkan dengan mudah dan normal. Padahal sebelumnya dia melahirkan cesar," tuturnya.

Cerita dan kisah hidup masing-masing anggota itu mungkin bagi sebagian orang dianggap biasa. Namun, disadari atau tidak, dan kebetulan atau tidak, hal itu dirasa sebagai sebuah pertolongan dan hikmah dari aksi baik yang dilakukan.

Bunbeb dan teman-temannya pun tak pernah menghitung pahala dari aksi sosial yang dilakukan. Namun, ia meyakini apa yang dilakukan sebagai sebuah kebaikan. Ketika bisa melakukan hal bermanfaat untuk sesama, maka hal itu harus dilakukan.

Nah, jika TemanBaik penasaran dengan aksi para ibu-ibu di Komunitas Ibu Berbagi atau ingin berdonasi untuk membantu kegiatan sosialnya, kamu bisa melihatnya di akun Instagram @komunitasibuberbagi.

Foto: dok. Komunitas Ibu Berbagi


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler