Semangat KAMUN Arunika Dampingi Anak Belajar Calistung

Bandung - Berangkat dari keresahan akan kondisi siswa-siswi khususnya SD di Desa Wangunsari, Lembang, sejumlah pemuda mengaktivasi KAMUN Arunika. Seperti apa kegiatan mereka? Yuk kita kenalan!

KAMUN Arunika merupakan singkatan dari Kegiatan Anak Muda Untuk Negeri. Sedangkan nama Arunika itu sendiri bermakna mentari pagi. Komunitas ini mulai bergerak aktif sejak September 2020 silam. Dengan bantuan sejumlah relawan, KAMUN Arunika melakukan pendampingan terhadap siswa-siswi kelas 1 hingga 6 yang tinggal di sekitar Wangunsari, Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Kami punya kesempatan untuk main dan berbincang dengan pendiri KAMUN Arunika, Sugiyanto Utomo. Ia menjelaskan, keresahan akan keadaan di Wangunsari, yang mana masih terdapat siswa kelas 3 hingga 6 SD yang belum lancar membaca kemudian membawanya untuk ada di sini.

"KAMUN Arunika ini awalnya diberi nama Komunitas Pendidik Bandung. Dan saya coba ngundang beberapa volunteer mahasiswa aja, dan alhamdulillah makin ke sini makin banyak orang yang hadir untuk jalan bareng kita," ujar Sugi, sapaan akrabnya.


Dalam kegiatannya, KAMUN Arunika melakukan pendampingan siswa-siswi dalam belajar Calistung, alias membaca, menulis, dan berhitung. Tiap Selasa, Rabu, dan Kamis, mereka membuka kelas di Bale Rancage Yayasan Tugu Alam Lestari, Jalan Tugulaksana, Wangunsari, Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Sebanyak 20 hingga 30 siswa selalu hadir dalam pertemuan tersebut.

Baca Ini Juga Yuk: #AksiBaik Komunitas Ibu Berbagi yang Bikin Hangat Hati

Jumlah siswa tersebut didampingi oleh 8 hingga 10 kakak pendamping, yang merupakan relawan mahasiswa. Menariknya, para relawan ini berasal dari lokasi yang cukup jauh dari Bale Rancage. Perjalanan sekitar 20 hingga 30 kilometer ditempuh dengan semangat oleh para relawan. Mereka mengaku senang dapat mengajar dan berbagi ilmu di KAMUN Arunika. Malah, mereka mengaku kerap malas pulang karena kondisi di tempat belajarnya sangatlah nyaman.

Kegiatan pembelajaran dimulai pukul 14.00 WIB, dengan jadwal membaca terlebih dulu. Anak-anak bimbingan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok bulan yang berisi siswa kelas 1, 2, dan 3 SD. Sedangkan siswa kelas 4, 5, dan 6 akan masuk kelas bintang.

"Untuk siswa kelas bulan, biasanya sebelum mereka diizinkan masuk ke kelas berhitung, ada sejenis tiket masuknya yaitu dengan membaca. Ya, bacanya harus lancar dulu," ujar Sugi.


Pembelajaran berhitung di sana juga enggak sebatas satu tambah satu sama dengan dua saja. Sugi menerapkan soal cerita dalam pembelajaran berhitung. Hal ini diterapkan guna melatih anak membaca, dan juga membangun cara berpikir logis. Istilah lainnya metode ini adalah satu kali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.

Sementara itu khusus hari Kamis, biasanya anak-anak akan mendapat kelas Bahasa Inggris. Oh ya, enggak jarang juga anak-anak bimbingan KAMUN Arunika ini membawa PR nya untuk dipelajari dan dikerjakan saat bimbingan bersama kakak-kakak relawan. Beberapa siswa siswi tingkat SMP juga masih diterima untuk belajar bersama. Nah, siswa-siswi SMP itulah yang biasanya datang membawa PR.

"Beberapa siswa SMP di sini masih parah matematikanya. Makanya kita lakukan pendampingan," ujar Sugi, yang juga aktif mengajar Geografi di SMAN 12 Bandung ini.

Kegiatan belajar bersama itu berakhir pukul 16.00, dan dirangkaikan dengan kegiatan mengaji pada sore harinya. Namun, kegiatan mengaji ini bukan program reguler dari KAMUN Arunika. Sugi menjelaskan, ada seorang guru mengaji, yang mana sebelum Arunika membuat kelas pendampingan reguler, aktivitas ngaji sore ini terlebih dulu ada.

Selain mengajar, KAMUN Arunika juga mengaktivasi kegiatan sosial. Dengan sumber daya relawan yang banyak, mereka membagi peran satu sama lainnya ke dalam berbagai divisi. Ada divisi pengajaran, dan ada pula divisi kemasyarakatan. Apabila divisi pengajaran ini kegiatan rutinnya adalah melakukan pendampingan terhadap anak, maka divisi kemasyarakatan adalah tim yang terjun langsung ke masyarakat dalam menangani isu terkini.

Beberapa aksi sosial yang digagas divisi kemasyarakatan di KAMUN Arunika adalah cek kesehatan yang diselenggarakan di Desa Wangunsari. Selain itu, saat terjadi peristiwa longsor di Cimanggung, tim kemasyarakatan ini dengan cekatan bergerak membuat aksi sosial.

"Sebetulnya kami ingin pengajaran yang dilakukan itu selain untuk anak, tapi juga buat orang tuanya. Sehingga masyarakat bisa melakukannya dan berkembang sendiri," ujar Sugi.

Namun, ia mengaku kalau tujuan ini enggak mungkin bisa dicapai dengan cara yang mudah. Oleh karenanya, saat ini mereka fokus menjalankan aksi baik untuk cakupan yang masih bisa mereka jangkau. Pendekatan melalui pembelajaran terhadap anak dipilih karena nyatanya seluruh anak didik KAMUN Arunika nampak semringah dan begitu antusias mengikuti proses belajar.

Dalam waktu dekat ini juga, KAMUN Arunika berbagi seputar pertanian dan pengolahan sampah. Lagi-lagi, mereka mengedukasi warga lewat anak-anak terlebih dulu.

Sebagai catatan penting, segala bentuk pendampingan belajar didapatkan oleh anak tanpa perlu mengeluarkan biaya sepeser pun alias gratis! Jadi, anak bimbingan hanya perlu datang dan mengikuti bimbingan dengan benar. Wah, keren sekali memang KAMUN Arunika ini.

Pekerjaan Rumah komunitas ini ialah membangun serta menambah lagi medium belajar bagi anak didiknya. Saat ini, medium buku cerita bergambar sedang menjadi bidikan teman-teman KAMUN Arunika. Menurut Sugi, buku cerita bergambar ini penting menjadi media pelengkap proses belajar membaca pada anak.

"Tentu, kita juga membuka dengan lebar pintu kerja sama dengan berbagai pihak. Mau sumbang tenaga, boleh banget. Atau yang lainnya, silakan. Kita sambut dengan tangan terbuka," ujarnya.

TemanBaik, dalam menjalani hidup, sebisa mungkin jadilah orang yang enggak berhenti berbagi. Berbagi kesenangan, waktu, dan ilmu bersama saudara-saudara yang memerlukan pendampingan kita adalah aksi baik yang tentu harus dilestarikan. Panjang umur untuk segala kegiatan di KAMUN Arunika, ya!

Foto: Djuli Pamungkas/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler