Alasan Mengapa Ketupat dan Opor Identik dengan Idulfitri

Malang - Apa menu makanan yang terlintas di benak TemanBaik di hari raya Idulfitri? Pastinya ketupat dan opor ayam. Dua makanan ini menjadi sesuatu yang wajib ada untuk menemani momentum Idulfitri.

Nah, tapi pernah enggak TemanBaik bertanya-tanya mengapa Idulfitri harus identik dengan dua makanan tersebut? Mengapa tidak makanan yang lain?

Ternyata ketupat dan opor ayam ini memiliki nilai filosofis yang cukup tinggi lho. Pakar tata boga dari Malang, Ita Fatkhur Romadhoni, S.Pd, M.Pd mengatakan hidangan lebaran seperti ketupat dan opor ayam sebenarnya memiliki makna yang saling berkaitan.

Menu opor ayam, kata Dhoni, merupakan istilah serapan dari bahasa jawa kuno yang artinya 'apura-ingapura' atau 'ngapuro' yang berarti memaafkan.

"Sehingga menurut saya sangat logis jika opor disajikan pada waktu hari lebaran," ungkap Dhoni.

Begitu juga denga ketupat yang memiliki makna filosofis tersendiri. Menurut Dhoni, ketupat adalah salah satu simbol dalam bentuk makanan. Seperti bentuknya, ketupat diibaratkan sebagai penghubung antara manusia dengan Tuhan dan segala ciptaan-Nya.

"Jadi, pada ketupat itu sendiri merupakan singkatan dari laku papat (empat perilaku) yaitu cipta (pikiran), rasa, karsa (sikap) dan karya (perbuatan) atau segala tindakan yang berhubungan dengan kehidupan diri sebagai manusia," ujar Dhoni yang juga merupakan dosen Tata Boga di Universitas Negeri Malang (UM).

Baca Ini Juga Yuk: Gang Banyu Urip, dari Sentra Tempe Jadi Kampung Lontong

Selain itu, Dhoni juga menyebutkan, ada beberapa sumber sejarah yang mengatakan bahwa ketupat diciptakan oleh Sunan Kalijaga dan dijadikan sebagai budaya, sekaligus filosofi Jawa yang berbaur dengan nilai keislaman. 

Lebaran sendiri, kata Dhoni, berasal dari kata dasar "lebar" yang memiliki makna pintu ampun yang dibuka lebar terhadap kesalahan orang lain.

Ia juga menambahkan bahwa ada sebagian masyarakat yang mengatakan bahwa lebaran berasal dari kata "luberan" dari kata dasar "luber" yang artinya melimpahi, memberi sedekah pada orang yang membutuhkan.

"Sebagian orang juga ada yang menyebutkan 'leburan' dari kata dasar 'lebur' yang berarti melebur dosa yang dilalui selama satu tahun," terangnya.  

Meski demikian, Dhoni mengatakan bahwa hidangan makanan yang disajikan saat lebaran tak terbatas hanya opor dan ketupat. Masih banyak aneka makanan khas lebaran yang menyesuaikan budaya di masing-masing daerah.  

"Menurut saya sebenarnya banyak cuman saat lebaran makanan khas daerah menjadi ajang unjuk gigi. Sesuai dengan daerah masin -masing mempunyai ciri khasnya sendiri seperti semur daging (Jakarta), gulai nangka (Medan), rendang (Padang), ayam gagape (Makassar), soto banjar (Banjarmasin), ayam woku (Manado), sambal kentang goreng, pecel Madiun dan blendi tewel Blitar," pungkas Dhoni.

Foto: Ilustrasi Unpslash

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler