Jamu Cekok Krekop Yogya, Legendaris Sejak 1948

Kalau sedang berkunjung ke Yogyakarta, enggak ada salahnya mampir ke kedai jamu ini. Ya, namanya Jamu Cekok Krekop. Terletak di Jl. Brigjend Katamso No. 124, kedai jamu ini sudah eksis sejak tahun 1948.

Meski bukan yang pertama muncul, namun jamu cekok krekop Ibu Hj. CH. Sumartini ini sudah dijalankan oleh empat generasi. Pemilik usaha turun temurun ini adalah Sumbodo Suryodihardjo dan Suhartini. Barangkali kamu berasal dari luar Yogyakarta dan belum tahu letak kedai jamu ini, kamu bisa menyusuri sepanjang Jalan Brigjend Katamso. Kalau kamu berjalan dari arah selatan (Pojok Benteng) menuju lampu merah alun-alun, maka letak kedainya berada di kiri jalan. Ciri kedai jamu ini begitu khas, yaitu bangunan lama yang berasal dari kayu.

Oh ya, untuk kamu yang belum tahu, istilah jamu cekok ini mengacu pada proses pemberian jamu untuk anak-anak yang umumnya dilakukan dengan cara dicekoki. Konon, ramuan jamu yang akan diberikan kepad aanak ditaruh di dalam kain bersih, kemudian dicekokan kepada anak. Ini merupakan kebiasaan di masa lampau, mengingat tanpa metode ini, jamu relatif sulit diterima oleh anak-anak.

Berbagai jenis jamu bisa dipilih oleh pembelinya. Adapun jamu-jamu yang bisa dipilih untuk orang dewasa itu sendiri antara lain pilis, kunir asam, tujuh angin, walik, banyak jongko, darah tinggi, influenza, temu lawak, dan puluhan jenis jamu lainnya. Sementara jamu untuk balita antara lain tapel anak, param anak, batuk anak, endak-endak, cacing anak, dan pupuk kepala.

Baca Ini Juga Yuk: Kreatifnya Leluhur Indonesia Mengolah Makanan

Saat Beritabaik.id berkunjung ke kedai ini, kami berjumpa langsung dengan Ibu Suhartini. Berbagai menu terpampang saat awal kami masuk ke dalam kedai. Ibu Suhartini dengan ramah langsung menanyakan keluhan apa yang dirasakan. Kami memutuskan untuk memesan jamu pegal linu.

"Biasanya kalau pegal linu bagusnya pakai telur," ujar Suhartini sebelum membuatkan jamu pegal linu.

Harga jamu di kedai ini bervariasi. Untuk satu cangkir jamu pegal linu, kita perlu merogoh kocek Rp15 ribu. Menurut Suhartini, harga satu cangkir jamu bergantung kepada banyaknya varian jamu di dalamnya. Selain jamu untuk kesehatan, ada pula jamu untuk sawanan yang disediakan di kedai ini.

Di tengah modernisasi, eksistensi jamu masih punya nilai tinggi. Apalagi di musim pandemi seperti saat ini. Kendati tidak ada jaminan kalau jamu bisa menangkal virus korona, namun kandungan baik di dalam jamu diyakini mampu meningkatkan kekebalan tubuh supaya kamu enggak mudah terserang penyakit, apalagi virus.

Kembali ke kedai Jamu Cekok Krekop, Suhartini menyebut selama pandemi ini memang terdapat perubahan jam buka dari kedai ini. Apabila di waktu normal, kedai ini buka sejak pukul 07.00 hingga 19.00, maka di musim pandemi, kedai buka pukul 7 pagi hingga 1 siang, lalu kemudian dilanjut lagi pukul 4 sore hingga 6 petang.

"Pengunjung sih relatif. Enggak bisa dibilang menurun atau meningkat, ya. Namun yang saya lihat di sini, kebutuhan masyarakat kita untuk mengonsumsi jamu di tengah banyak pilihan obat itu masih bisa dibilang tinggi," ujar Suhartini.

Menjadi generasi keempat dalam menjalankan usaha turun temurun ini, ada harapan besar dari dalam diri Suhartini agar usaha yang dijalankannya ini dapat terus berlangsung hingga generasi berikutnya. Tentu, keberagaman jenis obat-obatan di era modern jadi salah satu tantangan. Akan tetapi, khasiat nyata dan ciri khas jamu sebagai obat tradisional tentu enggak bisa dilupakan, apalagi ditinggalkan begitu saja.

Pada akhirnya, mencicipi jamu bukan sekadar membeli nilai romantis dengan ramuan tradisi saja. Jauh dari itu, ada banyak kandungan baik di dalam jamu yang juga bersahabat dengan tubuh kita. Jadi, enggak ada salahnya kita menjajal ramuan tradisional asli Indonesia ini, karena rasanya pun pasti bersahabat.

TemanBaik, ada yang pernah minum jamu? Coba sebutkan jamu apa yang jadi kesukaanmu!

Foto: Rayhadi Shadiq/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler