'Batang Buruk', Kue Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Bandung - TemanBaik, pernah mendengar nama kue 'batang buruk'? Mungkin di antara kamu ada yang asing mendengarnya. Bahkan, mungkin ada yang berpikir kue ini disebut batang buruk karena bentuknya yang buruk.

Batang buruk ini adalah kuliner khas Kepulauan Riau dan Riau. Meski namanya batang buruk, kue ini menawarkan rasa yang jauh dari kata buruk. 

Kue ini punya ukuran yang kecil-kecil, yaitu hanya sekitar 3-4 sentimeter per buah. Merupakan jenis kue kering, ketika dimakan, kue ini akan mudah hancur si mulut. Bahkan, jika tak hati-hati, kue ini bisa berceceran ketika digigit.

Ada cerita menarik di balik lahirnya batang buruk ini. Dilansir di laman Kemendikbud, konon batang buruk ini sudah ada dan dikenal sejak empat abad silam. Resep pembuatannya diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi sehingga bisa bertahan hingga kini.

Biasanya, kue-kue mungil berbahan tepung ini dibuat masyarakat Melayu untuk memeriahkan Hari Raya Idul Fitri atau buah tangan jika berkunjung ke rumah kerabat dan handai tolan. Jadi, khas banget deh kalau merayakan Idul Fitri di sana.

Sebutan kue batang buruk ini bermula dari kisah cinta Wan Sendari, putri sulung Baginda Raja Tua yang memerintah di Kerajaan Bintan sekitar 450 tahun silam. Ceritanya, sang putri memendam cinta kepada seorang pemuda tampan lagi pemberani bernama Raja Andak bergelar Panglima Muda Bintan.

Baca Ini Juga Yuk: Sisi Menarik Gudeg, Si Manis Makanan Khas Yogyakarta

Namun, cintanya bertepuk sebelah tangan. Lelaki idamannya itu lebih memilih Wan Inta, adik kandung Wan Sendari. Terbayang kan bagaimana perasaan Wan Sendari?

Tak mau larut dalam kesedihan cintanya yang bertepuk sebelah tangan, Wan Sendari berusaha mengusir galau di hatinya. Ia menyibukkan diri di dapur bersama dayang-dayang istana.

Singkat cerita, Wan Sendari berhasil membuat sebuah penganan unik. Makanan berbentuk kue itu jika digigit akan hancur berderai. Usai membuat kue, Wan Sendari memohon kepada ayahandanya, Baginda Raja Tua agar penganan buatannya itu dapat dipersembahkan untuk para tetamu dan pembesar-pembesar kerajaan.

Baginda Raja Tua tak menolak. Hingga pada suatu hari, para tamu dan pejabat kerajaan berkumpul di istana. Kue buatan Wan Sendari itu pun dihidangkan. Di antara para tamu yang datang terdapat pula Raja Andak, lelaki idaman Wan Sendari.

Para tamu kemudian mencicipi kue yang baru pertama kali mereka lihat itu. Namun beberapa saat saja setelah menggigitnya, mendadak mereka merasa malu. Sebab, sebagian kepingan kue jatuh berderai.

Serpihan-serpihannya berserakan mengotori pakaian kebesaran yang mereka kenakan. Hanya Raja Anda, Panglima Muda Bintan, yang tak terkecoh. Tatkala Raja Andak memakan kue itu, tiada serpihan kue yang berjatuhan.

Dari makanan ini, ada filosofi yang mendalam dan penuh makna, yaitu 'biar pecah dimulut, jangan pecah di tangan'. Hal ini menggambarkan bagaimana seseorang bangsawan mempunyai etika pada saat makan. Tak terkecuali ketika sedang mencicipi sebuah penganan.

Apabila seseorang bangsawan terburu-buru dan ceroboh ketika makan atau mencicipi penganan, maka mencermikan betapa buruknya tingkah laku bangsawan tersebut. Dalam banget kan maknanya?

Inilah sebuah pesan bijak dari sebuah penganan kalangan bangsawan melayu yang bernama kue batang buruk. Nama boleh buruk, tapi cita rasanya yang lezat akan membuat anda ketagihan.

Bahan kue batang buruk sendiri terbuat dari tepung gandum dicampur dengan tepung beras dan tepung kelapa yang diuli menjadi adonan dan dibentuk membentuk silinder bulat berongga. Di dalamnya diisi dengan serbuk kacang hijau yang di goreng. Dari momen itu pula nama batang buruk disematkan dan bertahan hingga ini.

Foto: dok. Kemendikbud

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler