Mi Kocok Cepay, Kuliner Legendaris tanpa Kompor

Bandung - TemanBaik, tentu familiar dong jika mendengar kata mi kocok? Ya, kuliner ini adalah makanan khas dari Bandung. Isinya berupa mi kuning yang dipadukan dengan kikil alias kulit kaki sapi.

Umumnya, mi kocok in disajikan tanpa bakso. Kikil inilah yang menjadi penggantinya. Rasanya lezatnya bertambah dari kuah yang gurih, ditambah taburan bawang goreng dan irisan seledri. Menambahkan kecap dan sambal akan menambah rasanya makin menggugah selera. Ingin rasanya lebih sempurna? Sajian kerupuk akan membuatnya terasa lebih nikmat.

Di tempat asalnya di Bandung, mi kocok ini banyak banget yang menjual, mulai dari yang ditanggung alias dipikul, menggunakan gerobak, hingga berjualan menetap di satu lokasi. Bahkan, beberapa mi kocok sudah sangat terkenal dan legendaris banget.

Salah satu yang terkenal dan legendaris adalah Mi Kocok Cepay. Banyak hal yang menarik untuk diulas dari mi kocok ini. Simak ulasannya, yuk!

Berawal dari Jualan Keliling
Saat ini, Mi Kocok Cepay sudah berusia sekitar 46 tahun. Legendaris banget jika melihat dari usia perjalanannya, kan? Mi kocok ini sudah ada sejak 1975.

Semula, mi kocok ini dijual dengan cara berkeliling oleh Mamat Rohmat. Saat itu, Mamat menjualnya dari dengan memikul dagangannya dan berkeliling ke beberapa wilayah, salah satunya di sekitaran kawasan Cicendo.

Namun, seiring perjalanan waktu, mi kocok yang dijual Mamat memiliki banyak pelanggan setia. Sehingga ia merasa membutuhkan tempat yang bisa digunakan berjualan secara menetap. Ia kemudian memilih berjualan di kawasan GOR Pajajaran yang berlokasi di Jalan Pajajaran, Kota Bandung.

"Buka di GOR Pajajaran itu dari tahun 1980 sampai sekarang," kata Risna Purnama Sari.

Tak hanya di GOR Pajajaran, Mi Kocok Cepay juga membuka cabang di Jalan Samiaji. Di sini, Risna-lah yang menjalankan usaha tersebut. Sehingga, pelanggan Mi Kocok Cepay punya dua opsi jika ingin menyantap mi kocok yang lezat.

Asal-usul Nama Mi Kocok Cepay
Penamaan Mi Kocok Cepay sendiri cukup menarik. Sebab, nama ini justru berasal dari sebutan para pelanggan. Awalnya, ketika masih dijual berkeliling, mi kocok ini dikenal dengan sebutan Mi Kocok Pak Mamat. Saat itu, harganya masih Rp100.

Karena harganya Rp100, banyak pelanggan warga keturunan Tionghoa yang menyebutnya dengan mi kocok cepek yang berarti mi kocok dengan harga Rp100. Istilah ini kemudian diplesetkan menjadi Mi Kocok Cepay.

Dalam perjalanannya, mi kocok ini juga sempat dikenal sebagai Mi Kocok GOR Pajajaran karena tempat berjualannya di GOR Pajajaran. Namun, penyebutan Mi Kocok Cepay ini menjadi lebih populer dan namanya digunakan hingga sekarang.

Tapi, secara formal, baru sekitar 10 tahun terakhir nama Mi Kocok Cepay dipermanenkan melalui identitas nama yang terpasang pada roda maupun spanduknya. Namun, masih ada juga yang kerap menyebutnya dengan nama Mi Kocok GOR Pajajaran. Namun, apapun penyebutannya, nama yang disebut tetap merujuk pada mi kocok yang lezat.

Baca Ini Juga Yuk: Soto Pak Ento, Kuliner Legendaris yang Tersembunyi di Jalan Braga

Memakai Alas Daun dan Tanpa Kompor
Kelezatan Mi Kocok Cepay ini ternyata ada resep rahasianya, loh! Hal ini terus dipertahankan sejak 1975 hingga kini. Rahasia pertama adalah tempat untuk menyimpan mi kuning dan tauge yang menggunakan daun pisang sebagai alasnya, termasuk bagian sekelilingnya.

Dengan cara ini, kualitas dan kesegaran mi kuning dan taugenya tetap terjaga dengan baik. Sehingga, ketika mi dan tauge ini diolah untuk jadi mi kocok, rasanya tetap segar.

"Tempatnya kita pakai daun biar segar, biar fresh mi sama taugenya. Dari awal sampai sekarang cara penyimpaannya begitu," tutur Risna.

Rahasia berikutnya adalah untuk memanaskan air pada dandang alias panci besar, justru tidak menggunakan kompor. Sejak dulu, pemanas yang digunakan berupa arang. Penggunaan arang ini menghasilkan rasa dan aroma yang unik.

"Kalau pakai arang itu lebih tahan lama panasnya. Terus wanginya juga beda, jadi lebih harum," ucapnya.

Baca Ini Juga Yuk: Sajian Kuliner Selama Konferensi Asia Afrika pada 1955

Air inilah yang kemudian menjadi kuah dari mi kocok. Air ini dipakai untuk merendam mi dan tauge selama beberapa detik. Setelah itu, mi dan tauge bakal dimasukkan ke dalam mangkuk. Kuah pun disiramkan di atasnya dan dipadukan dengan kikil, irisan seledri, dan bawang goreng.

Selain rahasia di atas, ada ciri khas yang membuat Mi Kocok Cepay banyak digemari, yaitu adanya sumsum tulang sapi. Biasanya, sumsum ini akan disajikan pada mangkuk terpisah. Maklum, ukurannya cukup besar dan akan menyulitkan makan jika digabung langsung dengan mi kocoknya. Ya, mangkuknya jadi terasa sempit!

Sumsum ini pun memberi kenikmatan tersendiri. Sebab, ada juga bagian daging dan otot yang masih menempel. Untuk menikmatinya, lebih disarankan menggunakan tangan daripada sendok. Namun, ingat ya, pastikan tanganmu bersih jika ingin menyantap sumsum ini menggunakan tangan.

Baca Ini Juga Yuk: Jejak Raden Dewi Sartika, Pendidik & Pejuang Kesetaraan Perempuan

Nah, khusus untuk bagian kikilnya, teksturnya cukup unik dan empuk. Itu karena proses pengolahan kikil berlangsung cukup lama. Bahkan, jika kikilnya berasal dari sapi yang sudah tua, perebusannya bisa mencapai 6 jam.

Proses perebusan lama inilah yang membuat airnya punya rasa dan aroma khas untuk disajikan jadi kuah mi kocok. Namun, berbeda dengan pembuatan mi kocok yang menggunakan arang, perebusan kikil menggunakan kompor.

Sebenarnya, perebusan kikil ini bisa lebih cepat jika menggunakan panci presto. Namun, rasa yang dihasilkan dari kuahnya akan berbeda. "Kalau pakai presto memang lebih cepat, tapi kaldunya kurang keluar rasanya," ucap Risna.

Harga Bersahabat
Bagi kamu yang belum pernah mencoba Mi Kocok Cepay ini, mulai penasaran enggak? Jika penasaran, kamu bisa datang langsung ke dua lokasi penjualannya. Harganya juga bersahabat untuk ukuran makanan di tengah kota.

Apalagi, kelezatannya enggak perlu diragukan. Jadi, uang yang kamu keluarkan enggak akan sia-sia, deh! Mi Kocok Cepay ini dijual dengan harga Rp25 ribu per porsi. Namun, jika ingin menambah sumsum, kamu perlu mengeluarkan kocek tambahan.

"Harga sekarang Rp25 ribu, kalau pakai tulang sumsum jadi Rp35 ribu," jelas Risna.

Jika kamu ingin mencicipi mi kocok legendaris ini, harap bersabar, ya! Sebab, tak jarang antreannya cukup panjang. Jika ingin makan di tempat, kamu perlu menunggu giliran pengunjung lain selesai makan dan meninggalkan lokasi.

Namun, jika tak mau menunggu, kamu bisa membungkusnya untuk dimakan di rumah, di tempat kerja, atau di manapun. Bahkan, tak jarang konsumen di sini berasal dari luar kota. Mereka sengaja jauh-jauh datang untuk mencicipi kelezatan Mi Kocok Cepay dan membungkusnya untuk oleh-oleh.

Selain dari luar kota, konsumen Mi Kocok Cepay juga banyak yang merupakan pelanggan lama. Bahkan, pelanggan di sini banyak yang turun-temurun. Hal itu tidak terlepas dari rasanya yang tak pernah berubah sejak awal hingga sekarang.

Foto : Djuli Pamungkas/beritabaik.id
Layout : Agam Rachmawan/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler