Shoegaze, Musik Asal Inggris yang Penuh Distorsi

Bandung - Pernahkah kamu mendengarkan lagu dengan distorsi gitar, riuh efek feedback dan vokal yang terdengar samar? Bisa jadi musik yang kamu dengarkan tersebut adalah Shoegaze. 

Pada awalnya, musik Shoegaze mulai muncul dan berkembang di Kota London, Inggris pada akhir tahun 1980an. Shoegaze bisa dibilang sebagai subgenre di rock alternatif Inggris yang dikenal dengan ciri khasnya yaitu distorsi gitar, feedback dan vokal yang jauh dan artikulasi yang terdengar tidak jelas. 

Meski saat ini Shoegaze dikenal sebagai musik, sebenarnya istilah Shoegaze tidak ada kaitannya dengan musik. Mengapa demikian? Istilah Shoegaze dilontarkan tanpa sengaja oleh Andy Ross, bos label rekaman Food Records (label yang merilis Blur) pada tahun 90an yang kemudian ditulis oleh tabloid musik New Musical Express (NME) ketika melihat penampilan Slowdive, Chapterhouse dan Moose. Setiap tampil, tiga band tersebut kerap menunduk dan menatap sepatu. Dari sanalah istilah Shoegaze muncul untuk menggambarkan jenis musik yang satu ini. 

Mengutip ucapan seorang kritikus musik asal Inggris, Simon Reynolds pada The New Yorks Times, bahwa kelahiran nuansa 'kekalahan' hadir pada musik Shoegaze. Hal ini memiliki hubungan yang cukup erat dengan suasana sosial politik di Britania Raya, yang ketika itu dipimpin oleh pemerintah dari Partai Konservatif.


Pemerintahan Partai Konsevatif selama dua priode berturut-turut dari tangan Margaret Thatcher ke John Major itu tidak begitu mampu memenuhi ekspektasi. Terutama memenuhi ekspektasi masyarakat muda yang idealis.

Situasi pemerintahan Britania Raya yang saat itu bisa dibilang 'lemas' menurut Simon membuat masyarakat muda menyalurkan emosi mereka, salah satunya pada musik. Dapat kita lihat, musik Shoegaze bernada kelam, hal ini dilatari situasi politik saat itu. Hal ini membuat Shoegaze hadir dengan ciri khas dan keunikannya tersendiri.

Bagi TemanBaik yang belum tahu dan tertarik dengan jenis musik ini, kamu bisa mendengarkan band-band lini pertama dalam sejarah Shoegaze. Band-band tersebut antara lain Catherine Wheel, Slowdive, Chapterhouse, Moose, Lush, Pale Saints, Ride dan Swervedriver.

Selain itu, ada juga My Bloody Valentine, The Jesus and Mary Chain, Spacemen 3, Cocteau Twins, Mogwai, Explosions in the Sky dan band asal Amerika seperti Sonic Youth dan Dinosaur Jr. Shoegaze semakin berkembang bahkan berkelana keluar dari kota kelahirannya, di Indonesia kita punya Themilo, Under The Big Bright Yellow Sun, Heals dan masih banyak lagi.

Foto: Unsplash.com


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler