Pesan Sederhana Logic Lost dalam Album 'Forgive Yourself'

Bandung - Kamar bukan saja menjadi bagian penting untuk sekedar beristirahat, memulihkan tenaga, bermalas-malasan dan hanya sekadar berdiam diri. Bukti nyatanya adalah istilah Musik kamar. Istilah yang muncul ketika musisi atau seniman menghasilkan karya terutama, seni musik di dalam kamarnya.

Didukung aplikasi perangkat lunak yang memadai, minimalis dengan hanya gitar atau alat musik lain dan laptop. Beberapa juga menambahkan perangkat keras studio rekaman, dan jadilah sebuah karya musik.

Musik kamar belakangan ini kadang menjadi jalan keluar terbaik bagi musis–musisi alternatif untuk mengeksplorasi diri, bisa seorang diri atau solois, atau duo mungkin lebih. 

Adalah Logic Lost, moniker seorang pemuda yang disematkan dari musisi elektronik eksperimental asal Jakarta, Dylan Amirio. Petualangannya ke dunia music elektronik terjadi ketika Dylan banyak menghabiskan hari-harinya hanyut dalam dunia interdimensi oleh musik Oneohtrix Point Never dan manga-manga negeri Sakura.

Dylan sendiri  sempat menelurkan satu buah album dua tahun lalu sangat kental bernuansa IDM / Ambient-Techno / Future-Garage / Breakbeat eksperimental. Namun,  tak seperti album pertamanya, ‘Runaway’ (2016) rilisan Orangecliff records, pada album penuh keduanya ini, ‘Forgive Yourself’ (2018) Logic Lost, bermain lebih tenang, introspektif dan tempo rendah.  Singkat kata, album ini mengajak pendengarnya untuk introspeksi diri dan koreksi terhadap perbuatan, sikap, kelemahan, kesalahan, dan sebagainya. Sehingga mawas diri dan berujung pada pribadi yang lebih baik lagi ke depannya.

Cukup menjanjikan apa yang ditawarkan Logic Lost kali ini, menularkannya dalam satu album penuh tanpa kata-kata, berkoneksi dengan makhluk hidup lainnya melalui keajaiban suara–suara yang dibuatnya.

Pesannya sederhana, belajarlah memaafkan diri sendiri. Jangan lagi meragukan dirimu, berpikir positif karena setiap manusia pasti melakukan kesalahan dalam hidupnya baik disengaja atau tidak dan kemudian mengatasinya dengan baik  seperti yang diceritakan melalui pengalaman Dylan Amirio dari delapan tahun yang lalu hingga saat ini.

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler