Kenalan dengan Dissa, Desainer Suara Muda asal Bandung

Bandung - Namanya Dissa Kamajaya, pria yang lahir di Garut tahun 1990 ini dikenal sebagai otak dibalik kemajuan Desain Audio Visual dan teknologi di bidang musik.

Proyek musiknya cukup panjang, tergabung dalam trio elektronik Sins of Suns, proyek neo klasik Jakesperiment, dan moniker terbaru Jaques. Di bawah rumah produksi Sembilan Matahari Bandung, namanya muncul ke permukaan sampai dikenal di luar negeri. Beberapa ajang bergengsi pernah diikuti seperti Festival Mappping Geneva, Frankfurt Book Fair, International Lightfest Moscow, Japan’s World of Projection Mapping, Madinah Islamic Conference, dan Art Vision Moscow.

Ditemui di sela-sela acara musik Ruang Minor Bedah Karya - Bedah Lagu di Jalan Terusan Jakarta No 79 A, Antapani, Bandung (29/8), Dissa mengaku rasa penasaran akan 'bunyi' diawali dari hobinya mengutak-atik software illustrator dan foto.

"Awalnya seneng edit foto dan ilustrasi. Gambar-gambar isengl. Tapi suka ngebayangin disitu kalau dibuat jadi suara gimana. Eksperimen bikin nada lewat (instrument) synthesizer. Dari situ sih. Muncul rasa ingin tahu yang besar, sampai sekarang kalau mau nge-design music ya kaya gitu dulu. Apapun proyeknya atau di proyek solo dan band," tutur Dissa.

Baca juga: Berkenalan dengan Pijar, Band Indie Medan Kini Sukses di Jakarta

Dunianya didominasi oleh bunyi-bunyi dan imajinasi, beberapa proyek indie sampai komersil pernah dan sedang Dissa kerjakan.

"Sekarang masih ngerjain buat video mapping, menulis musik juga untuk sembilan matahari. Sins of Suns masih jalan, buat musik untuk film juga. Iklan komersil hehehe sama new media artslah yang gitu-gitu. Pernah juga ikutan jadi komposer film indie ‘Semua Karena’, film pendek terus masuk seleksi di Hamburg Short Movie Festival 2017," tambahnya.

Sosok Dissa Kamajaya mungkin masih terdengar asing, tugasnya rata-rata di belakang panggung, di dalam studio. Aktivitasnya berkutat dengan Modular analog synthesizer, digital, instrumen elektronik lain, software, animasi dan bebunyian. Soal ide dan tujuan musik, pria yang tersohor disebut Jakes ini kedepannya ingin tetap jujur dalam bermusik, tetap jujur dalam membuat karya.

"Ide datang secara random. Bisa dari mana saja. Abstrak. Polyrythmic. Tidak beraturan tetapi hasil akhirnya pantas dan layak dinikmati. Kejujuran adalah kunci dalam berkarya," pungkasnya.


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler