Cara Atap Class Bikin Musik Indi Tetap Eksis

Bandung - Industri musik independen atau indi harus berjuang mempertahankan eksistensinya jika tak ingin digerus arus musik mainstream. Membahas ini, Atap Class menggelar 'Naratas Akar Program, Expert Meeting' yang berisi diskusi bersama para pelaku musik indi bertema 'Kehancuran Musik Indonesia' di Bandung Creative Hub, Rabu (5/9/2018).

Atap Class adalah ruang dan sarana belajar untuk berbagi berbagai wawasan dan pengetahuan yang berkaitan dengan wacana seni dan kreatifitas. Atap Class juga melakukan riset yang mencari, memetakan dan mengembangkan potensi seni dan kreatifitas.

Giovitano dari Atap Promotions menuturkan, industri musik indi ditopang oleh sebuah ekosistem yang terdiri dari pelaku-pelaku industri musik, mulai dari musisi, promotor, audiens, ruang publik untuk konser, sampai merchandising. Menurut Gio, segala lini dalam industri menjadi fokus dalam bahasan expert meeting ini.

"Melalui Atap Class ini kita semua harus bergerak, tidak bisa sendiri, harus bareng," ujar Giovitano di acara tersebut.

Expert meeting diharapkan dapat meredam kehancuran industri musik indenpenden di Indonesia. Tidak missgenerasi dan semangat kebersamaan, apresiasi masih dan perlu ada, namun diharapkan jangan berhenti begitu saja. Karena berbicara industri berarti harus mencangkup keseluruhan.

"Musisinya hidup, promotornya hidup, merchandising berjalan. Saling berkesinambungan. Secara ekonomi daerah juga bisa mendapatkan penghasilan dari situ. Menjadi ekosistem yang baik dan kebersinambungan. Intinya keberlangsungan industri dari segala lini dalam dimensi berkesenian dan berbudaya,” jelas Gio.

Atap Class sendiri memiliki program yang sudah berjalan sejak tahun 2015 dan diundang pada Finlandia Modern Heavy Metal Coference pada tahun 2016, Europe ke Perancis-Belanda untuk mengenalkan musik karinding.

“Masih dalam rangka program tersebut, ada 16 programAtap Class yang sudah dijalankan, kegiatan ini salah satu yang masuk dalam program itu," tutur Astria Fadhilah Primantari salah satu panelis dalam buku 'Bandung Bawah Tanah' sub bagian musik elektronik yang juga desainer grafis Atap Promotions.

Acara ini dibagi menjadi tiga sesi, dipaparkan langsung oleh narasumber-narasumber ahli dari berbagai paham ilmu dan segala bidang, Khususnya bidang kreatif. Ketiga sesi adalah mengoptimalisasi universitas dalam penelitian dan pembangunan, ruang privat, ruang publik dalam pembangunan ranah musik independen.

Peserta seminar datang dari berbagai latar belakang ilmu, dari sekolah-sekolah menengah atas Bandung, beberapa mahasiswa perguruan tinggi, pelaku-pelaku kreatif, dan masyrakat umum.





Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler