Cerita Spring Summer Soal Perjalanan Musik di Album 'Departure'

Bandung - Spring Summer baru saja merilis album terbaru mereka berjudul 'Departure'. Lewat album terbarunya, band indi pop asal Kota Bandung ini bercerita tentang hiruk pikuk perkotaan dan 'keberangkatan' kembali perjalanan musik mereka.

Jika pada karya-karya sebelumnya, nuansa indi pop begitu kental terasa, kali ini Spring Summer hadir dengan nuansa musik 'city-pop'. 'City-pop' merupakan sebuah genre musik yang berkembang di Jepang pada tahun 1980-an, memadukan musik pop, soul, jazz, funk, disco dan rock.

'City-pop' dalam album terbaru Spring Summer dikemas sedemikian rupa, sehingga menjadi proses kreatif teranyar Spring Summer yang senada dengan konsep lirik-liriknya mengenai kota. Meski demikian, bagi Spring Summer, 'city-pop' bukan sebuah aliran musik, melainkan sebuah subkultur pada sebuah era. 

Album 'Departure' berkisah soal dinamika orang-orang dalam kehidupan, aktivitas sehari-hari sampai romansa cinta. Selain itu, bercerita soal tempat, jalan, kota dan lperjalanan juga dibahas dalam album terbaru mereka ini. Itu mengapa, lirik-lirik lagu Spring Summer bercerita tentang jalan berbelok-belok, lampu kota, persimpangan jalan, atap bangunan, dermaga dan lainnya.

Inspirasi tentang perkotaan pun tidak akan datang begitu saja. Ada cerita-cerita personal tentang kehidupan di tiga kota yang dialami gitaris sekaligus vokalis mereka, Lukie Widya, di Kota Bandung, Jakarta dan Osaka. Hal ini memengaruhinya dalam penulisan lagu, mulai dari rasa gembira, bingung, lelah dan galau semua tersaji dalam album ‘Departure’.

Terdapat sembilan lagu dalam album 'Departure', yaitu 'Petang', 'Come Back As Rain', 'Late Night Rider', 'Sail Away', 'In Silence', 'Concrete Flower', 'Run', 'Temaram' dan 'Coming Home'. Kamu sudah bisa menikmati album ini di berbagai layanan musik streaming juga tersedia di kanal YouTube mereka, Spring Summer. 


Foto: Instagram.com/our_springsummer

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler