'Tarian Penghancur Raya' Jadi Cara .Feast Curahkan Kekecewaan

Bandung - Band indie asal Jakarta, .Feast kembali lagi dengan single terbarunya bertajuk 'Tarian Penghancur Raya'. .Feast memang dikenal kerap menghadirkan kritik sosial dalam karyanya. Di single keduanya ini .Feast membahas isu yang lebih kompleks.

Jika pada karya sebelumnya .Feast membahas soal hubungan manusia dengan teknologi lewat single 'Dalam Hitungan', single terbaru .Feast ini membahas hubungan antara manusia dengan alam, budaya dan segala sesuatu yang terdapat di bumi jauh sebelum hadirnya manusia.

'Tarian Penghancur Raya' adalah bentuk kekecewaan .Feast pada masyarakat yang gagal dalam menanggapi perubahan lingkungan secara bijak. Tak hanya pada masyarakat, single ini juga bentuk kekecewaan terhadap diri sendiri yang hiprokit dalam menjadi konsumen budaya dan produk.

Lewat rilis tertulisnya, band yang dihuni Baskara Putra (vokal), Fadli Fikriawan (bass), Adrianus Aristo Haryo (perkusi dan drum), Adnan Satyanugraha, Dicky Renanda dan Rayhan Noor (gitar) ini mengatakan kalau karya terbarunya tak hanya sebuah kritik untuk keadaan saat ini, namun juga kritik bagi mereka sendiri.

Baca Ini Juga Yuk: .Feast Cerita Soal Kehidupan Masa Kini di Single 'Dalam Hitungan'

"Berkaca ke banyaknya berita-berita tidak mengenakkan perihal kerusakan lingkungan dan ancaman kelangsungan untuk berbagai warisan budaya Indonesia belakangan ini, rasanya 'Tarian Penghancur Raya' menjadi sebuah lagu yang relevan untuk dirilis sekarang. Ini kami tulis bukan hanya sebagai sebuah kritik terhadap keadaan secara umum, namun juga kepada diri kami sendiri. Kita berlomba-lomba merusak seluruhnya yang asli dan asri, entah demi apa," ucap Baskara Putra.

'Tarian Penghancur Raya' dibuka dengan suara gamelan, .Feast seolah mengajak pendengarnya menari merespons keadaan tentang lingkungan belakangan ini dengan mengeksplorasi suara tetabuhan. Namun ciri khas .Feast seperti sound gitar yang bluesy masih tetap terdengar.

Departemen bass yang kali ini dieksplorasi dengan menggunakan sub bass namun progresinya masih akrab terdengar. Begitu juga dengan vokal Baskara yang lugas menyanyikan lirik-lirik sarat kritik isu sosial.

Lagu ini digarap bersama oleh .Feast dan diproduseri oleh Wisnu Ikhsantama Wicaksana dan Baskara Putra. Direkam dan di-mixing di studio Soundpole milik Wisnu Ikhsantama Wicaksana dan beberapa part gitar direkam dan dimainkan oleh Rayhan Noor. Sedangkan mastering-nya dikerjakan oleh Marcel James.

Untuk urusan artwork dikerjakan oleh Mikael Aldo dari Sun Eater Studio. Lirik video sudah tersedia di channel YouTube milik label rekaman Sun Eater, digarap oleh Sun Eater Studio. 'Tarian Penghancur Raya' sudah mengudara sejak 8 November 2019 di berbagai layanan musik digital seperti Apple Music, iTunes, Spotify, dan Joox.


Foto: dokumentasi .Feast


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler