Edukasi Cinta Alam Lewat Drama Musikal Anak 'Nyanyian Laut'

Bandung - Suasana di amphitheater Nuart Minggu (8/12/2019) malam disulap jadi begitu semarak. Lampu berwarna-warni, properti beraneka rupa dan bentuk terpasang dengan rapi. Tak berapa lama, puluhan penghuni laut datang. Ada kelompok cumi-cumi, udang, ubur-ubur, ikan teri, penyu hingga paman paus.

Dikisahkan, para penghuni laut tengah mendengarkan cerita dari paman tentang kemegahan yang ada di daratan. Mereka kagum dan penasaran seperti apa di daratan sana. Sementara itu di pesisir pantai, manusia membuang sampah bekas makanan mereka. Sampah itu hanyut terbawa hingga ke lautan. Para penghuni laut yang tak tahu benda apa itu memakannya. Mereka bahkan bernyanyi mengira manusia baik hati memberi makanan.

Namun seiring waktu, para penghuni laut merasa sakit. Ternyata itu akibat sampah-sampah yang mereka makan selama ini. Dewi Samudra dan para penghuni laut pun jadi sedih dan takut pada manusia. Karena mereka ternyata serakah, suka mengambil para penghuni laut untuk makanan dan hiasan juga mengotori laut dengan sampah-sampahnya.

Paman paus menenangkan para penghuni laut, ia mengatakan bahwa ada manusia yang baik hati. Kakek paus pernah diselamatkan manusia saat tersangkut di jaring. Hingga pada suatu hari, seorang penyelam datang. Para penghuni laut heboh karena ketakutan. Namun ia meyakinkan bahwa ia datang justru ingin membantu para penghuni laut membersihkan sampah.

Baca Ini Juga Yuk: Peduli Lagu Anak, Yaya Risbaya Gerakkan Irama Anak Tanah Air

Cerita sederhana yang sarat edukasi ini disampaikan dengan begitu apik dan menarik. Sebanyak 27 anak berperan menjadi para penghuni laut. Lengkap dengan kostumnya yang total dan ciamik. Masing-masing anak dilengkapi dengan mikrofon, mereka dengan fasih berdialog sesuai alur cerita. Suara-suara imut dan kata-kata khas anak kecil sungguh membuat gemas.

Seperti itulah keseruan yang ditampilkan dalam drama musikan anak berjudul 'Nyanyian Laut' persembahan Camar Ceria.

"Sebelum tampil, anak-anak ini ikut workshop 5 kali pertemuan. Mereka belajar olah rasa, peran dan gerak didampingi para mentor," ujar Zidah Noerwenda Founder Camar Ceria.

Tak main-main loh, para mentor yang ikut berkolaborasi dalam acara ini adalah mereka yang sudah piawai di bidangnya. Sebut saja Yuddha Swara dan Yaya Risbaya dari Irama Anak Nusantara yang membantu pembuatan lagu, Bisma Karisma, entertainer yang jadi pelatih gerak selama workshop, Wanggi Hoed, seniman pantomim, Kamilia Shaumil
Jasmine Kane, Guffy Perdana dan Habibie Jusuf.

Lagu-lagu yang dibawakan saat pertunjukkan dinyanyikan secara langsung loh. Lagu-lagu itu juga dibuat khusus oleh anak-anak.

"Jadi di awal anak-anak dibuat kelompok untuk menyuarakan rasanya jika mereka menjadi makhluk laut. Nah, dari kata-kata mereka itu lalu dibuat lagu," tutur Wenda, begitu Zidah Noerwenda akrab disapa.

Ia berharap, melalui drama musikal anak ini anak-anak bisa punya empati pada alam dengan cara yang menyenangkan. Ini sejalan dengan tujuan Camar Ceria yakni sebagai halaman belajar untuk anak-anak usia dini dalam menikmati dan meresapi tentang intimasi dan empati terhadap makhluk di sekelilingnya.

"Kita mengangkat tema laut karena ternyata banyak yang belum tahu plankton itu penyumbang oksigen terbesar di bumi untuk kita semua. Berarti kan saat kita meracuni laut otomatis udara kita juga teracuni. Makanya kami ingin mengajak dan edukasi orang-orang, khususnya anak-anak. Karena yang menyampaikan anak-anak, maka itu akan terasa lebih tulus," tutupnya.


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler