Kenalan dengan Yusuf, Kolektor Rilisan Musik Fisik Sejak 1 Dekade

Bandung - Berangkat dari hasrat kebendaan, ujungnya jadi pelaku pengarsipan. Kalimat ini mungkin layak disematkan kepada Yusuf Hamdani (25). Pria kelahiran Bandung 11 November 1994 ini punya kegemaran unik yakni mengarsipkan rilisan fisik dari musikus atau band lokal maupun internasional.

"Awalnya hanya hasrat kebendaan aja, senang gitu (mengoleksi kaset pita)," ujar Yusuf, saat dijumpai di kediamannya, Jl. Maleer 4, Bandung, Minggu (2/2/2020).

Pria ini sudah satu dekade berkutat dengan rilisan fisik berupa kaset pita dan CD dari sekian banyak musikus. "Tahun 2010 cuma punya belasan (kaset) saja. Awal tertarik dari situ. Seingat saya, 2010 itu saya baru mau masuk SMA,” bebernya.

Kemajuan teknologi yang memudahkan penggemar musik mendengarkan lagu kesukaan lewat layanan berbasis digital (streaming), tidak menyurutkan kegemaran Yusuf dalam mengoleksi rilisan fisik. Buktinya, jumlah belasan itu kini bertambah menjadi 650 lebih unit kaset pita. Jumlah tersebut belum termasuk beberapa kaset yang keluar-masuk kamarnya karena dijual, atau dipinjam oleh temannya yang memiliki hobi sejenis.

"Sampai pernah ada di titik kalau dapet barang (kaset) lama, tapi kondisinya masih baru dan disegel itu, pas dibuka segel, dicium-ciumin kertasnya, ada kebanggaan tersendiri aja gitu," katanya.

Siapa sangka, kegemaran tersebut membut namanya jadi salah satu kolektor rilisan fisik yang cukup beken di kalangan penggemar kaset pita di Bandung. Tak berhenti di situ, kegemaran Yusuf membuatnya menjadi salah satu pengarsip perjalanan musik, setidaknya, musik asal Indonesia.

Sebut saja kaset jazz rock Yopie Item Cs yang menampilkan Idris Sardi di dalamnya. Album yang diproduksi tahun 1977 tersebut didapatkan Yusuf dari istri Alm. Denny Sakrie.

"Ini kan band-nya udah enggak ada, labelnya juga enggak ada, karena saat itu mereka ngerilisnya secara mandiri. Kalau enggak diarsipin, mungkin fakta bahwa di Indonesia pernah ada grup musik dengan komposisi sebagus ini tuh bisa saja ditelan zaman," katanya.

Kendati secara finansial kadang membuatnya harus 'berpuasa', namun pria berambut gondrong ini mengaku, hal itu terbayar saat mendapatkan kaset pita yang diinginkannya. "Apalagi kalau yang udah kayak Orexas-nya Remy Sylado, Guruh Gipsy, atau yang tadi itu, Yopie Item Cs yang ada Idris Sardi di dalamnya. Itu sudah susah banget dapat kaset itu," ujarnya. "Kesimpulannya sih, menguntungkan secara batiniah, tapi secara finansial, jelas rugi. Tapi, namanya suka, ya susah," sambungnya.

Kepada Beritabaik, Yusuf juga menceritakan pengalamannya saat berjumpa dengan musikus Tanah Air yang rilisan fisik-nya ia koleksi. Salah satunya adalah momen di mana Yusuf berjumpa dengan Fariz RM dan menyodorkan beberapa kaset miliknya untuk ditandatangan.

"Wah! Ini waktu saya umur 20 tahun. Kamu dapet dari mana? Saya aja enggak punya nih!" ujar Yusuf, menirukan ucapan Fariz RM kepadanya saat disodori kaset album 'Sakura' untuk ditandatangan, beberapa waktu lalu.

Baca Ini Juga Yuk: Kenalan dengan Yusuf, Kolektor Rilisan Musik Fisik Sejak 1 Dekade

Menurut Yusuf, selain bisa mendapatkan nilai lebih saat mendengarkan lagu lewat rilisan fisik, akan ada banyak hal kecil yang penting untuk ditelisik dari bagian dalam kaset pita.

"Enggak cuma dengerin lagunya aja. Tapi kita bisa dapet artwork dari album tersebut, kita bisa baca liriknya. Dan kita bisa tau keterkaitan musisi itu sama siapa aja lewat 'thanks to' yang biasanya ditulis kan tuh di sampul kasetnya," beber Yusuf.

Dari keterkaitan musikus tersebut dengan lingkungan bermusiknya, pendengar juga bisa mencari tahu, atau bahkan menemukan sosok baru, atau sosok yang tidak diketahui banyak orang, namun punya andil membuat sesuatu dalam perkembangan industri musik di Indonesia.

Meski berangkat dari kesenangan belaka, Yusuf juga tak menampik jika para kolektor rilisan fisik punya peran dalam pengarsipan musik yang pernah ada di Indonesia. Hal itu sejalan dengan fakta bahwa masih banyak perdebatan akan sejarah industri musik di Indonesia. "Ya, bisa jadi karena lemahnya pengarsipan. Bisa jadi," imbuh Yusuf.

Tren kaset pita yang belakangan kembali digandrungi oleh kawula muda, ditanggapi Yusuf sebagai hal positif. Hanya saja, ia berharap adanya kesadaran dari pihak produsen musik untuk tidak mempersulit akses mendapatkan rilisan fisik tersebut.

"Zaman sekarang tren-nya kan musisi ngerilis album fisik bentuk kaset misalnya, tapi dibikinnya cuma 100 biji. Dan yang nyari album itu (jumlahnya) lebih dari segitu. Karena limited edition, banyak orang yang enggak kebagian. Akhirnya jadi rebutan, dan orang-orang jadi pada berantem di media sosial karena rebutan kaset," katanya sambil tertawa.

"Padahal kan labelnya masih ada, musisinya masih ada. Sebetulnya tinggal di reissue (produksi ulang) aja. Toh, makin ke sini, makin banyak anak muda yang seneng 'mainan' rilisan fisik. Ya artinya, kesadaran akan pengarsipannya juga bagus lah, kalau kita ambil sisi positifnya,” sambungnya.

Sementara itu, kehadiran layanan musik digital dianggap Yusuf sebagai angin segar dan tidak bisa dihindari lagi. Ia menyoroti kecepatan dan kemudahan dari hadirnya berbagai platform.

"Saya juga ngakses dan enggak tutup telinga sama itu. Ada kalanya pas lagi di luar, perlu dengar via streaming, ya pakai digital. Tapi kalau buat didengar di rumah sih saya udah pasti kaset," tutupnya.


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler