Bundengan, Alat Musik Serupa Payung Asli Wonosobo

Bandung - TemanBaik, pernah dengar alat musik Bundengan? Instrumen tradisional yang berasal dari Wonosobo ini menarik untuk dicari tahu lebih dalam lagi lho. BeritaBaik berkesempatan untuk ngobrol dengan Luqmanul Chakim, etnomusikolog asal Wonosobo yang sedang aktif memperkenalkan dan mempopulerkan alat musik asal tempat kelahirannya tersebut. Yuk simak ulasannya!

Bundengan adalah alat musik tradisional asal Wonosobo yang memiliki fungsi serupa payung. Kemunculan awal dari alat musik ini adalah saat para penggembala bebek dan petani menggunakan alat ini sebagai payung saat bekerja. Menurut berbagai sumber, alat musik ini sudah ada sejak abad ke-11 hingga 12.


Alat ini terbuat dari bambu. Dan diantara bilahan-bilahan bambu, dipasang sumber suara serupa senar. Dahulunya, dawai tersebut terbuat dari bahan ijuk bambu. Namun, belakangan dawai tersebut dapat menggunakan senar yang digunakan untuk raket bulutangkis. Menarik ya, TemanBaik?

Dawai yang dipasang kemudian dirancang sedemikian rupa, sehingga jika dipetik dapat menghasilkan bunyi yang serupa tangga nada tertentu.

"Karena berasal dari Wonosobo, gabungan nadanya itu serupa gamelan. Seperti lenggeran, yang digunakan untuk mengiringi Tari Lengger," ujar Luqman, Rabu (12/2/2020).

Uniknya, alat musik ini pada awalnya memang dimainkan untuk dinikmati sendiri oleh yang memainkannya. Hal tersebut karena sumber suara dari bundengan yang tidak terlalu nyaring, sehingga hanya dapat dinikmati oleh mereka yang memainkannya ataupun orang dengan lingkup sangat kecil.


Baca Ini Juga Yuk: Yuk! Belajar dan Mengenal Alat Musik Tradisional Karinding

Luqman memaparkan, alat musik ini sederhananya adalah sebagai tudung (penutup kepala) yang digunakan oleh para penggembala itik untuk menghilangkan kepenatan. Namun, seiring berjalannya waktu, fungsi tersebut bergeser. Hari ini, bundengan justru dikenal sebagai alat musik, tak lagi sebagai penutup kepala atau payung bagi para penggembala itik.

Pada prinsipnya, bundengan dimainkan dengan cara dipetik. Namun, sumber suara yang berasal dari dawai dan bilah-bilah bambu bundengan akan terasa seperti alat musik pukul. Luqman menyebutkan, untuk memainkan bundengan, perlu sinkronisasi antara tangan kanan dengan tangan kiri.

Dalam bermain bundengan, tangan kanan kita akan memainkan senar-senar yang ada. Sedangkan tangan kiri akan memainkan bilah bambu yang terdapat pada tubuh bundengan. Hasil suara dari bilah bambu itu akan terdengar seperti kendang dalam gamelan.

"Keseimbangan tangan kiri dan kanan bakal mirip main piano. Sangat mirip sekali. Mungkin tingkat kesulitan belajarnya relatif sama ya seperti belajar piano," ujar Luqman.

Namun, saat memainkan bundengan, menurut Luqman, kita secara tak langsung seperti memainkan gamelan versi minimalis. Luqman menjelaskan, sebetulnya tiap orang bisa memainkan alat musik ini. Meski terlihat rumit untuk dimainkan, sebenarnya jika kita terus berlatih, dalam waktu singkat kita bisa memainkannya.

"Karena ada metode-nya. Harusnya semua orang bisa memainkannya dong ya," kata Luqman.

Akan tetapi, untuk memperdalam rasa saat memainkannya, kita disarankan untuk mencari tahu cerita tentang bundengan. Luqman termasuk orang yang intens memainkan bundengan setelah mendengar cerita tentang bundengan.


Dengan memperdalam dan menginterpretasi cerita-ceritanya, rasa yang hendak disampaikan akan kental. Luqman menganalogikan seperti bermain musik blues pada gitar, yang mana jika kita akan lebih ringan memainkannya saat sudah menyelami cerita dibalik musik tersebut.

Bundengan mudah ditemui di tempat asalnya, yakni Wonosobo. Akan tetapi saat ini, beberapa seminar tentang bundengan mulai banyak digelar di berbagai perguruan tinggi yang terdapat prodi seni pertunjukan. Luqman juga menyebutkan, bundengan adalah salah satu alat musik tradisional yang hampir punah keberadaannya. Hal itu tak lepas dari budaya populer yang menggerus.

"Tapi bukan berarti populer itu jelek. Tidak. Akan sangat baik jika bundengan ini bisa kita selipkan ke dalam musik populer. Sama-sama punya nada. Nah, ini tantangan bagi kami, pelaku seni tradisional," katanya.

Geliat kolaborasi musik tradisional dengan musik modern dianggap Luqman sebagai angin segar agar bundengan tidak hilang ditelan zaman. Ia membuka diri jika mendapat tawaran kolaborasi untuk menyebarkan eksistensi bundengan ke cakupan yang lebih luas.

Foto: dok. Luqmanul Chakim


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler