Sensasi Unik Menikmati Musik Melalui Piringan Hitam

Malang - Salah satu produk penyimpanan musik yang mulai ditinggalkan masyarakat jaman sekarang adalah piringan hitam atau vinyl. Barang langka satu ini terbuat dari piringan berbentuk pipih dengan alur spiral yang termodulasi. Keberadaannya kian terpinggirkan seiring perkembangan teknologi seperti CD, MP3 dan MP4. Lalu semakin hilang dengan banyaknya produk musik digital seperti Spotify dan Soundcloud.

Kendati demikian, piringan hitam yang hype sekitar tahun 1950-an ini masih dicari oleh pecinta barang-barang klasik dengan harga yang tidak murah. Ternyata, ada sensasi khas yang dihasilkan dari perpaduan piringan hitam dengan turntable ini, TemanBaik. Tentu, sensasi ini tidak banyak diketahui oleh generasi milenial yang hidup di jaman canggih dengan pilihan aplikasi musik digital yang kian marak.

Lalu yang membuat kita bertanya-tanya, kira-kira apa sih uniknya piringan hitam ini dibandingkan dengan produk penyimpanan musik lainnya? Hengki Herwanto, Ketua Museum Musik Indonesia yang berlokasi di Jalan Nusakambangan No.19, Kelurahan Kasin, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Jawa Timur membeberkan pengalamannya saat mendengarkan musik dari piringan hitam.



Baca Ini Juga Yuk: Gaet Danilla, LYON Rilis Lagu 'Fiksi yang Indah'

Hengki bercerita bahwa di masa mudanya, ia sangat menggandrungi piringan hitam. Menurutnya, tidak ada sensasi yang mampu menandingi alunan musik dari kepingan vinyl tersebut. Suara khas gemerisik yang disering disebut dengan "suara jagung bakar" ini menjadi khas dan tidak dapat ditemukan di produk musik jaman sekarang.

"Ada suara semacam kresek-kresek yang dihasilkan dari pertemuan jarum dengan piringan hitam. Ketidakjernihan suara ini yang menjadi sensasi tersendiri. Kalau produk musik sekarang kan suaranya cenderung jernih. Jauh beda," tutur Hengki.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Anang Maret, Sekretaris Museum Musik Indonesia. Ia menyatakan bahwa piringan hitam suaranya lebih asli dan tidak banyak editan.

"Bass dan treble nya itu masih asli. Tidak seperti sekarang yang serba editan," ungkap Anang.

Selain suara 'berisik-nya', piringan hitam ini memiliki prestise yang cukup besar pada jamannya. Tidak seperti produk musik jaman sekarang yang bisa diakses di mana-mana. Kata Hengki, jaman dulu, untuk membeli piringan hitam ini harus merogoh kocek cukup dalam karena eksklusifitas-nya. Selain mahal, kebanyakan produk ini hanya didistribusikan ke radio-radio besar pada jamannya.

"Jadi tidak semua orang bisa membeli piringan hitam karena harganya yang mahal. Hanya yang mampu-mampu saja. Kalaupun mau mendengarkan ya bisa lewat siaran radio," tandas Hengki.

Dengan akses yang sulit itu, piringan hitam pada jamannya dianggap barang mahal sehingga keberadaanya dijaga dengan sangat hati-hati.

Foto: Nunung Nasikhah/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler