Rekaman Rumahan, dari Hobi Jadi Profesi

Bandung - TemanBaik, apakah kamu gemar bermain musik? Terlepas dari gemar atau tidak seseorang bermain musik, rasanya, musik itu sendiri adalah sesuatu yang tak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Namun, di balik terciptanya sebuah komposisi lagu dalam musik, ada proses panjang yang dilewati oleh sebuah grup musik atau seorang musikus. Dari mulai membuat, hingga merekam, lalu memproduksi dan kemudian mengedarkannya. Proses rekaman dan produksi ini biasanya memakan waktu relatif lama.

Seiring berkembangnya teknologi untuk keperluan produksi musik, proses rekaman hari ini sangat memungkinkan untuk digarap di rumah. Metode seperti ini dikenal dengan nama home recording. Meski sudah dimulai sejak awal dekade 2010-an, namun home recording baru bisa menjadi ranah bisnis yang menjanjikan dari bidang musik belum lama ini.

Setidaknya itu yang dirasakan oleh Homestracks, sebuah studio rekaman rumahan yang kini memiliki beberapa klien tetap dari musikus-musikus Bandung. Berawal dari hobi pemiliknya, Varis Sechan, dalam merekam lagu sendiri, siapa sangka, kini studio rekaman rumahan ini bisa 'menghidupi' dirinya dari sesuatu yang ia sebut sebagai kegiatan mengisi waktu luang.

"Tahun 2016 baru wacana berdiri. Kebetulan waktu itu saya belum banyak kegiatan juga. Masuk tahun 2017, itu mulai profesional. Dalam arti mulai bisa ngehasilin uang buat jajan,” ujar Varis kepada Beritabaik.id, Kamis (5/3/2020).

Ia juga menuturkan bagaimana kondisi home recording miliknya saat pertama berdiri. Saat itu, ia hanya memiliki satu unit soundcard dan speaker monitor saja. Perlahan, ia memberanikan diri untuk membeli mic condenser. Varis menyebutkan, kondisi di fase awal berdirinya Homestracks sangatlah memprihatinkan. Pasalnya, ia membuka jasa rekaman itu di kamar indekosnya, yang sudah barang tentu memiliki jenis akustik ruangan yang tak proporsional untuk keperluan merekam.

Sempat juga ia bersama beberapa teman sekolahnya membangun rumah kreatif, yang mana ia menjadikan Homestracks sebagai sub-divisi dari rumah kreatif tersebut. Di dalam rumah itu, ada sebuah studio yang memiliki akustik ruangan lebih baik, dan juga memiliki tata letak lebih baik ketimbang masa-masa ia membuka jasa di indekosnya. Namun, perjalanan Homestracks bersama rumah kreatif tersebut relatif singkat.

Kini, mereka bermarkas di Puri Dago Selatan No. 4, Antapani, Bandung. Tempat itu sendiri merupakan markas beberapa musikus kenamaan di Bandung seperti Rocket Rockers dan Holahoop.

"Titik terang sih itu. Begitu pindah ke sana, klien tuh murudul (berdatangan) lah istilahnya. Enggak banyak banget juga sih, tapi saya ngerasa fase sekarang jauh lebih baik dari fase dulu waktu masih ngerjain di kosan," beber Varis.


Saat ini, Homestracks nampak aktif menjadi bagian untuk produksi beberapa konten musik seperti bersama Rocket Rockers, Captivate, atau menjadi spesialis langganan untuk pembuatan musik tema untuk keperluan film pendek. Meski begitu, Varis mengklaim sejak awal berdirinya Homestracks, ia tak pernah berupaya menggaet klien. Semuanya bermula dari kesukaannya merekam lagu, yang kemudian membuat teman-temannya meminta bantuan untuk merekam lagu di rumahnya. Dari mulut ke mulutlah, Homestracks akhirnya diketahui lebih banyak orang dan mendapat klien tetap.

Baca Ini Juga Yuk: Lama Menghilang, Sajama Cut Luncurkan Single dalam Format Kaset

Tak hanya rekaman untuk komposisi lagu saja, Homestracks juga menyediakan jasa untuk pembuatan musik ilustrasi, dan film scoring untuk kebutuhan visual. Jasa di bagian ini dianggap berhasil meraup pelanggan dari kalangan mahasiswa, yang biasanya memerlukan jasa ini untuk kebutuhan pembuatan tugas film atau mata kuliah yang berhubungan dengan audio visual.

Peralihan Teknologi, Atau Lebih Murah?
Meski belum bisa dikatakan menggeser popularitas studio rekaman, kehadiran home recording belakangan ini cukup digandrungi oleh kawula muda. Varis menilai, fleksibiltas yang tinggi, ketersediaan fitur dari berbagai teknologi digital audio, serta biaya produksi yang relatif lebih murah menjadi alasan, mengapa saat ini banyak musikus yang beralih ke metode home recording. Namun, kendati demikian, Varis tetap mengutamakan kualitas untuk produk musik yang dihasilkannya.

"Kalo rekaman di sini kayaknya lebih simpel ya. Kita enggak ada drum, enggak ada ampli. Semuanya bisa ditutup pakai fitur dari perangkat lunak (termasuk drum, dengan metode digambar manual). Tapi enggak seutuhnya menghilangkan rasa dari lagu yang direkam kok. Tetep, unsur 'manusianya' bisa dirasain," ujar Varis.

Hal itu berkaitan dengan anggapan bahwa produk home recording, yang kerap menuai kritik karena karakter suara yang dihasilkan cenderung seperti robot. Selain melihat hal tersebut sebagai tantangan, Varis menilai semua hal tersebut akan kembali kepada selera masing-masing. Beberapa musikus yang mencari sisi fleksibilitas tinggi mulai beralih ke home recording, sedangkan beberapa musikus yang masih ingin mempertahankan sisi analog untuk suara instrumen yang dihasilkan memang cenderung menggunakan jasa studio rekaman pada umumnya.

Perihal tarif rekaman, Varis blak-blakan membeberkannya kepada Beritabaik.id. Satu shift jasa rekaman di Homestracks dihargai Rp350 ribu, sedangkan untuk tarif olah suara lanjutan seperti mixing dan mastering, sepaket proses ini dihargai Rp300 ribu. Waktu satu shift yang dimaksud berdurasi 6 jam.

"Habis sekitar 700 ribuan untuk bikin satu lagu, kalau prosesnya cepet ya, balik lagi ke yang rekamannya. Relatif murah lah, saya pikir," ujar Varis sembari tertawa.

Proses menyediakan jasa rekaman ini dilewati Varis dengan suka-duka. Semuanya kebanyakan berangkat dari pergerakan independen yang dikerjakan oleh Varis. Dari mulai merekam, produksi, sampai olah suara lanjutan ia garap sendiri. Bahkan ia menuturkan, pernah ada musikus yang datang untuk rekaman, namun lagunya belum jadi.

Hal itu membuat Varis pada akhirnya melengkapi bagian lagu yang sebelumnya tak pernah ia ketahui. Lucunya, musikus yang rekaman tersebut justru malah tertawa; mengapresiasi, alih-alih mempersiapkan materinya sebelum masuk studio rekaman. Kendati begitu, Varis menganggap seluruh kejadian tersebut adalah bagian yang menyenangkan dari proses membangun home recording, yang kelak akan menghasilkan produk musik dari musikus di Bandung.

Salah satu impian Varis adalah bisa merilis album kompilasi Homestracks, yang berisi musikus-musikus yang pernah melibatkan jasa home recording ini dalam proses produksi musiknya. Selain itu, Varis juga bermimpi agar bisnisnya ini bermanfaat untuk orang lain, terlebih bisa menghasilkan lapangan pekerjaan baru bagi para pegiat produksi musik, setidaknya di Bandung.

"Kalau mikir bisa punya karyawan sendiri, wah, masih kejauhan itu, walau kepikiran sih. Tapi seenggaknya sekarang sih pengen ngerilisin karya-karya yang pernah rekaman di sini, dalam bentuk kompilasi gitu. Selain jadi portfolio buat Homestracks, ini juga bisa jadi rekam jejak di kemudian hari, bahwa sekarang home recording udah mulai punya pelanggan juga loh," tandasnya.

Nah dengan banyaknya opsi untuk merekam lagu pada hari ini, tanggapanmu sendiri bagaimana? Lebih tertarik rekaman di studio, atau rekaman di rumah?

Foto: dok. Homestracks

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler