Mengenal Pedal Steel Guitar Bersama Amrus Ramadhan

Bandung - TemanBaik, familiarkah kamu dengan lagu-lagu country pop seperti 'Kala Senja' dari Eva Celia? Atau mungkin kamu pernah mendengar lagu 'Pulau Ambon' George The Frates? Dalam lagu-lagu tersebut, terdapat satu instrumen khas yang bunyinya seperti slide gitar. Namun tahukah kamu bahwasannya bunyi tersebut bukan berasal dari gitar elektrik atau akustik yang dimainkan menggunakan alat slideYa! Nama alat tersebut adalah pedal steel. Pedal steel ini tentu berbeda dengan lap steel.

Beritabaik.id mendapat kesempatan untuk berbincang dengan Amrus Ramadhan. Bisa dibilang, untuk saat ini Amrus merupakan satu-satunya pemain pedal steel di Indonesia yang aktif bermusik dan juga produktif meramaikan industri musik Tanah Air.

Kepada Beritabaik.id, Amrus menjelaskan sejarah singkat mengenai alat ini. Jauh sebelum pedal steel akhirnya ditemukan, alat yang lebih dulu populer adalah alat lap steel guitar. Alat musik tersebut diketahui pertama kali muncul dari daerah Hawaii pada akhir dekade 1920-an. Meski begitu, ada juga beberapa sumber yang menyatakan bahwa alat ini sudah ada sejak akhir dekade 1880-an di Hawaii. Prinsip memainkan alat musik ini sekilas memang mirip dengan memainkan alat musik gitar menggunakan slide. Namun, untuk menghasilkan beberapa teknik seperti vibrato, atau sentuhan-sentuhan kecil memang diperlukan teknik lanjutan ketimbang memainkan slide pada gitar.

Uniknya, jenis gitar yang pertama kali dibuat menjadi gitar elektrik adalah lap steel gitar ini, bukan gitar akustik. Meski begitu, lap steel pada akhirnya berkembang menjadi pedal steel pada dekade 1960-an.

"Beda dong. Kalau lap steel itu dia unitnya ya hanya bisa dimainkan pakai prinsip main gitar yang pakai slide itu. Tapi kalau pedal steel ini ada teknik lanjutan. Enggak hanya mainin slide-nya aja, tapi nada yang mau kita hasilin itu bergantung sama kelihaian kita mainin bagian sistem di bawah ini nih dan pedal yang posisinya ada di kaki," beber Amrus sembari menunjukkan bagian pada pedal steel miliknya, Jum’at (6/3/2020).

Pahami Anatomi dan Harga
Alat musik ini pada umumnya memiliki 10 senar, meski ada juga pedal steel yang menggunakan 12 senar. Untuk setelan nadanya, alat musik ini pada umumnya berada di akor E9 kromatik atau C6, cukup berbeda dengan tuning gitar normal.

Bicara soal harga, satu unit pedal steel guitar membuatmu harus merogoh kocek sebesar Rp20 juta hingga Rp25 juta. Harga itu merupakan produk pedal steel guitar yang dianggap standar. Untuk mendapatkan spesifikasi lanjutan, harganya bisa menembus Rp50 juta hingga Rp60 juta. Di Indonesia, belum ada produsen untuk alat ini. Selain di Amerika, Amrus menyebutkan beberapa produsen Asia seperti Jepang bisa menjadi salah satu rujukan untuk kamu yang ingin memiliki alat ini.


Untuk kamu yang berminat menguasai alat musik ini, idealnya memang harus mengenal dulu alat musik gitar. Amrus menyebutkan, proses belajar pedal steel yang berangkat dari pengetahuan prinsip main gitar yang cukup akan memudahkan kita untuk proses lanjutan. Seperti misalnya membayangkan setelan nada pada pedal steel yang bisa diubah sesuai kebutuhan lagu.

Sementara itu divisi lengan untuk memainkan pedal steel seolah mendapat dua penugasan, yang mana tangan kiri bertugas menguasai steel slide / steel bar (alat geser serupa slide gitar untuk membunyikan nada pada pedal steel), sedangkan tangan kiri bertugas untuk memainkan finger style. Jika pada permainan gitar klasik, umumnya finger style menggunakan jari telunjuk, jari tengah dan jari manis untuk membunyikan senar 1, 2 dan 3 sedangkan jempol bertugas membunyikan nada bas-nya, maka pada teknik finger style di pedal steel, umumnya pemain pedal steel menggunakan jari jempol, telunjuk dan jari tengah. Kita juga bisa menggunakan bantuan thumb-pick yang dipasang pada jempol untuk mendapatkan nada-nada yang lebih padat.

Untuk dapat memainkannya, kita memang perlu bersabar. Berkaca pada pengalaman Amrus, ia bisa memainkan pedal steel setelah belajar selama enam bulan. Itu pun setelah tahap proses dirinya mempelajari gitar terlebih dahulu.

"Paling penting tuh akurasi nada, soalnya di pedal steel enggak ada fret kayak gitar biasa ya. Terus saat mainin teknik slide juga kita harus ngukur tensi senar, dan harus bener-bener bisa bayangin nada-nya. Soalnya ini alat kalau dimainin bareng ansambel band gitu, risiko fals-nya gede banget. Kita harus sabar sih buat belajar alat ini," ucap musikus kelahiran Palembang, 29 Juli 1979 ini.

Kendati demikian, Amrus menyebutkan hasil yang didapat jika kamu berhasil melewati rintangan dalam belajar pedal steel ini akan sebanding dengan kesulitan yang dihadapi. Pasalnya, bisa dibilang untuk saat ini tak ada pemain pedal steel di Indonesia yang aktif bermusik selain Amrus. Di sisi lain, Amrus mengaku ironis, mengingat dalam sejarah, Indonesia pernah punya seorang pemain pedal steel kelas dunia bernama George De Frates.

Nama musikus berdarah Ambon tersebut menghiasi blantika musik Tanah Air dekade 1950 hingga 1960-an, salah satunya lewat permainan steel guitar nya bersama grup The Tielman Brothers. Sayangnya, nama De Frates tak begitu populer di telinga sebagian besar kawula muda. Setelah nama itu itu, menurut beberapa sumber, sempat hadir nama-nama pemain lap steel atau pedal steel gitar sebelum akhirnya nama Amrus Ramadhan muncul di penghujung dekade 2000-an.

"Nah, ini masalahnya nanti sehabis saya itu siapa? Kan saya pasti ada 'habis-nya' lah, namanya juga manusia, ada masa-nya. Tentu itu, buat saya pribadi jadi pekerjaan rumah sih," ujar Amrus.

Baca Ini Juga Yuk: Setelah 20 Tahun, The Hydrant Buatkan Video Klip 'Jalan Jalan'


Karya, Eksistensi, Regenerasi
Nama Amrus Ramadhan kemudian menembus panggung musik besar skala Nasional hingga Internasional pada penghujung dekade 2000-an. Ia menyebut, keterlibatannya dalam grup musik country bersama Tantowi Yahya menjadi titik balik perjuangannya memperkenalkan alat musik pedal steel. Dikatakan sebuah perjuangan, pasalnya, bahkan sampai saat ini pun ia merasa alat musik yang dimainkannya tak sepopuler alat musik semisal gitar, drum atau bas.

Menjadi satu-satunya pemain pedal steel yang aktif bermusik, disamping menghadirkan rasa bangga, namun diakui Amrus menghadirkan pula beban yang berat. Apalagi jika 'tongkat estafet' pemain pedal steel Indonesia sampai berhenti di tangannya. Ia menilai regenerasi merupakan pekerjaan rumah yang mulai coba dikerjakannya.

"Saya seneng banget kalau ada yang mau nerusin. Yuk kita sharing! Soalnya emang udah enggak ada lagi (pemain pedal steel di Indonesia), setau saya dan sejauh ini sih ya,” ujar Amrus.

Namun untuk memulai sesuatu yang dianggapnya pekerjaan rumah itu, Amrus terlebih dahulu berupaya mengabadikan namanya sebagai salah satu pemain pedal steel yang pernah ada di Indonesia. Bagian ini dianggapnya penting, karena jejak tersebut nantinya bisa dijadikan rujukan bagi musikus di masa yang akan datang, tentunya yang akan menjadi penerus Amrus sebagai pemain pedal steel.

Oleh karenanya, dalam waktu dekat ia berencana menelurkan debut album instrumental. Saking getolnya ngalbum, bahkan kesempatan bertemu Amrus didapat oleh Beritabaik.id disela-sela penggodokan materi albumnya tersebut. Ia pun menjelaskan, menjelang perayaan Hari Musik Nasional, salah satu bentuk kontribusinya terhadap perkembangan musik nasional adalah dengan membuat karya dalam bentuk album yang nantinya diharpkan dapat menjadi jejak bagi generasi berikutnya. 

Pembuatan album tersebut bermula dari pertemuan Amrus dengan Alpha De Fretes yang merupakan putra dari George De Frates. Ia bercerita saat Alpha memintanya untuk membuat album sebagai peninggal jejak karya Amrus di blantika musik Indonesia. Setelah menemukan beberapa materi dan bertemu seorang produser yang dirasa cocok, Amrus bertekad merampungkan album tersebut tahun ini.

Lagu-lagu di dalam album tersebut nantinya akan diisi oleh lagu-lagu nasional dari daerah, lagu-lagu pop dengan nuansa 'Hawaiian Style' dan tentunya dominasi pedal steel guitar. Selain itu ada pula lagu yang merupakan gubahan Amrus sendiri. Istimewanya, album ini diproduseri oleh Sandhy Sondhoro. Perkenalan Amrus dengan Sandhy pun dianggapnya sebagai suatu anugerah. Amrus merupakan bagian dari band pengiring dari Sandhy Sondhoro yang melabeli diri dengan entitas The Bobs.

"Udah ketemu sama produsernya, materinya udah digodok. Ya, maunya sih 2020 ini rampung. Jejak nih soalnya buat generasi berikutnya," kata Amrus.

Tak hanya mengiringi Sandhy Sondhoro saja, jika kamu ingin mendengarkan sentuhan pedal steel Amrus pada lagu-lagu populer, kamu bisa mendengarkan lagu 'Sayang Disayang' dari Naif, misalnya. Selain itu, Amrus juga tercatat menjadi musisi yang terlibat dalam karya-karya seperti Baim, Eva Celia, atau grup musik blues legendaris asal Bandung, Blues Libre. Terdekat, Amrus kembali terlibat dalam lagu terbaru milik band Kotak yang akan dirilis beberapa waktu ke depan.

Terlibatnya alat musik pedal steel ini di beberapa genre musik, mau tak mau harus diakui, pedal steel hari ini sudah lebih fleksibel kegunaannya. Lalu, adakah diantara kamu yang berminat mempelajari alat musik ini?

Foto: Rayhadi Shadiq/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler