Bicara Wanita, Musik & Bisnis Kreatif Bersama Sisca Guzheng Harp

Bandung - TemanBaik, familiarkah kamu dengan alat musik harpa? Ya alat musik yang punya bentuk relatif besar, secara visual nampak rumit dan memiliki banyak dawai ini menjadi daya tarik. Selain karena tampilan visual, bunyi yang dikeluarkannya pun punya karakter sendiri. Selain itu, di Indonesia, jumlah pemain harpa yang aktif bermusik relatif lebih sedikit ketimbang alat musik lainnya seperti biola, cello, atau mungkin gitar dan piano.

Beritabaik.id berkesempatan untuk berbincang dengan Fransisca Agustin. Wanita yang akrab dengan entitas panggung Sisca Guzheng Harp ini sudah 16 tahun menjalani profesi sebagai musikus dengan spesialisasi alat Harpa dan Guzheng (kecapi Cina).

Wanita kelahiran Bandung 17 Agustus 1982 ini mulai belajar harpa pada tahun 2006. Sebelumnya, Sisca menekuni alat musik guzheng (kecapi China) yang dimulai sejak tahun 2003. Faktor yang menyebabkannya pindah haluan dari alat musik guzheng ke harpa adalah tuntutan untuk dirinya agar bisa menjalankan bisnis musiknya. Uniknya, proses belajar itu berawal saat ia merasa posisinya sebagai pemain guzheng tak terlalu diperlukan dalam industri hiburan.

"Jadi, uang tabungan selama tiga tahun main guzheng itu saya putarkan untuk beli harpa. Terus saya belajar, dan mulai dapet garapan (job) dari harpa itu dua tahun setelah saya belajar. Unik sih kalau nginget fase pertama belajar. Tapi, ya dari saya belajar itu, terbuka lah garapan-garapan musik," ujar Sisca di Bandung, Kamis (11/3/2020).


Kepada Beritabaik.id, Sisca juga memaparkan, jika kamu hendak belajar alat musik harpa, idealnya kamu menguasai terlebih dahulu alat musik piano. Hal ini dimaksudkan agar kamu tak perlu menghabiskan banyak waktu untuk mengulik alat musik harpa ini. Selain itu, Sisca menilai disiplin dan latihan teknik menjadi bagian penting dalam mempelajari alat musik ini, khususnya harpa. Hal itulah yang tak ia dapatkan saat belajar harpa, karena ia mempelajari alat musik ini secara otodidak.



Dalam perjalanannya bermusik, ia pernah berkolaborasi dengan beberapa musikus kenamaan, sebut saja gitaris Dewa Budjana. Sisca tercatat berkolaborasi dengan Dewa Budjana pada launching buku Gitar pada 2012, Sanur Jazz Festival 2012, Performance Art Market 2013 di Goethe-Institut, dan Ubud Jazz Festival 2015. Ia juga mengenang proses pertemuannya dengan maestro gitar Indonesia tersebut sebelum akhirnya berkolaborasi. Hal itu bermula saat keduanya sama-sama menjadi musisi tamu sebuah konser di Bandung medio 2012. Setelah itu, keduanya berkenalan dan bertukar nomor kontak.

"Di backstage tukeran nomor, dan enggak lama dari situ dapet SMS, diajak kolaborasi untuk beberapa acara gitu. Wah, kaget juga saya!" kenangnya sembari tertawa.

Selain itu, ia juga pernah nampil di gelaran Ubud Jazz Festival bersama Dwiki Dharmawan dan Kamal Mussalam, Samba Sunda pada gelaran Konferensi Asia Afrika ke-60 pada 2015 dan acara Jazz Gunung pada 2016. Belum lama ini, Sisca baru saja pulang dari Melbourne Australia usai nampil sebagai pemusik di acara Festival Asia TOPA. Ia menceritakan keseruannya saat mentas di Negeri Kangguru tersebt. Dalam pertunjukan yang dimainkannya, ia mengisi musik untuk pertunjukan teater yang menceritakan tentang kehidupan zaman Yunani Kuno.

Baca Ini Juga Yuk: SMK Negeri 10 Bandung Cetak Musikus 'Siap Tempur' di Dunia Kerja

Pencapaian yang membuatnya merasa bangga dalam perjalanan sebagai musikus adalah saat dirinya berhasil menggelar konser prototipe Harpa Nusantara pada 30 September 2019 silam. Konser itu dihelat di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Bandung. Sisca mengaku senang karena dalam konser itu, ia seperti memiliki 'portfolio' bermusik sendiri. Kendati demikian, ia merasa banyak evaluasi, tantangan dan pekerjaan rumah untuk karirnya ke depan.

Salah satunya, ia sedang berupaya agar bisa tampil sebagai one woman show, alias tanpa pengiring. Hal ini bertujuan untuk mencapai efektivitas waktu, mengingat perlunya berbagai proses dari mulai workshop, hingga gladi bersih yang dianggap memakan waktu, jika ia melibatkan banyak pengiring.

"Konser itu bisa dibilang sukses banget. Cuma, buat saya pribadi sih koreksinya, ya saya mesti eksplorasi dan lebih banyak ngulik lagi supaya bisa main sendiri gitu," katanya,

Selain nampil di beberapa acara festival, ia hanya fokus pada bisnis musiknya sebagai pemain harpa dan guzheng untuk acara pernikahan atau gathering. Ia memainkan harpa sebagai musik pengiring untuk acara-acara tersebut. Ketika ditanya mengenai keinginannya mencipta sebuah karya, Sisca mengaku belum terpikir untuk merilis karya pribadi. Untuk hal tersebut, ia mengaku berkaca pada industri musik saat ini yang belum memungkinkan untuk seorang pemain harpa bisa nampil sebagai performer. Selain itu, proses dari menentukan materi, merekam, sampai promosi dianggapnya menjadi satu paket tahapan yang memakan waktu dan energi cukup besar, yang mana dirinya merasa belum siap untuk menjalaninya.

Foto: Rayhadi Shadiq/beritabaik.id


Wanita Dalam Industri Musik
Dalam euforia Hari Musik Nasional yang juga berdempetan dengan Hari Perempuan Internasional, Sisca berharap hadirnya perempuan dalam industri musik jangan hanya sebagai pemanis visual saja. Menurutnya, ada nilai lebih yang bisa disajikan oleh wanita, bukan sekadar tampilan fisik saja. Ia mengaku khawatir dengan fenomena munculnya musikus wanita yang dianggap relatif elok dipandang namun tanpa dibarengi dengan kemampuan bermusik yang mumpuni.

"Saya sih berharapnya, penampilan musik wanita itu enggak hanya good looking aja, tapi juga dibarengi dengan kemampuan dia main. Misalnya dia pemain violin, jangan sampai kamu main violin itu kamu main hand-sync, kalau dia penyanyi, jangan sampai dia lip-sync. Harus dibarengin juga sama kemampuan dia main. Sekarang kan yang laku tuh yang kayak gitu ya. Tapi, ya, mungkin itu sih rejeki mereka aja mungkin,” bebernya.

Kendati demikian, ia tetap optimis dan senang melihat kondisi hari ini, yang mana mulai bermunculan musikus muda wanita yang aktif berkarya. Sisca berharap jumlah musikus wanita yang berkarya ini semakin masif lagi ke depannya.

Lebih jauh lagi, Sisca berharap agar dirinya terus bisa bermain harpa ataupun guzheng untuk jangka waktu lebih lama lagi. Sampai saat ini, ia sudah memiliki 4 prototipe harpa, yakni harpa Toraja, Mega Mendung (Cirebon) Kawung (Mataram), dan Dewi Sri (Dewi Kesuburan di Jawa dan Bali) yang dilukis motif tumpal oleh Anton Susanto, yang merupakan perupa dari Galeri Seni Popo Iskandar. Ke depannya, ia berharap prototipe itu bisa bertambah lagi dan akan terus dikembangkan.

TemanBaik, adakah diantara kamu yang berminat mempelajari harpa? Atau malah jangan-jangan, kamu sudah menguasai alat musik ini?

Foto: dok. Sisca Guzheng

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler