Seperempat Abad Perjalanan Glenn Fredly untuk Indonesia

Bandung - Kabar duka kembali menyelimuti industri musik Tanah Air. Salah satu penyanyi kebanggaan Indonesia, Glenn Fredly menghembuskan napas terakhirnya pada Rabu (8/4/2020) di RS Setia Mitra, Cilandak, Jakarta. Penyanyi dengan nama lengkap Glenn Fredly Deviano Latuihamallo tersebut meninggal dunia pada usia 44 tahun akibat penyakit meningitis. Tak hanya dari sesama rekan musikus, kepergian Glenn menyedot duka dari berbagai elemen dalam ekosistem industri hiburan di Indonesia.

Penampilan terakhir Glenn di panggung besar adalah tatkala ia menggelar konser bersama band pengiringnya The Bakuucakar pada 29 Februari 2020 di Bekasi. Setelahnya, Glenn memang dijadwalkan menggelar rangkaian tur dalam memperingati 25 tahun kiprahnya di blantika musik Tanah Air. Tur tersebut sedianya akan digelar pada Juni 2020 mendatang, namun harus mengalami penundaa akibat pandemi global COVID-19.

Dalam unggahan di akun instagramnya, Glenn menyampaikan kesedihannya atas kondisi darurat yang terjadi di Indonesia belakangan akibat mewabahnya pandemi global COVID-19 yang mengakibatkan deretan rencana bermusiknya harus mengalami penundaan.

Mengharukannya, single berjudul 'Selesai' yang dirilisnya pada 16 November 2019 silam seakan jadi single terakhirnya, yang kemudian masuk dalam daftar lagu di album 'Romansa Masa ke Depan'. Selain itu, di luar panggung besar, ia belakangan nampak berkolaborasi dengan penyanyi Marcello Tahitoe dalam membuat konten sesi bermusik #DiRumahAja.

Mengupas seperempat abad perjalanan Glenn Fredly di Industri Musik, ia tak hanya dikenal sebagai musikus saja, melainkan sebagai tokoh dalam ekosistem industri musik Tanah Air. Beberapa kegiatan di luar bermusik dan bernyanyi ia lakukan. Bahkan, ia punya cita-cita memajukan ekosistem musik di Indonesia lewat beberapa aksinya di luar panggung musik.


                                                                             Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id
Aktif dalam Ekosistem Musik Indonesia
Sejak dimulainya era media sosial, kesadaran para musikus untuk berserikat mengalami peningkatan drastis. Stigma berkolaborasi lebih baik dari berkompetisi makin terasa setelah penjualan fisik tak lagi jadi primadona. Di titik ini, sejumlah musikus mulai tergerak untuk membuat 'koalisi' para musikus.

Salah satu yang mencuat dalam ingatan kita adalah tatkala Glenn buka suara perihal topik Rancangan Undang-Undang (RUU) Permusikan, medio 2019 silam. Ia adalah salah satu musikus yang paling lantang menolak RUU Permusikan. Kekecewaannya pada tim perumus RUU Permusikan dituangkan dalam sebuah gagasan yang beken dengan Konfrensi Meja Potlot (KMP). Butir-butir gagasannya bersama para musikus lain dituangkan dalam unggahan di akun instagramnya.

Tak berhenti di situ, saat otoritas terkait merevitalisasi kawasan MBloc di wilayah Blok M, Jakarta Selatan menjadi wahana kreatif untuk para seniman muda Glenn merupakan salah satu yang terlihat aktif berdiskusi soal pemberdayaan ekonomi di kalangan seniman. Indikatornya bisa kita lihat pada unggahan di akun instagram Menteri Keuangan Sri Mulyani terkait kepergian Glenn.

"Saya kehilangan seorang teman yang memiliki kepedulian sangar besar terhadap berkembangnya industri musik dan kesejahteraan para musisi serta seniman Indonesia. Selamat tinggal Glenn Fredly. Kepedulianmu adalah warisan abadi bagi dunia seni musik Indonesia," tulis Sri Mulyani.

Selain itu dalam akun instagramnya, beberapa kegiatan organisasi para musikus Indonesia getol dipromosikannya. Sebut saja Federasi Musik Indonesia (FESMI) yang dibentuk atas inisiasi para anggota Persatuan Artis, Penyanyi, Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI) pada 18 Desember 2019 silam dan akhirnya didirikan pada momen Hari Musik Nasional pada 9 Maret 2020. Glenn menyebutkan, setiap musikus harus peduli terhadap masa depan profesi yang digelutinya.


                                                                                        Foto: Irfan Nasution/beritabaik.id
Mewakili Suara Musikus
Dalam era keterbukaan berpendapat, bukan hal yang tabu lagi jika isu sosial, politik dan ekonomi mulai dijamah para musikus dalam forum diskusi. Pandangan-pandangan yang dulunya hanya tersirat lewat karya, kritik-kritik terhadap isu pemerintahan, misalnya, yang dulu hanya disampaikan secara malu-malu lewat gaya sindiran dalam lirik lagu, belakangan mulai disuarakan secara lugas dalam forum diskusi.

Glenn adalah salah satu musikus yang melakukan hal tersebut. Bahkan, suara Glenn Fredly untuk isu-isu tersebut seakan punya tempat sebagai 'suara-nya para musikus Tanah Air'. Dengan lugas, ia mampu mewakili ribuan pelaku musik Indonesia tatkala membahas soal isu politik. Sebut saja dalam ajang kontes politik sekelas pemilihan presiden, misalnya.

"Indonesia ke depannya akan punya sumber daya yang kuat. Sehingga kepentingan bangsa harus didahulukan ketimbang kepentingan pribadi atau golongan. Jangan karena elektoral, kemudian kepentingan yang lebih besar itu terabaikan sebagai sebuah bangsa," ujarnya, dalam salah satu tayangan wawancara.

Menjelajah garis waktu, sekira 15 tahun silam saat bencana gempa dan tsunami melanda Aceh, Glenn menulis lagu berjudul 'Kita Untuk Mereka' yang kemudian digarapnya bersama musikus Erwin Gutawa. Memori tersebut sempat diunggahnya lewat tayangan di akun instagram prbadinya pada 24 Maret silam.

Baca Ini Juga Yuk: Cherry Bombshell Bagikan Masker Gratis Selama Masa Karantina

Vokalnya suara Glenn menanggapi isu sosial juga terjadi saat menyuarakan soal Papua. Akun twitter @ingat65 mengingat kembali memori tentang Glenn.

"Rest In Love, Bung @GlennFredly. Terima kasih sudah menjadi salah satu orang yang menyemangati kami," tulis akun tersebut.

Dalam penampilannya di Synchronize Festival 2019, Glenn menyuarakan aspirasinya soal Papua. Ia berujar pada penonton agar tak percaya pada propaganda yang menyebutkan hal yang tak baik soal Papua. Selain itu, pada gelaran Konser Untuk Republik, Glenn yang tampil pada hari ketiga menyapa para saudara Papua. Ia juga menyanyikan lagu-lagu asal Papua seperti Yamko Rambe Yamko, misalnya.

Masih dalam isu sosial, Glenn juga menjadi salah satu musikus yang bersuara saat menolak reklamasi di Teluk Benoa. Pada konsernya yang dihelat di Hard Rock Café, Kuta, Bali 2 Oktober 2013 silam, ia mengutarakan kegelisahannya. Ia mengaku mencintai kultur Bali dan menjadikannya sebagai tanggung jawab bagi dirinya.

"Saya akan dedikasikan konser nanti untuk kampanye #BaliTolakReklamasi," tulis akun twitternya pada 2013 silam.

Bukan Musikus, Tapi Seniman dari Timur
Kegiatan Glenn tak hanya bermusik dan menghidupkan ekosistem musik saja. Ia tercatat pula sebagai pembawa acara di beberapa talkshow baik itu siaran langsung maupun tunda. Glenn nampil sebagai pembawa acara bersama Trio Lestari, grup yang dibentuknya bersama Tompi dan Sandhy Sondhoro.

Glenn juga dengan bangga menampilkan identitasnya sebagai musikus dari Timur Indonesia. Salah satu karya Glenn yang menunjukkan kecintaan terhadap tanah kelahirannya ialah lagu 'Rame-Rame Timur' yang biasa ia bawakan dengan band pengiringnya, The Bakuucakar. Lagu bernuansa fushion-jazz ini seakan jadi lagu kebangsaan bagi para band-band festivalan yang manggung. Tanpa perlu diracik ulang, komposisi lagu ini memang sudah sangat megah.

Diskografi Singkat
Glenn Fredly Deviano Latuihamallo memulai perjalanan bermusiknya sejak 1995. Kala itu, ia memenangkan sebuah kontes penyanyi. Lalu, ia bergabung dengan grup musik Funk Section. Pada 1998, ia merilis debut album bertajuk 'GLENN'. Dua tahun setelahnya, ia merilis album bertajuk Kembali dengan single andalan 'Kasih Putih'.

Nama Glenn Fredly makin dikenal setelah merilis album 'Selamat Pagi, Dunia' pada 2003 dan mengisi soundtrack pada film Cinta Silver pada 2005 lewat lagu 'Kisah Romantis'. Setelah itu, namanya kerap disebut sebagai musikus top di Indonesia. Pada 2011, Glenn kemudian membentuk Trio Lestari bersama Sandhy Sondoro dan Tompi.

Album 'Romansa Masa ke Depan' dan single yang bertajuk 'Selesai' seakan jadi karya penutup Glenn di industri Musik Tanah Air.

TemanBaik, menilik perjalanan Glenn Fredly di industri musik Tanah Air sejak 1995, rasanya tak berlebihan jika kita sejenak mengheningkan diri dan mengucap selamat tinggal. Bukan untuk seorang musikus di Indonesia saja, melainkan untuk seorang tokoh dalam ekosistem musik di Tanah Air. Selamat jalan, Glenn Fredly! Perjuanganmu untuk mensejahterakan seluruh elemen dalam ekosistem musik akan diteruskan oleh jutaan pelaku musik yang sekarang sedang berkarya.

Nah, di antara banyak lagu-lagu Glenn yang populer, yang manakah yang jadi favorit TemanBaik?

Foto: Irfan Nasution/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler