Menyelamatkan Arsip Musik Indonesia Bersama Irama Nusantara

Jakarta - TemanBaik, kerja pengarsipan, dalam hal ini arsip dokumen musik adalah hal yang penting. Prosesnya panjang dan juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Beritabaik.id punya kesempatan berbincang dengan Yayasan Irama Nusantara mengenai proses pengarsipan ini. Yuk simak!

Belum lama ini, Yayasan Irama Nusantara baru saja membuka donasi untuk biaya operasional kegiatan mereka mengarsipkan rilisan fisik untuk musik populer Indonesia. Beritabaik.id kemudian menelusuri bagaimana sih proses pengarsipan itu sendiri, dan mengapa proses ini sampai memerlukan dana yang tak sedikit?

Lalu, bagaimana nasib Yayasan Irama Nusantara pasca tak lagi bergabung dengan Bekraf yang kini melebur dalam Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Kepada Beritabaik.id, Program Designer Yayasan Irama Nusantara, Gerry Apriyan menjelaskan, sejak kembali bergerak secara independen, biaya operasional untuk kegiatan Yayasan Irama Nusantara memang sudah diprediksi hanya cukup hingga bulan Juni tahun 2020. Artinya, tak sampai sebulan lagi, tenggat waktu tersebut bakal habis. Oleh karenanya, mereka membuka donasi lewat platform urun dana kitabisa.com

"Nah. Dari donasi tersebut, sebenarnya biaya operasional untuk mengarsipkan 100 rilisan fisik dalam satu bulan. Dan update terakhirnya, kebutuhan operasional sampai bulan Juli 2020 sudah tercukupi. Untuk bulan Agustus dan seterusnya, kami sedang memikirkan dan mencoba menjajaki berbagai kemungkinan," jelasnya.

Hal yang sulit dipercaya, meski sudah dibuka sejak bulan Februari, namun terjadi lonjakan yang cukup drastis dalam satu malam untuk memenuhi kebutuhan biaya operasional tersebut.

"Kita seneng banget sih. Atensinya luar biasa dan cara mereka untuk berdonasi itu kreatif banget. Kayak misalnya ngejual desain, terus royaltinya disumbangin lewat kitabisa, dan masih banyak lagi," ujar Gerry.

Mewakili Yayasan Irama Nusantara, Gerry mengucapkan terima kasih. Menurutnya, arsip musik populer Indonesia bukanlah milik Irama Nusantara sebagai institusi, lebih dari itu, arsip ini adalah milik publik. Namun di sisi lain, ia juga mengajak publik untuk sama-sama menjaga arsip ini.



Kenapa Begitu Mahal?
Gerry pun menjelaskan mengapa proses alih digital ini begitu mahal. Menurutnya, apa yang dikerjakan oleh Irama Nusantara dalam mengarsipkan rilisan fisik Indonesia memerlukan proses yang panjang dari mulai konversi, reduksi, hingga proses olah-suara sebelum diunggah ke situs web.

"Pertama, dari akuisisi sumber data. Karena untuk beberapa rilisan kita kan harus membelinya, ya," ujar Gerry.

Seperti kita ketahui, harga untuk sebuah rilisan fisik hari ini tak jarang lebih mahal dari harga aslinya. Apalagi untuk rilisan fisik yang tergolong langka alias rare. Kendati demikian, Irama Nusantara merasa terbantu dengan kehadiran para pedagang rilisan fisik yang meminjamkan atau menitipkan barang dagangannya ke Irama Nusantara karena merasa percaya akan kegiatan sosial yang dilakukan Irama Nusantara, yaitu melestarikan musik populer di Indonesia.

Proses berikutnya adalah converting atau alih data dari bentuk analog ke digital. Gerry menyebutkan, proses ini memerlukan waktu yang lama. Bila sebuah album memiliki durasi satu jam, maka proses alih data ini mengharuskan kita melakukan pemutaran atau playback materi albumnya selama satu jam. Bisa dibayangkan, banyaknya arsip rilisan fisik musik populer di Indonesia.

Belum selesai di situ, tahap berikutnya adalah mereduksi gangguan suara (noise) dari data analog saat sudah dikonversi ke format digital. Gerry memaklumi hal ini, karena tak jarang kondisi suara materi lagu pada rilisan fisik relatif tak sebaik kondisi suara rilisan digital yang belakangan ini mudah kita akses.

"Karena faktor usia, dan faktor lainnya, banyak banget noise yang harus kita reduksi," ujar Gerry.

Aspek berikutnya adalah keberadaan alat untuk memutar rilisan fisik. Saat ini, Irama Nusantara memang hanya fokus mengarsipkan dan alih data rilisan fisik dalam bentuk piringan hitam. Adapun turntable yang dimiliki Irama Nusantara memiliki kualitas high fidelity.

Nah, perawatan alat ini yang disebut Gerry bisa memakan biaya. Pasalnya, jarum untuk alat pemutar tersebut secara berkala diganti. Ia menyebutkan, penggantian berkala dilakukan setelah melakukan deteksi terhadap 150 rilisan fisik.

"Karena bakal haus kalau si jarum ini terus-terusan dipakai," katanya.

Setelah itu, ada pula beberapa alat seperti amplifier dan soundcard yang berfungsi sebagai alat konversi data analog ke digital. Menurut Gerry, kedua alat tersebut merupakan alat dengan kualitas yang baik sehingga berharga relatif mahal.

Baca Ini Juga Yuk: Menelisik Konsep Triple Helix dalam Ekosistem Musik

Perjalanan Panjang Pengarsipan Musik
Berdiri sejak tahun 2013, Yayasan Irama Nusantara telah mengkonversi ratusan rilisan fisik musik populer di Indonesia. Perjalanan mereka dimulai dari upaya mengkonversi rilisan fisik milik para pendirinya, yang juga merupakan kolektor rilisan fisik.

Titik terang perjalanan Yayasan Irama Nusantara terjadi pada 2016, saat mereka bekerjasama dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Mereka mendapat akses ke Radio Republik Indonesia (RRI) untuk mengarsipkan dan mengalih-data rilisan fisik yang ada di RRI ke dalam bentuk digital.

"Koleksi mereka cukup komplit, ya. Jadi sekitar 2016 sampai 2017, kita keliling pulau untuk mengarsipkan rilisan fisik yang ada di RRI di Indonesia. Kita juga mengembalikan bentuk digitalnya ke pihak RRI untuk diputar kembali," jelas Gerry.

Lebih dalam lagi mengenai pengarsipan, Gerry menyebutkan hal ini merupakan aspek yang sangat penting dalam kegiatan industri musik. Pasalnya, dengan memahami arsip musik, kita bisa memahami juga sejarah musik yang ada di Indonesia.

"Kita jadi tahu nih, dulu pernah ada (karya) apa sih di Indonesia? Elemen kebudayaan itu penting banget untuk diarsipkan sebagai perjalanan sejarah. Sederhananya, kita bisa belajar, mengapreasiasi, atau mungkin terinspirasi dari karya-karya yang sudah ada," bebernya.

Kendati mengarsipkan rilisan fisik untuk musik di Indonesia rasanya relatif cukup berat, namun Gerry punya pandangan untuk mengurai pekerjaan rumah ini. Menurutnya, sejak saat ini, generasi muda perlu menumbuhkan ketertarikan terhadap musik Indonesia.

Ia menyebutkan, bila ketertarikan itu sudah tumbuh, maka akan timbul keinginan untuk mencari tahu mengenai seluk beluk perjalanan musik di Indonesia.

"Kalau sudah nyemplung, kan kita bisa jadi kolektor. Itu jangka panjang lah, tapi awalnya kan bermula dari ketertarikan dulu," katanya.

Rangkaian proses dari ketertarikan hingga keinginan mengoleksi rilisan fisik dikatakan Gerry nantinya akan menumbuhkan ekosistem yang ideal dalam upaya pengarsipan musik di Indonesia.

Yuk, Bantu Irama Nusantara!
Saat ini, donasi untuk Yayasan Irama Nusantara masih dibuka. Bila saat ini donasi yang tercapai dialokasikan untuk operasional mereka sampai bulan Juli 2020, maka donasi berikutnya bersifat pengembangan yaitu untuk operasional hingga bulan Desember 2020.

"Dengan begitu, kita jadi bisa menghela nafas sampai Desember tahun ini untuk mencari donatur berikutnya," kata Gerry.

Lalu, bagaimana caranya untuk membantu gerakan dari Yayasan Irama Nusantara? Ya, kamu bisa berdonasi melalui platform yang disediakan oleh Yayasan Irama Nusantara dengan melihat informasi detail pada akun Instagram resmi @iramanusantara.

Kamu juga bisa menyumbangkan tenagamu untuk membantu aksi mereka. Caranya dengan mengirim surel ke alamat info@iramanusantara.org untuk berkonsultasi lebih lanjut akan kebutuhan mereka.

Sebagai pamungkas, Gerry menyebutkan ke depannya Yayasan Irama Nusantara akan terus menjalankan program dalam rangka penyelamatan operasional Yayasan Irama Nusantara.

"Kita buka kerjasama ke semua instansi yang bersedia terlibat dalam program pengarsipan musik populer Indonesia dengan basis open source. Rencananya, kita juga membuka sejenis lelang dari koleksi piringan hitam yang kita punya. Namun, untuk yang satu ini, prosesnya sedang dalam tahap penggodokan," pungkas Gerry.

TemanBaik, arsip musik adalah sesuatu yang penting dalam perjalanan sejarah kebudayaan kita. Maka dari itu, yuk kita tumbuhkan kepedulian kita untuk menelusuri dan mempelajarinya!

Foto: dok. Yayasan Irama Nusantara

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler