Ingin Jadi Konten Kreator Musik? Perhatikan Hal Ini Ya!

Bandung - TemanBaik, pernah enggak kamu terpikir untuk menjalani profesi sebagai konten kreator musik di YouTube? Kira-kira, apa saja sih hal yang harus dipersiapkan?

Kali ini, Beritabaik.id ngobrol dengan Ginda Bestari. Musikus asal Bandung ini sekarang sedang disibukkan dengan pembuatan konten musik di kanal YouTube miliknya. Ia membuat berbagai video tutorial, lagu premium, hingga kelas daring berbayar. Saat ditemui oleh Beritabaik.id, Ginda menyebut sudah saatnya pelaku industri kreatif beradaptasi dengan situasi saat ini.

"Karena manggung udah enggak ada, tapi di sisi lain sirkulasi ekonomi kan harus dipenuhi. Jadi gimana caranya walau #DiRumahAja, tapi tetap berpenghasilan," ujar Ginda.

Ia kemudian memutuskan untuk mendalami bidang konten kreator musik. Dari proses pendalaman tersebut, ia mendapat banyak ilmu tentang cara menjadi kreator konten musik yang baik. Nah, lalu bagaimana sih caranya membuat konten video musik yang ideal? Yuk kita simak!

Tentukan Ide dan Keyakinan
Sebelum membahas tentang alat, proses penyuntigan dan output video, Ginda menyebut hal terpenting dalam sebuah konten adalah ide konten itu sendiri. Sebelum terjun sebagai kreator konten musik, Ginda mengaku sudah membuat rencana jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang sebelum akhirnya mengeksekusi satu demi satu rencana pembuatan kontennya.

"Saya sampe setahun bikin rencana ini. Biar nanti enggak pusing di tengah jalan dan bisa konsisten," jelasnya.

Selain itu, ia juga menyebut pentingnya keyakinan untuk komitmen menjalani pekerjaan alternatif sebagai kreator konten ini. Menurutnya, kunci utama apabila kamu hendak menekuni profesi sebagai konten kreator adalah konsistensi untuk membuat konten yang baik.

Pentingnya Segmentasi
Lebih jauh lagi, Ginda menyebut pemahaman kreator terhadap segmen yang akan dirangkulnya akan menentukan identitas sang kreator tersebut. Ia menyarankan kepada calon kreator yang baru mulai untuk membuat konten untuk memperhatikan terlebih dahulu segmen penonton yang akan dirangkulnya.

"Kalau orang mau nyari review pedal efek gitar, misalnya, sekarang kan pada larinya ke Dapoer Gear (kanal YouTube milik Rama Nidji) atau ke YouTube-nya Iga Massardi, misalnya. Nah, agak sulit tuh. Karena dua kanal ini udah kredibel," katanya.

Kejelian kreator untuk menentukan segmen penontonnya akan berpengaruh pada banyak hal untuk jangka panjang. Konten kreator yang sudah berhasil meraup segmen penonton akan mendapat kepercayaan dari penonton lain. Lebih lanjut lagi, dalam jangka waktu lama, penonton setia itu akan menanti-nantikan konten terbaru dari sang kreator. Konsepnya mirip seperti generasi penonton televisi di dekade 1990-an yang menanti-nantikan salah satu program kesayangan kita.

Baca Ini Juga Yuk: 'Secret Masterclass', Cara Ginda Bestari Siasati Sepi Manggung

Siapkan Kemasan Audio Visual yang Baik
Selanjutnya, Ginda menyebut kemasan konten musik yang baik terdiri dari kualitas gambar dan suara yang baik juga. Namun menurutnya, untuk menyajikan dua unsur ini dengan kualitas yang baik, kamu tidak perlu membeli alat perekam suara atau kamera dengan harga selangit.

"Sebetulnya kamera atau audio interface mahal secara enggak langsung tuh menunjang ya, untuk output audio visual yang bagus. Tapi kalau memang enggak terkejar budgetnya, enggak apa-apa. Dengan alat yang kita punya, bikin aja. Asal idenya mantap. Tapi PR buat si kreator ini, gimana caranya bikin output maksimal dari alat penangkap yang ala kadarnya. Itu masih bisa diakalin kok," terangnya.

Secara teknis, ia menyoroti pentingnya kehadiran tata lampu sebelum membuat konten video musik. Ia menyarankan para calon kreator untuk terlebih dulu melakukan riset dan memperbanyak referensi tentang tata cahaya lampu untuk keperluan konten yang akan dibuatnya.

Eksekusi Ide dan Terjemahkan Bahasa
Tahap berikutnya adalah mengeksekusi ide. Caranya dengan menjalani proses pengambilan gambar, penyuntingan gambar, hingga proses unggah ke platform YouTube. Dalam proses ini, Ginda melakukannya sendiri. Menurutnya, ada kepuasan personal apabila sang kreator benar-benar menjalani proses ke proses seorang diri.

"Meskipun tiap bikin konten begadang. Tapi alhamdulillah, puas sama hasilnya," terang Ginda.

Selain itu, apabila konten musikmu banyak berisi perbincangan ketimbang bermain musik, maka kamu harus mengolah ide yang kamu dapat dari referensimu ke dalam gaya bahasa yang relatif mudah dimengerti oleh pendengar. Dengan melakukan itu, maka kamu bisa membuat penonton tidak merasa cepat bosan menonton videomu walau misalnya isi konten musikmu dianggap terlalu berat.

Perbarui Referensi dan Kembangkan Potensi Lain
Tampilan visual yang berubah sangat cepat mengharuskan kamu untuk terus memperbarui referensi secara berkala. Ginda menyebut, tiap kreator wajib memperbarui pengetahuan tentang cara penyajian visual untuk kontennya agar tetap relevan tayang di antara banyak video kreator lainnya.

Tidak sedikit konten kreator yang mengharapkan keuntungan dari iklan atau banyaknya pengikut (subscribers) di kanal YouTube-nya. Namun Ginda lebih menyoroti pengembangan potensi lain dari kanal YouTube tersebut. Ketimbang mengandalkan iklan dan jumlah subscribers, ia lebih fokus menggiring pendengarnya untuk melihat katalog produk kreatif digital dalam bentuk kelas daring, atau konten premium berbayar lainnya sebagai lahan bisnis.

"Kalau ngejarnya subscriber banyak, adsense, dan lain-lain, enggak salah sih jadinya banyak konten-konten yang ngutamain sensasi ketimbang substansinya," kata Ginda.

Secara keseluruhan, Ginda menyebut untuk jadi konten kreator musik, kita perlu memperhatikan konten dengan nilai-nilai penting yang relevan untuk ditonton dalam jangka waktu lama ketimbang membuat konten sensasional yang hanya meledak dalam waktu sesaat.

"Ya enggak salah juga sih bikin konten sensasional. Tapi kalau niatnya mau jadi kreator konten musik, masak rela sih nurunin standar kontennya demi angka subscribers, kasarnya gitu lah. Sayang banget kalo menurut saya," tegasnya.

Sebagai informasi, saat ini apabila kamu hendak mempelajari instrumen gitar secara lebih mendalam, Ginda Bestari membuka kelas daring berbayar dengan materi-materi yang menarik untuk kamu pelajari. Kelas daring berbayar itu disuguhkan dalam 'Secret Masterclass Vol. 1'. Adakah di antara kamu yang membeli materi kelas daring ini?

TemanBaik, kenormalan baru idealnya bisa menjadi wahana baru untuk kita menyajikan hal positif. Selama kita bisa beradaptasi dan menemukan pola baru yang lebih nyaman, bukan tak mungkin hal positif yang hendak kita lakukan akan punya dampak bagi lebih banyak orang. Semangat ya!

Foto: Ilustrasi Unsplash/Ady TeenagerInRO

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler