Serunya Kegiatan Bermusik Anak di Jonim Musik

Bandung - Saat ini, musik bisa jadi alternatif media pendamping bagi tumbuh kembang anak. Hal itu yang kemudian diterapkan oleh Jonim Musik. Seperti apa sih kegiatan di dalamnya?

Didirikan pada tahun 2012, Jonim Musik menyediakan kelas musik berkelompok untuk bayi dan anak mulai dari usia 6 bulan hingga 6 tahun. Nama Jonim Musik itu sendiri merupakan singkatan dari nama Prof. Dr. John S. Nimpoeno, seorang pakar psikologi dan grafologi Indonesia. Diprakarsai oleh John S. Nimpoeno, akhirnya ide tersebut direalisasikan oleh founder Jonim Musik, Goeti Nimpoeno-Rondonuwu.

“Setelah mendapatkan pelatihan tentang pendidikan musik untuk anak usia dini, akhirnya kami buka kelas musik dan kami klasifikasikan berdasarkan usia anaknya,” ujar Goeti, saat dikunjungi Beritabaik di Head Office Jonim Musik, Jl. Dago Selatan No. 31 Bandung.

Ia juga menyebutkan, kurikulum yang digunakan Jonim Musik mengacu kepada Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini Permendikbud dan teori psikologi perkembangan agar sesuai dengan kebutuhan bayi dan anak. Hal itu juga dituangkannya dalam keterangan di website resmi mereka. Selain itu, Jonim Musik menerapkan pola ajar yang melibatkan guru, murid, dan orang tua murid. Pada praktiknya, aktivitas pembelajaran musik di kelas Jonim Musik dikemas dalam kegiatan serta permainan menyenangkan yang mengacu pada pendekatan teori dan metode pengajaran musik yang sesuai untuk bayi dan anak.

Beberapa konsep belajar yang diterapkan antara lain dalcroze, carabo cone, suzuki, solfege, kodaly, dan orf. Konsep belajar tersebut tidak meliputi musik saja, tetapi juga unsur gerak dan bahasa yang diselipkan ke dalamya. Secara tidak langsung, melalui musik sang anak bisa melatih sensor motorik halus dan kasarnya. Goeti menyebut, seluruh kegiatan belajar di Jonim Musik tidak melulu harus menjadikan sang anak jadi mahir bermain alat musik. Lebih luas lagi, musik bisa jadi media pembelajaran untuk aspek-aspek yang bersifat non-musik.

Kegiatan bermusik di Jonim Musik relatif ramai. Saat ini saja, terdapat 70 lebih siswa yang mengikuti kelas musik di sini. Siswa di Jonim Musik kemudian terbagi menjadi beberapa kelas dan. Pembagian kelas ini dihitung berdasarkan usia anak-anaknya. Ada kelas bintang untuk anak usia 6 bulan hingga 2 tahun, kelas bulan untuk anak usia 2-3 tahun, kelas matahari untuk anak usia 4-5 tahun, kelas aurora untuk anak usia 5-6 tahun. Kelas-kelas tersebut terbagi ke dalam lima hari, yaitu Senin hingga Kamis, dan hari Sabtu. Durasi belajar tiap kelasnya adalah satu jam, dengan jumlah murid 4 hingga maksimal 8 orang. Namun, selain itu ada pula kelas privat apabila kamu hendak mengenalkan musik kepada si kecil secara personal.

Tiap kelas atau angkatan disebut oleh Goeti memiliki tantangannya masing-masing. Sebut saja saat mengajar di kelas bintang misalnya tantangan yang dijumpainya adalah membimbing orang tua siswa. Ya, karwna kelas bintang adalah kelas untuk siswa berusia 6 bulan hingga 2 tahun, otomatis diperlukan keterlibatan orang tua yang lebih tinggi ketimbang kelas dengan usia anak lebih dewasa.

“Jadi di kelas bintang itu kita banyak mendampingi orang tuanya justru. Materi pendampingan ini yang kemudian nanti mungkin bisa diterapkan orang tua kepada anaknya di rumah,” terangnya.

Lebih jauh lagi, Goeti menyebut dalam proses belajar, Jonim Musik menerapkan keterlibatan orang tua. Hal ini disebut Goeti agar orang tua bisa melihat sendiri perkembangan kemampuan sang anak selama belajar. Selain itu, dengan melibatkan orang tua dalam proses belajar mengajar, metode pembelajaran pun bisa dilakukan kembali di rumah karena orang tua secara tidak langsung jadi memahami prosesnya. Ia juga menyebut kesadaran orang tua hari ini terkait peran musik sebagai media belajar anak tidak lepas dari perkembangan informasi dan teknologi. Selain itu, kebanyakan orang tua murid di Jonim Musik percaya kalau musik bisa jadi media untuk sang anak bersosialisasi.

“Jarang banget yang goals-nya ‘anak saya harus jago alat musik tertentu,’ misalnya. Namun orang tua justru ingin anaknya bersosialisasi dengan teman sebayanya,” jelas Goeti.

Terhitung mulai tahun keduanya, atau sejak tahun 2014, Jonim Musik rutin menggelar acara konser tahunan. Tiap tahunnya, ada 3 konser yang digelar dengan melibatkan seluruh siswa Jonim Musik. Konser ini menampilkan permainan musik dari lintas angkatan di Jonim yang bermain dalam format ansamble, solo instrumen, dan bernyanyi. Institute Francais Indonesia (IFI) Bandung kabarnya jadi langganan tempat untuk mereka menggelar konser.

Setelah acara konser, biasanya akan dilakukan evaluasi antara pihak sekolah dan guru mengenai perkembangan sang anak. Namun, tentu evaluasi di sini bukan memberi penghakiman terhadap baik buruknya anak, melainkan mencari solusi akan kendala belajar mengajar yang ditemui.

“Anak-anak tuh biasanya semangat banget pas mau konser. Tapi kadang suka lemes kalau di kelas. Nah, hal itu juga kita diskusikan dengan orang tua, kenapa bisa ya anak di kelas kok pendiam, tapi di area konser kok bisa sangat percaya diri,” kata Goeti.

Nah, mengenai konser ataupun pola belajar di Jonim Musik, seluruhnya bisa kamu saksikan di akun Instagram mereka yaitu @jonimmusik. Mereka juga punya kanal YouTube yaitu Jonim Musik. Karya terbaru yang mereka unggah adalah sebuah video musik untuk lagu berjudul ‘Langkah Cuci Tangan’. Lagu gubahan Fiola Rondonuwu yang merupakan pengajar di Jonim Musik ini menjadi media bagi anak untuk belajar cuci tangan. Videonya bisa kamu lihat di akun Instagram mereka.

Bagaimana? Tertarik mendampingi tumbuh kembang si kecil dengan musik? Sebagai informasi, kamu bisa mendaftarkan putra-putrimy dengan mengunjungi website resmi jonimmusik.com atau datang langsung ke alamat sekolahnya. Namun, jangan lupa tetap terapkan protokol kesehatan, ya.

Sebagai penutup, Goeti menyebut inovasi yang sedang dikejar oleh Jonim Musik ke depannya adalah hadirnya kelas musik untuk bayi usia 0 hingga 6 bulan dan kelas bayi untuk Ibu mengandung. Sebab menurutnya, pendekatan musik sudah bisa dilakukan terhadap anak bahkan sejak dalam kandungan. Namun, materi untuk pembelajaran di kelas ini masih dalam tahap penggodokan, sehingga belum diketahui kapan kelas ini akan dibuka.

TemanBaik, musik bukanlah sekadar musik yang tak jarang mendapat stigma ngak-ngik-ngok, atau brang-breng-brong. Lebih jauh dari itu, musik hari ini sudah bisa menjadi salah satu media pendamping tumbuh kembang sang anak. Jadi, tak perlu ragu lagi memperkenalkan musik untuk si kecil, ya!


Foto: Istimewa/Dok. Jonim Musik

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler