'Plantasia', Bukan Sekadar Konser dari Bottlesmoker

Bandung - Grup musik Bottlesmoker baru saja menggelar konser bertajuk 'Plantasia' pada Sabtu (25/7/2020). Lalu, bagaimana sih proses di balik penggarapan konser ini?

Beritabaik.id punya kesempatan untuk berbincang langsung dengan Anggung Suherman. Salah satu punggawa Bottlesmoker yang akrab disapa Angkuy menceritakan perjalanan konser 'Plantasia' ini. Ia menyebut konser ini punya banyak makna. Selain sebagai upaya pelepasan penat akan konten virtual dan gig daring, konser ini juga menjadi gerbang pembuka menuju album baru mereka. Selain itu, konser ini juga diharapkan dapat memberi manfaat bagi pecinta tumbuhan.

Sebanyak 50 tanaman yang sudah terkumpul berdasarkan hasil registrasi yang dibuka oleh Bottlesmoker menjadi penonton untuk konser ini, sekaligus diberi perawatan dengan pendekatan musik ala Bottlesmoker. Selama 90 menit, duet Angkuy dan Nobie saling berkolaborasi menghasilkan nada-nada untuk menghantarkan energi baik bagi tumbuhan.

Lebih jauh lagi, seluruh tumbuhan yang menjadi penonton konser 'Plantasia' merupakan jenis tumbuhan house plants, atau tanaman rumahan. Berdasarkan pantauan Beritabaik.id, konser dimulai pukul 15.30 WIB dan berlangsung secara tertutup. Hanya pemilik tanaman saja yang diberi akses untuk memantau kondisi tanamannya, yang mana tanaman tersebut menjadi penonton dalam konser ini. Akses yang diberikan pun berupa tautan siaran langsung di kanal YouTube Bottlesmoker.


Sepanjang berlangsungnya konser, Bottlesmoker memainkan musik repetitif dengan sentuhan nada klasik. Mereka juga memadukan unsur musik dengan frekuensi yang berkisar di angka 5.000 hingga 5.050hz. Dalam kesempatan wawancara sebelumnya, Angkuy pernah menyebut unsur-unsur musik tersebut merupakan gaya musik yang direkomendasikan untuk diperdengarkan kepada tanaman.

"Memang cukup jadi pekerjaan rumah tentunya buat kita. Karena ada beberapa unsur alat musik yang enggak bisa dimanipulasi pakai plug in (efek suara) di software," terang Angkuy.

Alhasil, Bottlesmoker melakukan teknik sampling atau merekam terlebih dahulu beberapa bunyi instrumen gesek. Hasil rekaman tersebut kemudian diselipkan ke dalam komposisi lagu yang diputar selama konser. Selama 90 menit tersebut, keduanya sibuk dengan materi lagu yang diputarkan dari alat musiknya. Persis seperti pernyataannya beberapa waktu lalu, mereka memainkan musik elektronik dengan warna melodi musik klasik yang di dalamnya terdapat unsur strings, melodi repertitif, dan musik dengan frekuensi berkisar di angka 5.000 hingga 5.050hz.



Baca Ini Juga Yuk: Menggenggam Dunia, Transisi Sajama Cut Menuju Album Baru

Lebih lanjut mengenai pemilihan tanaman sebagai penontonnya, Angkuy menyebut hal ini dilandasi hasil penelitian Bottlesmoker dalam beberapa waktu ke belakang. Dari penelitian tersebut, mereka menemui bagaimana peranan tanaman yang kerap jadi medium konunikasi transental antara manusia dan Tuhannya. Selain itu, mereka juga menemukan adanya perlakuan khusus manusia. Seperti misalnya dalam panen padi di beberapa wilayah. Sadar enggak kamu kalau di beberapa wilayah di Indonesia punya cara atau ritual masing-masing untuk mensyukuri acara panen ini?

"Nah, poin perlakuan khusus terhadap tanaman ini yang kita ambil dan setelah mendapatkan referensi lain, akhirnya tertujulah pemikiran kita kepada konser 'Plantasia' ini," terang Angkuy.

Dalam memutarkan lagu untuk tanaman, sebetulnya tidak ada waktu pasti yang mengharuskan tanaman diputarkan musik. Hanya saja, Angkuy menyebut ada beberapa waktu yang perlu kita garis bawahi. Waktu pertama adalah waktu pagi, yakni sebelum pukul 09.00 WIB. Waktu kedua adalah sore setelah pukul 15.00 WIB.

"Nah jadi, di antara waktu pagi dan sore itu, sekitar jam 10 pagi menuju 3 sore, jangan diperdengarkan musik, ya. Karena di negara dengan iklim tropis, suhu udara di waktu tersebut relatif panas dan bagian tubuh tanaman juga jadi sensitif," bebernya.

Namun, siklus waktu tersebut berlaku di negara dengan iklim tropis. Untuk negara-negara dengan 4 musim, tentu punya pola pendekatan waktu yang berbeda pula. Hanya saja, yang perlu dicatat adalah durasi pemberian musik yang disebut berlangsung selama beberapa jam. Hal itulah yang melandasi konser 'Plantasia' berdurasi satu setengah jam.

Lebih rinci membahas tempat manggungnya, Bottlesmoker memilih untuk manggung di area yang relatif tertutup dengan audiens penonton berupa tanaman yang disetel begitu padat. Hal ini disebut Angkuy berpengaruh juga pada efektivitas penerapan musik sebagai penunjang pertumbuhan tanaman itu. Menurutnya, apabila musik diperdengarkan di ruang yang tertutup, besar kemungkinan hasilnya akan jauh lebih efektif ketimbang memperdengarkan musik kepada tumbuhan di tempat terbuka.

"Gelombang bunyi kan merambah lewat udara. Kalau tempatnya itu relatif tertutup, frekuensi di tempat itu (tertutup) bakal relatif stabil daripada di tempat terbuka," terangnya.

Berkenaan dengan jumlah tanaman yang dibatasi hingga 50 tanaman saja, Angkuy menyebut hal tersebut bukan menjadi patokan yang pasti bahwasannya konser untuk tumbuhan hanya bisa dilakukan untuk 50 tumbuhan saja. Hal itu berkenaan dengan keterbatasan tempat mereka menggelar konser. Malah, ke depannya Angkuy berharap dapat menggelar lagi konser untuk tanaman dengan ketersediaan tempat yang lebih luas dan bisa menampung lebih banyak tanaman.


Album Baru dan Realita Sosial
Konser bertajuk 'Plantasia' ini juga merupakan sinyal dari Bottlesmoker bahwasannya dalam waktu dekat ini mereka akan melepas album dengan tema lagu yang serupa dengan konser ini. Ya, Angkuy secara terang-terangan menyampaikan bahwa Bottlesmoker sedang mempersiapkan album baru bertajuk 'Puraka'. Rencananya, album ini memang bakal dirilis pada Januari 2021 mendatang.

Album 'Puraka' itu sendiri memang bermaterikan pesan-pesan terkait hubungan antara manusia dengan alam semesta. Nah, serangkaian eksplorasi pun sedang digodoknya di album ini, termasuk membuat lagu dengan menyertakan lirik di dalamnya.

Selain itu, pemilihan tanaman sebagai penonton juga diakui Bottlesmoker karena meningkatnya minat pendengar musik dalam memelihara tanaman. Dengan menerapkan aplikasi perawatan tanaman melalui musik, ia percaya ada hal baik yang bisa ditiru dan dilakukan pendengarnya untuk tanaman-tanaman di rumah.

"Makanya, khusus untuk peserta konser (pemilik tanaman), itu kita kasih file audio hasil konsernya, buat diterapin ke tanaman mereka di rumah. Karena perawatan tanaman pakai musik itu enggak bisa sekali dua kali," terang Angkuy.

Sejak ditelurkannya album 'Parakosmos' tahun 2017 silam, Bottlesmoker mengaku kalau karya mereka sekarang jauh berbeda dibanding album-album sebelumnya. Tak hanya dari pendekatan produksi musik yang mengarah pada metode yang lebih analog, namun pesan yang tersirat di balik materi lagunya pun jauh lebih kaya dan seolah berdasarkan riset.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Angkuy hanya tertawa. Ia menyebut perbedaan pola berpikirnya bersama Nobie belakangan ini dikarenakan proses akademik yang mereka jalani.

"Kami ngambil kuliah lagi, Magister Pengkajian Seni di salah satu kampus seni di Bandung. Nah, di sana tuh dapet banyak banget ilmu, referensi, dan banyak hal. Hingga akhirnya pemikiran saya dan Nobie pun bergeser dari yang awalnya bikin karya seenak kita aja, jadi berpikir; kalau mau bikin karya harus jelas latar belakangnya apa, dan harus bermanfaat juga," bebernya.

Setelah memberikan terapi musik untuk tumbuhan melalui konser ‘Plantasia’, Angkuy menyebut resolusinya bersama Bottlesmoker adalah menerapkan hal serupa pada orang-orang dengan gangguan jiwa. Lebih jauh, mereka ingin lagu-lagu mereka diputarkan di Rumah Sakit Jiwa sebagai medium terapi bagi penderita gangguan jiwa.

"Ingin ke arah sana. Tapi risetnya pasti panjang banget, ya. Kami perlu waktu mungkin sampai setahun untuk mengkajinya," pungkas Angkuy.

TemanBaik, adakah di antara kamu yang ikutan konser ‘Plantasia’ kemarin? Nah, bagaimana reaksi musik terhadap tanamanmu?

Foto: Istimewa/Dok. Bottlesmoker

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler