Membedah Proses Kreatif Bottlesmoker dari Masa ke Masa

Bandung - TemanBaik, kenal dengan Bottlesmoker? Ya, duo elektronik asal Bandung ini belakangan sedang membuat eksperimen keren melalui musik. Namun, jauh sebelum eksperimen ini dilakukan, mereka punya perjalanan bermusik yang seru loh.

Beritabaik.id punya kesempatan untuk mengupas perjalanan grup duo elektronik asal Bandung, Bottlesmoker. Anggung Suherman atau akrab disapa Angkuy menyebutkan, Bottlesmoker punya beberapa fase dalam membuat karya musik elektronik. Fase demi fase tersebut disebutnya menyesuaikan dengan keadaan dan referensi bermusiknya bersama Ryan Adzani atau Nobie.

Proses bermusik mereka diawali dari kedekatan dengan perangkat lunak pembuat musik seperti Fruity Loops. Keduanya yang pernah mengenyam pendidikan jurusan Broadcasting saat itu mengaku akrab dengan proses pembuatan musik untuk jingle televisi ataupun radio.

Proses pembuatan jingle yang banyak menggunakan komputer dan perangkat sebagai alat utamanya menjadikan Bottlesmoker aktif mengeksplorasi bunyi-bunyi musik elektronik. Hingga akhirnya pada tahun 2006, mereka memutuskan untuk merekam karya mereka dan mendistribusikannya lewat platform MySpace di internet.

"Jadi sebelum album 'Slow Mo Smile' itu kita sempet punya album dulu tahun 2006. Tapi itu pun hanya rilis dalam format digital dan di internet," terang Angkuy.

Pada fase itu, Angkuy menyebut proses kreatif mereka secara keseluruhan menggunakan komputer. Berbasis kedekatan dengan perangkat lunak seperti Fruity Loops, terciptalah album 'Berfore Circus Over'. Namun, pada awal kemunculannya, ia mengaku sama sekali tak mempublikasi tentang siapa orang di balik Bottlesmoker alias menganonimkan diri saat merilis album perdana tersebut.

Angkuy menyebut, saat itu musik elektronik di Indonesia begitu identik dengan karakter up beat yang mengedepankan gaya atau style drum and bass. Meski begitu, Bottlesmoker justru mengaku mereka bukan tipe musisi elektronik dengan sub-aliran yang demikian.

"Musik elektronik tuh enggak cuma yang identik DJ di kelab malam doang. Padahal isinya luas banget dan minat kita saat itu kan memang ke arah indie pop, ya. Nah, dengan gaya kita saat itu, memang kita agak kesulitan nemu pendengar di Indonesia juga sih," ungkap Angkuy, menjelaskan kenapa mereka merilis album perdananya melalui salah satu label rekaman di Spanyol.

Baca Ini Juga Yuk: Begini Cara Kenalkan Musik Pada Si Kecil


Ia mengenang acara manggung perdananya kali itu dalam acara 'Friday I’m in Loops' di sebuah kolektif seni di Bandung. Baik Angkuy maupun Nobie, keduanya tak menyangka kalau musik yang selama ini diciptakan oleh kamar, rupanya bisa disajikan ke banyak orang.

Perjalanan mereka kemudian berlanjut ke perilisan album 'Slow Mo Smile'. Album yang rilis pada tahun 2008 ini membawa banyak perubahan dalam perjalanan bermusik Angkuy dan Nobie. Setelah diulas oleh salah satu media musik independen dan ulasan tersebut banyak dibaca banyak orang, Angkuy mengaku pada titik tersebut Bottlesmoker mulai diketahui oleh lebih banyak pendengar musik di Indonesia.

Tawaran manggung pun tak dapat dielakkan lagi oleh mereka. Setelah album Slow Mo Smile dirilis, Angkuy dan Nobie terus melakukan pendalaman karakter lagi. Hingga akhirnya mereka menemukan metode circuit bending. Circuit bending itu sendiri adalah penggunaan bagian dari benda elektronik sebagai sumber bunyi utama.

"Nah, itu masuk kayak ke rezim kedua kami lah, setelah dulu masih full komputer, sekarang masuk ke circuit bending. Jadi kami 'merusak' komponen alat elektronik untuk kami masukkan bagian tersebut ke dalam alat kami," jelasnya.

Lebih lengkap, ia menyebut tak terhitung berapa jumlah kibor mainan, bel, radio bekas dan banyak alat elektronik lainnya yang dibeli dari toko barang bekas untuk dirakit menjadi bagian alat musik mereka. Angkuy menyebut, ada kepuasan tersendiri saat menemukan karakter suara dari alat-alat elektronik tersebut.

"Enggak bisa ditemuin di alat lain. Misalnya kayak suara piano mainan atau mungkin suara nintendo, itu kalau kita beli keyboard baru, untuk dapet tone begitu, enggak kekejar," terangnya.

Fase kedua ini berujung pada perilisan album 'Hypnagonic' pada tahun 2013. Pada masa tersebut juga, sejumlah penghargaan telah diraih oleh Bottlesmoker, seperti pada AVIMA (Asia Voice of Independent Music Awards) pada tahun 2010, yang mana mereka menyabet penghargaan untuk kategori 'Best Electro/Dance' dan 'Best Electro/Song' pada acara ini. Pada tahun yang sama, mereka juga menjadi delegasi Indonesia dalam acara Asia Music Festival di Manila, Filipina.

Masa dengar atau untuk album 'Hypnagonic' nampaknya punya usia yang panjang. Selain itu, karakter Bottlesmoker dengan metode circuit bending-nya perlahan mendapat perhatian dari penggemar musik. Di tengah gempuran dubstep pada musik elektronik pada awal 2014, Bottlesmoker tetap konsisten membawakan musik elektronik dengan gaya mereka.

"Tapi pas Skrillex dengan dubstep-nya itu masuk ke Indonesia, secara grafik kita mengalami penurunan loh. Mungkin karena tren yang mudah diterimanya (oleh pendengar) ya gaya musik elektronik yang itu," terang Angkuy.

Dalam masa-masa tersebut, keduanya yang kemudian melanjutkan studi tentang kajian seni ini mengaku dapat banyak wawasan dari proses belajar yang dilakoninya. Berangkat dari proses tersebut, Angkuy mengaku terjadi pergeseran cara berpikir dalam membuat karya. Apabila dulunya mereka berkarya dengan mengedepankan nilai ekspresi, belakangan ia berkarya dengan proses riset atau kajian seni. Karya dengan riset ini tertuang pada album keempat mereka, 'Parakosmos' yang rilis pada 2017 silam.

Melibatkan etnomusikolog asal Amerika, Palmer Keen yang sedang melakukan ekspedisi field recording kesenian daerah di Indonesia menggunakan platform Aural Archipelago, mereka melakukan riset tentang musik tradisi di Indonesia. Proses pengolahan suara dalam album ini pun mengalami perubahan yang kontras. Apabila dulu mereka menggunakan komputer dan alat elektronik bekas sebagai sumber suara, pada album ini, mereka menggunakan metode analog pada perekamannya.

"Kita tinggalin tuh, komputer, mainan, kita full analog dan itu kerasa banget tantangannya," jelas Angkuy.

Ia kemudian menceritakan proses pembuatan salah satu lagu di album 'Parakosmos', yaitu 'Bonet Circle'. Dalam pembuatan lagu ini, Bottlesmoker mengkaji ritual adat Bonet di Sumba secara mendalam. Angkuy menyebut, mereka tak ingin sekadar menempelkan unsur tradisi saja ke dalam musik elektronik yang disajikannya. Lebih dari itu, ia menginginkan vibrasi dari unsur tradisi ini bisa membaur dengan lagunya.

Mereka akhirnya menggabungkan unsur vokalisasi pada ritual Bonet, gerakan berputar membuat lingkaran, dan gerakan tubuh pelaku ritual ini menjadi komposisi. Vokalisasi dijadikan melodi utama, sedangkan gerakan tubuh dijadikan patokan untuk tempo lagunya. Nuansa ritmik pada lagu ini dibangun oleh filosofi Bonet itu sendiri. Dalam istilah lain, mereka mengolah estetika dari nada pada vokalisasi ritual Bonet dan gerakan pada ritual ini menjadi sebuah komposisi musik.

"Setelah itu kita mikir, wah ini ritmiknya gimana, ya? Akhirnya kita riset. Oh ternyata ritual ini dilakukan setahun sekali sebagai wujud rasa syukur setelah panen. Nah, dalam panen itu kan ada rasa bahagia, kita terjemahin ke dalam pola ritmiknya," beber Angkuy.

Secara musikal, Angkuy dan Nobie mengakui jika album 'Parakosmos' merupakan album dengan pencapaian kepuasan terbaik sejauh ini. Namun, di sisi lain, hampir 80 persen pendengar Bottlesmoker menganggap album 'Parakosmos' merupakan album yang mengecewakan. Tak sedikit pula dari mereka yang meninggalkan Bottlesmokers.

"Image sebagai band elektronik dari mainan dan alat elektronik itu udah nempel banget sih. Padahal, dulu kita bikin musik kayak gitu karena enggak ada budget aja untuk beli alat yang proper," ujar Angkuy sembari tertawa.

Kendati ditinggalkan pendengarnya karena musiknya saat ini dianggap berbeda, namun Bottlesmoker percaya konsistensi akan menjadikan mereka punya nilai lebih. Buktinya, 'Parakosmos' sendiri bakal dijadikan trilogi album oleh Bottlesmoker. Ya, sekuel kedua dari trilogi ini akan diberi judul 'Puraka'. Secara terang-terangan pula Angkuy menyebut album ini akan dirilis pada Januari 2021 mendatang.

Album Puraka dari Bottlesmoker merupakan album yang bercerita tentang hubungan manusia dengan alam semesta seperti hewan, bumi, dan tumbuhan. Sebagai pembuka menuju album ini, mereka menggelar konser 'Plantasia' pada 25 Juli 2020 lalu di Lou Belle Space, Bandung. Lebih lanjut lagi, album ini nantinya akan memuat banyak hal baru dari gaya bermusik Bottlesmoker. Salah satu bocoran yang diberikan Angkuy kepada Beritabaik.id adalah hadirnya beberapa lagu dengan unsur lirik dan vokal. Wah, menarik nih!

"Kita bikin lagu enggak ada liriknya itu bukan berarti lirik enggak penting. Tapi mungkin karena kita itu terbiasa bikin musik dengan pendekatan theatre of mind, menghasilkan multi-interpretasi dari suara aja, nah kita mungkin terbiasa di sana. Tapi, di album 'Puraka' ini bakal ada lagu yang punya lirik," katanya.

Sebagai pamungkas, Angkuy menyebut perkembangan musik elektronik di industri musik Tanah Air terus menunjukkan tren positif. Saat ini, banyak sub-aliran musik elektronik yang juga bisa nampil di berbagai acara musik. Keberagaman musisi elektronik ini dianggap peluang bagi generasi muda untuk menunjukkan karya-karya terbaiknya.

"Hanya kalau bisa, yuk bikin musik elektronik ala kita. Enggak usah terlalu meniru gaya barat lah. Sebab musik di kita aja udah beragam. Yuk coba kita ekspolrasi lagi,” pungkasnya.

TemanBaik, kira-kira lagu Bottlesmoker manakah yang jadi favoritmu?

Foto: Istimewa/Dok. Bottlesmoker

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler