Aris Setyawan Ungkap Proses Kreatif Album AATPSC di Buku Keduanya

Yogyakarta - Multi talenta, istilah tersebut rasanya sangat pantas disematkan untuk sosok inspiratif satu ini, Aris Setyawan. Selain dikenal sebagai musikus, Aris juga berprofesi sebagai penulis, jurnalis, peneliti, dan etnomusikolog.

Setelah meluncurkan buku pertama bertajuk 'Pias: Kumpulan Tulisan Seni dan Budaya' tiga tahun silam, belum lama ini, ia telah menelurkan buku keduanya yang berjudul 'Wonderland: Memoar dari Selatan Yogyakarta' di bawah naungan Elevation Books, penerbit buku independen yang merupakan bagian dari label musik independen bernama Elevation Records.

Sebagai informasi, 'Wonderland: Memoar Dari Selatan Yogyakarta' didapuk jadi buku kedua dari seri 'C-45' terbitan Elevation Books. Seri yang diambil dari nama salah satu jenis kaset pita magnetik itu merupakan seri buku terbitan Elevation Books yang fokus membahas sebuah album musik secara komprehensif. Album musik yang diulas di dalam seri kedua 'C-45' ini adalah album self titled milik Auretté and The Polska Seeking Carnival (AATPSC), band di mana Aris pernah berproses bersama di dalamnya sebagai penabuh drum sekaligus penulis lirik.

Album perdana AATPSC berisi 7 trek yang dirilis 7 tahun silam kedalam berbagai format dari mulai CD, kaset, vinyl, dan rilisan digital. Album tersebut juga banyak mendapat ulasan positif dari berbagai media. Karena album ini dirasa layak didokumentasikan, diarsipkan, dan diabadikan dalam sebuah buku, pada akhir bulan Januari kemarin, Elevation Books tiba-tiba menawarkan sebuah tantangan kepada Aris selaku drummer AATPSC untuk menuliskan sebuah memoar tentang album tersebut. Tak butuh waktu lama, pria yang juga co-founder dan editor situs web serunai.co ini pun berani menjawab tantangan dari Elevation Books tersebut.


                                                                                        Foto: dok. Aris Setyawan

Baca Ini Juga Yuk:
Membedah Proses Kreatif Bottlesmoker dari Masa ke Masa

Berbeda dengan terbitan pertama dari seri 'C-45' di mana sang penulis meletakkan dirinya berjarak, sebagai seorang pengulas musik dan album musik yang diulas sehingga menghasilkan buku ulasan musik yang objektif, di buku 'Wonderland: Memoar Dari Selatan Yogyakarta' ini Aris menempatkan dirinya sebagai "orang dalam" dari album yang ia ulas.

Pria kelahiran Karanganyar, Surakarta ini memilih menulis sebuah memoar tentang proses kreatif di balik pembuatan album perdana AATPSC, alih-alih menulis sebuah ulasan kritis yang objektif. Ia menceritakan semuanya secara urut dan detail, mulai dari bagaimana sejarah band asal Jogja ini bisa terbentuk, proses kreatif yang terjadi saat menciptakan album pertama AATPSC, hingga perjalanan naik turun bak rollercoaster yang telah mereka alami sepanjang karier bermusik secara kolektif.

Belum lama ini, BeritaBaik mengobrol santai dengan Aris di sebuah kedai di Yogyakarta. Ia mengungkapkan berapa lama waktu yang ia habiskan untuk menyusun buku ini. "Pertama, aku bikin kerangkanya dulu selama 3 hari. Terus, habis itu lanjut ngembangin kerangkanya sampai jadi buku kira-kira sekitar 4 hari. Aku lagi on fire waktu itu, kalo lagi on fire tidurnya paling cuma 3 jam," ujarnya sambil terkekeh.

Album perdana Auretté and The Polska Seeking Carnival yang diulas di buku ini memang punya segudang keunikan. Soal nama band, Auretté and The Polska Seeking Carnival terdengar sangat kosmopolitan, mengingat band ini berangkat dari Sewon, Bantul. Dhima Christian Datu selaku vokalis AATPSC yang mahir bermain akordeon dan akrab dipanggil dengan Tea malah lebih fasih bernyanyi dalam Bahasa Perancis daripada dalam cengkok Bahasa Inggris. Belum lagi soal komposisi musiknya yang terdengar meriah dan kaya akan detail dari segala macam instrumen yang dimainkan di dalamnya, selaras dengan nama, tema, dan konsep yang diusung oleh AATPSC.

Terlepas dari subjektivitas pihak-pihak yang terlibat di buku ini, 'Wonderland: Memoar Dari Selatan Yogyakarta' merupakan sepenggal catatan kisah yang collectible tentang bagaimana sekelompok mahasiswa kampus seni yang bosan dengan rutinitas perkuliahan dan  mencoba untuk berkesenian hingga akhirnya berhasil menorehkan karya pada sebuah masa.

Selain itu, akan ada sensasi tersendiri ketika buku ini dibaca sambil mendengarkan album pertama AATPSC tersebut, terutama saat TemanBaik memasuki bab yang menjabarkan segala sesuatu di balik setiap treknya. Banyak fakta-fakta menarik yang diungkap, mulai dari makna dari sebuah lagu hingga ke hal-hal tak terduga seperti satu kejadian mistis yang ternyata terekam secara tak sengaja di salah satu lagu.

Buku yang sudah terbit sejak bulan Maret 2020 ini dibanderol seharga Rp 45 ribu. Bagi TemanBaik yang ingin memesan buku ini dapat langsung menghubungi surel info@elevationgroup.co. Selain itu, kalian juga bisa mendapatkan buku ini di @rilisan_fisik (Yogyakarta), @post_santa (Jakarta), @kineruku (Bandung), @solidrock_id (Malang), @kedaibukujenny (Makassar).

Sebelum perbincangan kami berakhir, sosok yang juga kerap berceloteh di arissetyawan.net ini sempat memberi sedikit bocoran kepada BeritaBaik tentang buku yang akan ia terbitkan selanjutnya. “Rencananya, buku ketigaku tentang kumpulan tulisan musik juga bakal segera rilis di tahun ini,” pungkasnya. Nantikan dan pantau terus informasi terbarunya di akun @setyawanaris (Instagram), @arissetyawan (Twitter) ya, TemanBaik.

Foto: Hanni Prameswari/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler