Syarikat Idola Remaja, dari Tongkrongan ke Panggung Besar

Bandung - Berawal dari nongkrong di salah satu ruang kreatif Kota Bandung, sembilan musisi Bandung ini boleh jadi enggak menyangka perjalanan bermusiknya akan seperti ini. Sekarang, mereka menjelma jadi idola, bukan hanya bagi kaum remaja seperti entitas yang diusungnya.

Ya, mengusung musik pop balada, Syarikat Idola Remaja yang digawangi Dimas Dinar Wijaksana (vokal), Jon Kastella (gitar, vokal) Dwi Kartika Yudhaswara (bas), Arum Tresnaningtyas (vokal, ukulele), Sendy Novian (vokalis, gitarlele), Fariz Alwan (bangsing), Yaya Risbaya (perkusi), Ferry Nurhayat (keyboard), dan Zulki (gitar) terbentuk atas prakarsa Iit Sukmiati, alias Boit, yang tak lain merupakan pemilik dari Omuniuum. Saat dijumpai Beritabaik.id, personel SIR menceritakan bagaimana akhirnya 'Konser Sepenggal Rindu dari Efek Rumah Kaca' mempersatukan mereka.

"Jadi waktu itu, kami memang suka nongkrong di Omuniuum. Lalu, tiba-tiba aja ada yang memerlukan band pembuka nih buat Efek Rumah Kaca yang mau bikin konser di Dago Tea House. Belum ada nama saat itu. Namun ketika diharuskan ada nama, akhirnya nama Syarikat Idola Remaja dicetuskan oleh Teh Boit," jelas Dimas, Vokalis sekaligus pemain gitar akustik di grup musik ini.

Namun siapa sangka, penampilan mereka sebagai pembuka konser Efek Rumah Kaca seolah jadi jalan pembuka kebersamaan kesembilan personil dengan latar belakang musisi dari beberapa band tersebut. Uniknya, saat itu tawaran manggung yang mampir kepada SIR hanya sebatas jadi grup band pembuka. Sebut saja pada gelaran konser Sigmun di Bandung, beberapa waktu silam, atau kolaborasi mereka dalam konser Yura Yunita.


Belakangan, tawaran menjadi kolaborator atau pembuka konser band mulai hilang. Namun, bukan berarti SIR jadi kehilangan panggung, akan tetapi mereka seolah naik kelas, dari yang awalnya hanya sebagai band pembuka, kini menjadi penampil utama.

"Mereka (yang konsernya dibuka oleh SIR) itu pada nyesel ngejadiin kita jadi pembuka konser. Katanya penampilan kita terlalu bagus," ujar Dimas, diselang tawa personil lainnya.

Sadar diri telah naik kelas, SIR kemudian mulai berbenah dan tentunya memproduksi karya sendiri. Proses kreatif mereka jadi hal yang menarik, mengingat masing-masing personil relatif punya karakter yang kuat di proyek musiknya masing-masing. Sebut saja Jon Kastella, yang sudah aktif duluan bersolo, atau Arum, yang sudah malang melintang bersama Tetangga Pak Gesang. Saat ditanya mengenai rahasia dalam proses kreatif, mereka menyebut "kebersamaan" jadi kata kunci. Tanpa harus meninggalkan karakter asli mereka di proyek musik masing-masing, tiap personil SIR justru meleburkan warna dan karakter tersebut dalam satu wadah.

Baca Ini Juga Yuk: Kolaborasi Unik Goodnight Electric dan .Feast dalam 'Ngadu'

Dalam proses kreatif, mereka umumnya menggelar workshop atau mengembangkan ide lagu dari salah satu personil untuk kemudian dibalut dengan karakter personil lainnya. Beberapa instrumen tradisional khas musik folk seperti suling diselipkan di antara instrumen populer lainnya. Karena rata-rata dihuni musisi yang juga masih dalam rumpun musik pop folk, ada nuansa balada yang terkandung dalam tiap karya musik yang dibuat mereka.

"Proses kreatif itu macem-macem, dan kita nyaman sama semua prosesnya. Tapi yang jelas, kami selalu mempertahankan orisinalitas musik antara versi rekaman dengan versi live," terang Sendy.

Hampir tak ada setingan atau konsep baku dalam proses mereka membuat lagu. Bahkan saat sebagian pendengarnya menyebut lagu-lagu SIR merupakan karya sinematik yang seolah bisa divisualkan tanpa perlu dibuat video klipnya, dengan santai Dimas menanggapi hal tersebut sebagai sebuah kebetulan. Namun, di sisi lain ia juga menyebut hal itu terwujud karena pesan dalam lagu-lagu mereka, yang kebanyakan bermaksud menjawab fenomena yang sedang terjadi, semisal dalam single 'Mars Pengangguran', yang dirilisnya beberapa bulan ke belakang.

Lebih lanjut lagi, mereka menyebut tiap pendengar bebas punya pandangan terhadap karya yang telah dibuatnya. Namun, mereka mengaku tidak menyangka jika karya tersebut akhirnya mendapat tempat di hati pendengarnya.

"Karena ya, dibuat mengalir aja. Karena kita nyaman sama prosesnya, enggak diniat-niatin banget sih pengen dapet kesan tertentu gitu, enggak," terang Dimas.

Untuk lebih dekat dengan pendengarnya, mereka menggunakan sebaik-baiknya media sosial sebagai media penghubung. Karenanya, saat ini mereka disibukkan dengan proses pembuatan konten seperti podcast (siniar) dan vlog di YouTubenya.

Kembali ke perjalanan mereka. Setelah beberapa kali proses manggung dan menemukan adanya kecocokan secara personal, akhirnya Syarikat Idola Remaja memutuskan untuk serius menjadikan entitasnya ini sebagai wadah bermusik. Tidak hanya menggarap lagu sendiri, ia pun berbenah dari segi manajemen seperti menunjuk seorang manajer, lalu mulai banyak nampil di panggung besar. Salah satu panggung besar yang boleh jadi punya pengaruh besar bagi perjalanan mereka selanjutnya adalah Synchronize Festival 2019.

Selain manggung di beberapa gelaran musik skala besar, mereka melepas beberapa single antara lain 'Secercah', yang direkam live, 'Si Bujang', 'Musafir Anthem' dan 'Mars Pengangguran'. Seluruh karyanya ini begitu akrab di telinga pendengar, bahkan seolah punya tempat di hati pendengarnya.


                                                                    Foto: dok. Syarikat Idola Remaja/Fotografer-Rambu Cikal

Bertemu dan Menjadi Idola
Setelah berproses dengan perjalanan dari tongkrongan sampai ke panggung besar, Syarikat Idola Remaja memperoleh kesempatan yang mungkin tak pernah dibayangkan oleh mereka sebelumnya yaitu berkolaborasi dengan penyanyi legendaris Iwan Fals. Kolaborasi itu dituangkan dalam single 'Bagimu' yang dirilis oleh Iwan Fals. Cikal, yang merupakan putra sekaligus manajer Iwan Fals mendapuk Syarikat Idola Remaja sebagai kolaborator pada single ini.

Hampir tak ada yang bisa menjawab mengapa akhirnya kolaborasi tersebut dapat terwujud. Namun, mereka tidak puas dengan kesimpulan kalau kolaborasi ini terwujud karena sesuatu yang disebut kebetulan. Pasalnya, ada proses dan perjalanan panjang di balik apa yang mereka raih saat ini.

"Kalau dalam kacamata kita sih, boleh jadi kami dan Bang Iwan sedang berada dalam satu frekuensi yang sama, akhirnya kita ketemu dan berkolaborasi," ujar Dimas, dan diaminkan oleh personil lainnya.

Dari sosok Iwan Fals, kesembilan personil SIR mengaku dapat banyak pelajaran. Antara lain mendapat gambaran bagaimana seorang musisi bisa dikategorikan sebagai legenda musik. Walau terhalang pandemi dan harus berproses dari tempat masing-masing, namun mereka tetap merasa senang, karena pada akhirnya dipertemukan dengan sang idola. Beberapa personil SIR seperti Dimas misalnya, mengaku memang punya impian untuk bisa berkolaborasi dengan Iwan Fals saat masih menjalani proses bermusik dengan band lamanya. Namun, impian tersebut baru terwujud saat ini.

Menjelma jadi idola baru pendengar musik tak lantas menjadikan mereka berubah, kesembilan personil SIR menyebut, mereka tetap asyik sekalipun nanti jadi artis yang amat sangat terkenal. Namun, dari segi pekerjaan, mereka mengaku banyak perubahan yang menempa. Salah satu contoh perubahan yang dimaksud meliputi etika dan profesionalisme mereka sebagai musisi.

"Sekarang kan kita udah lebih serius bermusik. Jadi, hal-hal yang menyangkut profesionalitas, kayak misalkan kita mau sound check atau mau manggung dan diwajibkan datang jam sekian, kita datang satu jam sebelum acara," ujar Jon.

Sebagai pamungkas, mereka saat ini sedang dalam proses pembuatan siniar, dan akan masuk tahap karantina album perdana. Mengenai kapan waktu rilisnya, mereka kompak belum mau membocorkan.

Foto: dok. Limunas/Irfan Nasution


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler