Jon Kastella, dari Streetballers hingga Panggung Folk

Bandung - Murah senyum, enerjik, dan dikenal dengan karya yang puitis. Itulah Jon Kastella, musisi asal Jatinangor yang kini malang melintang di kancah musik Kota Bandung.

Saat kami temui di sela-sela acara panggungnya, musisi asal Jatinangor ini menceritakan perjalanan panjangnya menggeluti bidang musik. Ia mengaku secara profesional, karir musiknya dimulai pada dekade 2010-an. Sebelumnya, Jon hanya menggeluti musik sebagai hobi. Sejak tahun 2000-an awal, ia sudah menulis lagu dan manggung.

Jon, yang lahir di Jakarta tahun 1981 pernah tinggal di Indonesia bagian timur, tepatnya di Papua sebelum akhirnya menetap di Jatinangor pada usia 10 tahun. Lingkungan pertemanannya di Jatinangor itulah yang membentuk Jon sebagai musisi.

Tahap awal ia menggeluti musik secara profesional adalah saat ia mendirikan Orkes Tambul Kahairanan (OSK) bersama kedua temannya, ia mulai mendapat bayaran dari musik dari beberapa acara musik di Bandung. OSK itu sendiri lahir dari pertemanan Jon di perpustakaan Batu Api, di Jatinangor. Walau belum punya manajemen musik, ia mengaku bisa mendapat uang dari hasil bermusiknya bersama OSK.

"OSK itu banyak menempa saya. Secara enggak langsung selera musik, vokal, dan banyak panggung yang menempa saya selama di OSK," terang Jon.

Pilihan menggeluti musik secara penuh waktu bukan hal sederhana bila merujuk pada perjalanan Jon. Pasalnya, Jon harus merelakan studinya di jurusan Seni Musik Universitas Pasundan. Sebelumya, nasib studi di IKOPIN Jatinangor, dan jurusan Sastra Inggris UIN Bandung pun "melayang". Uniknya, saat itu selain kegiatan bermusik, distraksi yang menyebabkan dirinya tak melanjutkan pendidikan adalah kegiatannya di bidang olahraga, yaitu bermain basket streetball.

Ia cukup lama menggeluti bidang ini. Bahkan, jurusan seni musik yang dianggapnya ideal dan linier dengan bidang yang ia geluti hari ini justru ditinggalkannya karena terlalu sibuk ikut kejuaraan basket streetball tersebut.

Menjalani kegiatan olahraga dan dibarengi kegiatan musik, pada medio 2008, Jon merasa ada sesuatu yang membuatnya fokus di musik. Masa-masa itu kemudian ditandai berdirinya OSK, grup musik profesional pertamanya.

Baca Ini Juga Yuk: Kolaborasi Unik Goodnight Electric dan .Feast dalam 'Ngadu'

Ditanya mengenai upaya mengasapi dapur pada saat itu, Jon menyebut keadaan yang ia dihadapinya terasa begitu memudahkan dirinya untuk mengambil keputusan yang bisa dibilang ekstrim, menjadi seniman penuh waktu, dan bermain basket streetball. Bahkan, ia mengaku hingga saat ini dirinya belum pernah merasakan kerja kantoran.

"Sebetulnya yang memudahkan saya itu situasi saya. Saya tinggal di rumah bersama keluarga. Untuk tempat bernaung itu saya pikir cukup. Begitupula untuk makanan. Terlebih saya ini lajang, sehingga nafkah yang diperlukan juga enggak sebesar orang yang berkeluarga. Saya tetap dapat uang dari bermain streetball saat itu dan untuk kebutuhan saya pribadi, itu sangat cukup," terang Jon.

Setelah masuk fase bermusik dengan OSK, Jon yang mulai yakin ingin fokus bermusik kemudian mulai mendapat penghasilan sekaligus banyak pembelajaran lewat grup musik pertamanya ini. Sayang, perjalanannya bersama OSK terbilang relatif singkat. Ia melanjutkan perjalanan bermusiknya sendirian sejak masuk medio 2014.

Warna musik folk (balada) yang dibawanya terasa begitu kental. Namanya malang melintang di beberapa gig musik independen di Bandung. Ia juga berkolaborasi dengan banyak musisi di Kota Bandung. Saat Ruang Putih Bandung (salah satu wadah pelaku kreatif atau creative space di Bandung) rutin menggelar acara reguler 'Folk Night' sejak medio 2016, nama Jon selalu jadi langganan penampil, utamanya di sesi jamming session. Tempat itu jadi salah satu lokasi transit Jon, yang harus menempuh perjalanan 30 kilometer dengan sepeda motornya dari Jatinangor ke Bandung untuk menjalankan kegiatan bermusik.

Memasuki pertengahan 2017, Jon mendapat sebuah tawaran proyek musik dari tongkrongannya di Omuniuum, salah satu toko merchandise dan rilisan fisik yang juga jadi salah satu titik temu banyak pegiat musik di Bandung. Proyek musik ini diproyeksikan untuk tampil sebagai pembuka di 'Konser Sepenggal Rindu', Efek Rumah Kaca di Dago Tea House. Ya, nama proyek musiknya ialah Syarikat Idola Remaja. Tak disangka pula, jika pada akhirnya Syarikat Idola Remaja ini yang secara tak langsung mengantarkan Jon Kastella, musisi yang bermusik dari hobi, kini jadi idola baru di skena musik Kota Bandung.

Meski membawa bendera Syarikat Idola Remaja, Jon tetap bermusik dengan membawa benderanya sendiri. Secara resmi, dirinya memang baru punya dua single, yang antara lain berjudul 'Balada Sang Pencari Kayu' yang masuk dalam album kompilasi Ruang Putih. Musisi senior Ari Malibu yang didaulat sebagai produser dalam album kompilasi ini. Sementara itu single kedua Jon adalah 'Cukup Lebih Bagiku'.

Sejatinya, ia hampir saja menelurkan album penuh pada medio 2017. Ia sudah melakukan rekaman dan diproduseri oleh Ari Malibu. Namun sayang, tempat penyimpanan data atau hard disk yang digunakan untuk menyimpan data digital rekaman Jon Kastella mengalami eror, sehingga hampir seluruh materi lagu yang jadi cikal bakal albumnya itu lenyap. Berbagai upaya untuk memperbaiki hard disk itu gagal.

"Hanya satu yang bisa diselamatkan, yaitu lagu 'Balada Sang Pencari Kayu' tadi. Kayaknya memang bakal lain cerita kalau Jon Kastella pernah rilis album berbentuk CD, gitu. Namun, proses ini tetap saya syukuri. Karena kalau saya sampai rilis album, mungkin saya enggak bakal ketemu lingkungan bermusik saya saat ini," bebernya.

Karya-karya yang jadi cikal bakal album Jon Kastella masih bisa dinikmati di kanal YouTube nya. Namun, formatnya masih live version alias rekaman langsung. Belum melalui proses olah suara.

Telat Main Medsos
Ada hal menarik dari Jon Kastella. Ya, dirinya termasuk orang yang terlambat bermain media sosial. Bahkan, memiliki nomor whatsapp saja adalah hal yang tergolong baru baginya. Ia mengaku baru terjun ke dunia maya sekitar tahun 2018. Itu pun karena "dijerumuskan" oleh teman ngebandnya di Syarikat Idola Remaja.

Sebelumnya, ia hanya punya sebuah telepon genggam yang hanya bisa dipakai SMS dan telepon. Jon mengaku dirinya merasa tidak perlu untuk bergabung ke dunia maya, karena takut privasinya "terjual". Ia juga merupakan seniman yang selalu melakukan pendekatan personal ketimbang virtual. Kendati hanya berkomunikasi via SMS dan telepon, siapa sangka kalau dirinya pernah sepanggung dengan Danilla Riyadi, Mondo Gascaro, Jason Ranti, dan masih banyak lagi nama musisi top.

"Saya punya kebiasaan gaul dan nongkrong. Berjejaring secara nyata dan saat saya bikin Instagram pertama kali, saya semalaman enggak tidur karena ngebalesin satu-persatu komentar di unggahan pertama instagram saya. Soalnya itu rame banget, enggak berhenti-berhenti," kenangnya.

Meski begitu, ia belajar banyak dari nilai positif media sosial untuk digunakan sebagai "toko" dengan menu karya-karya di dalamnya. Bahkan, saat ini Jon sedang rajin-rajinnya membuat konten video untuk di kanal YouTube dan Instagram. Berbagai aplikasi penyunting video dari ponsel pintar dipelajarinya. Begitu pula algoritma media sosial dan lain sebagainya.

Banyak yang berubah dari perjalanan seorang Jon Kastella sejak awal menekuni musik, namun yang tetap adalah keramahan dan senyumnya. Ia mengaku akan terus menjadi pribadi yang mengedepankan proses interaksi langsung, kendati sekarang sudah banyak kemudahan bertemu secara virtual.

Hal itu ia buktikan lewat bisnis kuliner kue lontar yang sekarang sedang digelutinya. Lontar merupakan kue pie susu yang populer di Indonesia bagian timur. Menurut Jon, kuliner itu merupakan resep turun temurun di keluarganya. Ya, selain menjualnya secara daring melalui instargam, Jon sendiri mengantar langsung makanannya untuk wilayah Bandung Raya. Proses mengantar makanan ini juga dijadikannya sebagai ajang silaturahmi, karena menurutnya, bertemu secara nyata akan terasa lebih menyenangkan ketimbang bertemu secara virtual.

Sebagai pamungkas, Jon berharap dapat terus bermusik hingga akhir hayatnya. Kegiatan lain di luar musik seperti belakangan ini ia berbisnis kuliner pun diharapkannya tetap dapat berjalan. Namun, utamanya ia ingin terus berkarya tanpa mengenal kata berhenti.

"Jangan. Jangan sampai ada kata berhenti. Karena kalau kita memutuskan berhenti, ya habislah kita," pungkas Jon.

Foto: dok. Limunas/Irfan Nasution

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler