Gebrakan The Storefront, Toko Musik Digital yang Utamakan Musisi

Jakarta - Berangkat dari keresahan terhadap pendapatan hidup khususnya musisi independen, tujuh orang yang merupakan bagian dari Noiswhore, sebuah promotor musik di Jakarta kemudian membentuk toko jual beli musik digital bernama The Storefront. Seperti apa kisahnya?

Beritabaik.id punya kesempatan untuk ngobrol dengan Argia Adhidanendra, salah satu founder The Storefront. Platform ini mulai beroperasi pada 25 September 2020. Hingga saat ini, tercatat 26 rilisan menghiasi katalog mereka, rilisan tersebut berasal dari musisi-musisi independen tanah air. Beberapa nama di antaranya seperti Joe Million, taRRkam, Escape Pod Situation, Blood Pact, Dive Collate, Harlan Boer serta masih banyak lainnya. The Storefront maju sebagai platform atau toko digital yang mengedepankan konsep transparansi dan memberi kendali sepenuhnya pada seniman yang hendak menjual karyanya. 

Menariknya, platform ini tidak direncanakan untuk dibentuk oleh Argia dan kawan-kawannya. Adalah musisi Harlan Boer yang meminta platform digital buatan Argia dan kawan-kawan untuk meriliskan karya terbarunya.

Jauh sebelum membuat The Storefront, Argia dan kawan-kawannya pernah membuat zine. Lingkar pertemanannya itu kemudian mengantarnya sampai membuat kolektif Noisewhore, yang kemudian menjadi salah satu promotor musik di Jakarta yang cukup mencuri perhatian. Setelah namanya malang melintang sejak 2017, Noisewhore yang punya banyak rekanan musisi juga sempat mengaktivasi layanan digital yang meluncurkan podcast (siniar) sebagai kontennya. Peralihan ke konten digital ini tak lain merupakan dampak pandemi virus korona yang membuat seluruh rencana mereka menghelat pertunjukan musik selama 2020 sirna.

"Memang awalnya dari pertemuan dengan teman-teman lama yang kemudian bikin music organizer begitu. Tapi setelah gig terakhir kita di Februari 2020 kan enggak sempat ada gig lagi (akibat pandemi), terus akhirnya kita sempet lari ke podcast. Setelah itu, ya saya pribadi ketemu Harlan, yang minta dirilisin sama kita tuh salah satu karyanya," ungkap Argia.


Meski awalnya disambut agak pesimistis, namun Argia menangkap beberapa fenomena di kalangan musisi. Fenomena utama yang ia garis bawahi adalah nilai pembagian musisi dengan platform digital yang biasa memutarkan karya-karya mereka. Dari kisah Harlan, ia menjumpai fakta bahwasannya pendapatan musisi dari layanan pemutaran digital tersebut tergolong relatif kecil.

Baca Ini Juga Yuk: Obati Rindu, Synchronize Festival 2020 Hadir di Layar Kaca

Hal yang diakuinya cukup meresahkan tersebut kemudian membuatnya mantap untuk membuat platform atau toko musik digital. Selain itu, Argia juga tertarik untuk menyelam lebih dalam mengenai isu kecilnya pendapatan musisi dari layanan pemutar musik digital.

"Panjang lah kalau kita mau ngebahas platform streaming. Tapi intinya saya ngeliat, musisi independen yang belum bisa menembus 500 ribu atau 1 juta stream untuk lagunya, itu susah banget kalau mau ngandelin streaming sebagai sumber pendapatan. Sedangkan panggung sendiri kan saat ini belum semuanya bisa jalan normal," terangnya.

Dengan alasan itu, akhirnya Argia dan rekan-rekannya menciptakan platform ini dengan manifestonya yang dapat kamu akses disini. Ada tiga poin penting dari manifesto The Storefront, yang mengedepankan keberpihakan kepada musisi-musisi independen.

Pertama, pembagian keuntungan dari penjualan rilisan digital musisi tersebut berada di angka 90 persen berbanding 10 persen. Angka 90 persen ini diperuntukkan bagi musisi, dan 10 persen untuk toko digital The Storefront. Jadi, andaikata kamu membeli album band A dengan harga Rp35 ribu, maka sebesar Rp31.500 akan menjadi bagian untuk musisi, dan Rp3.500 untuk toko digitalnya. Jumlah ini diyakini lebih besar ketimbang jumlah pembagian yang didapat musisi dari platform pemutar musik digital.


Kedua, platform ini mengedepankan transparansi dalam pembagian royalti dengan artisnya. Ya, setiap tanggal 25 per bulannya, mereka akan merilis hasil pendapatan artis berdasarkan pembelian rilisan digital di platform tersebut. Pembukuannya dijelaskan secara merinci. Pada bulan September alias di satu bulan pertamanya saja, platform ini berhasil meraup keuntungan Rp3 juta rupiah untuk 26 rilisan yang dijual di dalamnya.

Menariknya, jumlah tersebut dianggap relatif lebih besar ketimbang pendapatan musisi dari platform layanan putar digital lainnya. Dari keuntungan tersebut, The Store Front kebagian hasil kurang lebih sebesar Rp300 ribu.

"Itu masih lebih gede loh ketimbang platform lain. Wah, saya mikirnya ini lumayan juga ya," terang Argia. 

Selanjutnya, manifesto The Storefront juga membuat artis dan juga pembeli rilisan digital punya kendali seutuhnya terhadap karya yang akan dijual belikan tersebut. Ya, dari sisi artisnya, tiap artis yang menjual karya dibebaskan untuk menentukan harga untuk karya yang akan dijual. Sedangkan dari segi pendengarnya, mereka dibebaskan untuk mendapatkan file asli dari lagu yang mereka beri.

Hal yang menarik disoroti ialah tersedianya kualitas suara tertinggi atau berformat file WAV, yang mana fitur ini mungkin enggak bakal kamu dapatkan di layanan pemutar musik digital populer lainnya. Pada dasarnya, The Storefront menerapkan format standar mp3 dengan kualitas 320kbp/s untuk rilisan digital yang dijual ke pembelinya. Namun, apabila kamu merasa format suara tersebut kurang maksimal, kamu bisa mengajukan ulang permintaan hasil pembelian rilisan digitalmu dalam format yang besar.

"Walaupun sebenarnya kekurangannya kan file gede itu bisa ngabisin memori ya, karena ukurannya juga besar. Tapi ada aja yang memang kepingin dapet file kualitas maksimal, dan itu kita fasilitasi," terang Argia.


Mengenai metode pembelian yang mengenakan sistem unduh, Argia menyebut ada potensi kendala yang bisa menerpa musisi, yaitu risiko bakal tersebarnya karya mereka disebabkan si pembeli mengunggah file audio yang sudah dibelinya ke dunia maya. Hal ini juga diakunya tidak bisa dicegah oleh pihak The Storefront. Hanya saja mereka mengimbau kepada para pembelinya agar tidak sembarangan menyebarluaskan hasil karya yang sudah dibeli dari tokonya.

"Enggak bisa. Produk yang sudah kamu beli tuh jadi hak kamu. Dan itu jadi urusan kamu (mau menyebarluaskan karya orang lain atau tidak)," imbuh Argia.

Kualitas Audio dan Sarana Pelarian
Untuk kamu yang belum tahu, lagu-lagu yang bisa kamu akses di berbagai layanan pemutar musik digital sebelumnya mengalami proses konversi data yang cukup jomplang dari file aslinya. Biasanya, file asli suara dengan kualitas terbaik itu berformat WAV. Dengan kualitas suara ini, dan didukung perangkat dengar yang mumpuni tentunya, kamu bisa merasakan detail-detail isian musik dari sebuah komposisi secara utuh.

Contoh kasusnya adalah saat kamu mendengarkan musik multi instrumen, yang di dalamnya terdapat katakanlah unsur orkestra yang melibatkan puluhan alat musik gesek. Nah, kalau data suara yang kamu dengarkan berkualitas rendah, pembagian suara yang kamu dengarkan tidak akan begitu nampak. Berbeda dengan saat kamu mendengar format suara kualitas terbaik, analoginya kamu seperti menonton tayangan dengan resolusi gambar yang tinggi. Detail-detail suara itu bakal nyata sehingga eksperimen dan pengalaman mendengarkan musikmu akan lebih seru. Hal itu yang coba ditawarkan The Storefront melalui layanan permintaan file WAV-nya.

Di sisi lain, hal unik dari toko digital ini, mereka juga menghadirkan rubrik tulisan di situs resminya. Ya, karena berangkat dari kesukaan Argia membuat zine, ia merasa keinginan ini bisa terealisasi dengan menambah rubrik artikel di situs resmi The Storefront. Di sana, ia menulis tentang ulasan, hingga wawancara, utamanya dengan artis yang nampang di toko digital tersebut.

"Kayaknya kalau untuk bikin zine saat ini udah susah. Orang larinya pada ke media sosial, kayak 'social media priority' lagi. Kalau dibilang rubrik tulisan ini pelarian saya, ya saya setuju sih. Karena memang pada dasarnya saya gemar menulis," ujarnya sembari tertawa.

Proses Kurasi
Karena merupakan platform independen, tentu artis yang ada di dalam The Storefront tidak sebanyak artis-artis yang ada di berbagai layanan pemutar musik digital lainnya. Mereka juga menerapkan sistem kurasi. Ditanya mengenai langkah-langkah yang harus ditempuh band untuk bisa menjajakkan produk digitalnya di lapak mereka, Argia menjawab tiap band bisa mengirimkan materi lagu mereka melalui email The Store Front, yang detailnya bisa kamu lihat di akun Instagram resmi mereka @thestorefrontclub. Setelah mengirim materi via email, nantinya jika kamu lolos kurasi, maka tim The Storefront bakal menghubungi kamu untuk keperluan pendistribusian lainnya.

Proses kurasi ini awalnya banyak diikuti oleh band-band asal Jakarta. Hal ini dianggap Argia sebagai pekerjaan rumah. Ia sebetulnya berharap platform independennya ini tidak dianggap "Jakarta-Sentris" alias hanya dihuni oleh artis-artis asal Jakarta saja.

"Di kota-kota kecil lainnya, potensi musik tuh banyak banget. Dan saya berharap mereka, musisi-musisi dari kota-kota kecil itu juga bisa ikutan submission ini," katanya.

Proses kurasi berlangsung sejak awal bulan. Pada tanggal 25 tiap bulannya, berbarengan dengan perilisan hasil jual beli, The Storefront juga bakal mengumumkan artis mana saja yang lolos kurasi untuk kemudian karyanya dipajang di toko digital mereka.

Ke depannya, mereka sedang menyiapkan etalase baru untuk produk-produk rilisan fisik dari mulai CD, Kaset, Vinyl, hingga merchandise band independen. Dengan konsep ini, platform independen yang digagas Argia bisa jadi salah satu alternatif dan juga barometer baru bagi pecinta musik di Indonesia.

Adapun etalase itu sedang digarapnya, dan diharapkan pada bulan November 2020 mendatang, varian katalog di The Storefront bisa memfasilitasi kamu yang merupakan penggila rilisan fisik dan merchandise.

Dengan hadirnya fasilitas alternatif seperti The Storefront, ini tentu jadi angin segar bagi para musisi. Ya, potensi mendapat penghasilan dari karya yang dijual secara digital sekarang sudah bukan hisapan jempol belaka.

"Saya seneng banget kalau pola bisnis ini ada yang niru. Asal tujuannya untuk memakmurkan musisi independen, ya," pungkas Argia.

Foto: dok. the-storefront.club


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler