'Aparat', Kritik Tashoora pada Kasus Salah Tangkap di Indonesia

Jakarta - Tashoora baru saja merilis lagu teranyar mereka yang berjudul 'Aparat'. Lagu dari band yang beranggotakan Danang Joedodarmo, Dita Permatas, Gusti Arirang ini merupakan hasil kerja sama dengan LBH Jakarta, yang mana keduanya berkolaborasi dalam proses riset penulisan karya. 

Lewat lagu ini, Tashoora mencoba untuk lantang berbicara agar aparat penegak hukum melakukan pembenahan diri dan menjalankan penegakan hukum yang berdasar pada integritas dan kemampuan intelektual.

Sementara itu, Staf Kampanye Strategis LBH Jakarta, Asta memgatakan jika kita semua harus menjaga memori akan kasus salah tangkap yang marak terjadi di Indonesia. 

"Kita harus menjaga mata dan memori kolektif agar aparat melakukan penegakan sesuai dengan hukum yang berlaku dan tidak lagi melakukan penangkapan sewenang-wenang," jelasnya. 

Baca Ini Juga Yuk: Mengenal Kualitas Audio pada Layanan Pemutar Musik Digital

Pada proses penggarapan lagu 'Aparat', kali ini Tashoora menggandeng Dias Widjajanto sebagai produser. Lagu Aparat direkam sepenuhnya di Kios Ojo Keos Jakarta. Lalu, untuk proses mixingnya dikerjakan oleh Danang di tempat yang sama, sedangkan mastering dipercayakan kepada Anton Gendel di Sangkar Emas Mixing and Mastering Yogyakarta. Sedangkan pada bagian artwork, dikerjakan langsung oleh Gusti Arirang. 

Selain merilisnya dalam versi audio, Tashoora juga menghadirkan visualisasi lagu 'Aparat' dalam bentuk video musik. 

"Semuanya dikerjakan secara mandiri oleh kita semua di kawasan Lebak Bulus," kata Danang. 

Sementara itu, Gusti menambahkan jika proses pembuatan video dan artwork dilakukan dengan sangat responsif. 

"Prosesnya hanya direncanakan, dibuat dan disunting dalam waktu kurang dari 2 jam," beber Gusti. 

"Seharusnya, kita juga bisa lebih responsif kalau menghadapi represi dan penangkapan yang sewenang-wenang oleh aparat," sambung Dita. 

Berdasarkan penelitian bertajuk 'Kepolisian dalam Bayang-bayang Penyiksaan' yang dilakukan oleh LBH Jakarta, fenomena salah tangkap atau rekayasa kasus saat ini masih menjadi "gunung es" dalam situasi penegakan hukum di Indonesia.  LBH Jakarta mencatat terdapat 37 kasus terkait praktik penyiksaan yang dilakukan aparat penegak hukum yang ditangani LBH Jakarta dalam kurun waktu 2013-2016. 70 persen penyiksaan dialami oleh korban dengan kelas ekonomi rendah. 

Pada penelitian sebelumnya, tepatnya pada tahyn 2008-2009 yang berjudul 'Mengungkap Kejahatan dengan Kejahatan', LBH Jakarta mengungkap 70-80% tahanan mengalami berbagai bentuk penyiksaan. 

KontraS juga mencatat, selama periode 2019-2020 telah terjadi 62 kasus penyiksaan dan mayoritas penyiksaan tersebut terjadi pada korban salah tangkap (47 kasus). 

Lalu, pada tahun 2019-2020 juga, kita menyaksikan ribuan massa aksi ditangkap oleh aparat di berbagai kota. Suara-suara protes berakhir di kalkulasi kerugian, kita dipaksa santun di tengah penindasan.

Foto: Dok. Tashoora
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler