Sekelumit Kisah Usia 20-an dalam Album Baru Lomba Sihir

Jakarta - Akhirnya, album perdana Lomba Sihir rilis pada hari ini, Jum’at (26/3/2020). Bertajuk 'Selamat Datang di Ujung Dunia', album berisi 12 lagu ini rilis di bawah naungan Sun Eater.

Secara keseluruhan, ke-12 lagu dalam album ini menyajikan tema yang variatif. Dalam keterangan resminya, Lomba Sihir menyebut kalau album ini berkisah tentang suka duka kehidupan di ibu kota, yang mereka sebut sebagai ujung dunia karena terasa dekat sekaligus jauh dari berbagai hal baik di dunia.

"Album ini adalah bagaimana kami, enam anak muda yang tumbuh besar di Jakarta, mencurahkan pahit manis yang kami rasakan di sini," ujar Natasha Udu yang bernyanyi solo dan menulis lirik di lagu ‘Apa Ada Asmara. Lagu ini menceritakan upaya dalam pencarian cinta.

Selain 'Apa Ada Asmara', masih ada beberapa lagu dengan tema beragam. Antara lain tentang tekanan untuk segera menikah pada lagu 'Semua Orang Pernah Sakit Hati'. Lagu tentang frustrasi mengejar karier dalam 'Polusi Cahaya', tentang amarah terhadap pemerintah 'Nirrrlaba'.

Belum habis, masih ada lagu tentang berbohong demi mencari aman yang tertuang dalam 'Jalan Tikus' serta pedoman untuk bertahan di Jakarta yang mereka tuangkan dalam lagu 'Hati dan Paru-Paru'. Tema-tema lain yang dipilih Lomba Sihir bisa dibilang cukup familiar, terutama bagi pendengar yang menginjak usia pertengahan 20-an tahun, seperti halnya para anggota Lomba Sihir.


Baca Ini Juga Yuk: 'Belum Padam', Lanjutan Perjalanan The Brandals Menuju Album Baru

Proses kreatif pembuatan album ini berlangsung di studio Soundpole, ditambah sesi rekaman drum di SoundVerve Studio bersama engineer Rama Harto Wiguna. Prosesnya berjalan relatif cepat, yakni dari Januari hingga Februari 2021. 

Selain keenam anggota Lomba Sihir, album 'Selamat Datang di Ujung Dunia' juga melibatkan Mohammed Kamga sebagai pengarah vokal dan pengisi vokal latar. Kamga mengambil peran tersebut dalam lagu 'Selamat Datang' dan 'Tidak Ada Salju di Sini, Pt. 6 (Selamat Jalan)'.

Lagi-lagi sebagai pengingat, Lomba Sihir itu sendiri terdiri dari musisi-musisi yang mengiringi Hindia sejak pertunjukan pertamanya di We The Fest 2019 dan terlibat di pembuatan album Menari dengan Bayangan. Kini, Lomba Sihir adalah band yang semua anggotanya berkontribusi secara merata dalam berkarya.

"Perjalanan bersama Lomba Sihir semakin hari semakin melebur. Meski setiap anggota memiliki bandnya masing-masing, entah bagaimana Lomba Sihir selalu berhasil mengeluarkan sisi lain yang super fun," kata Tristan yang juga mendapat kesempatan bernyanyi bersama Tama di lagu 'Cameo'.


Terkait album ini, penulis mayoritas materi lagu yakni Baskara Putra menyebut kalau album ini semacam foto keluarga besar. Dalam foto itu, mereka ramai-ramai dengan latar belakang Jakarta untuk dikenang oleh mereka berenam dan tim selama-lamanya.

"Semoga dalam bingkai foto itu, di saat orang lain melihat, mereka juga bisa mengenang sesuatu," tutupnya.

TemanBaik, saat ini album 'Selamat Datang di Ujung Dunia' sudah busa kamu dengarkan di berbagai layanan pemutar musik digital. Selamat mendengarkan dan selamat menyambut akhir pekan!

Foto: Dok. Lomba Sihir

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler