Zamzam Mubarok, Kreator di Balik Gemerlap Tata Lampu Panggung

Bandung - Tumbuh dari ujung paling timur Bandung, tepatnya Cicalengka, menggeluti bidang artistik di seni teater, jatuh hati pada gemerlap lampu panggung, hingga akhirnya menjadi salah satu kreator di balik gemerlapnya tata lampu panggung di pertunjukan besar. Proses demi proses, peran demi peran dijalaninya dengan sepenuh hati.

Ciri khasnya adalah selipan tawa yang terbahak-bahak dan senyum ramah. Nyaris di ujung kalimat, ia seolah punya punchline dalam topik bahasan yang dibarengi dengan gelak tawanya sendiri.

Berangkat dari kegiatannya bersama unit Teater Tambang, sebuah ekstrakulikuler di SMA Bina Muda Cicalengka, Zamzam kemudian melakukan eksplorasi dan menempuh perjalanan panjang hingga akhirnya saat ini ia menjadi desainer tata lampu yang namanya menuju kondang. Ya, ia kini aktif menjadi penata lampu di Gedung Kesenian Sunan Ambu Institut Seni Budaya Indonesia, Bandung dan Penanggung Jawab Lighting di gedung pertunjukan De Majestic, Bandung.

Selain itu, ia juga aktif menjadi desainer tata lampu untuk pertunjukan teater, musik, hingga pertunjukam fesyen. Ia juga tercatat aktif membantu bagian tata lampu untuk pertunjukan musik Under The Big Bright Yellow Sun, Bandaneira, Bottlesmoker, Parahyena, Jeruji, The Milo, Homogenic, Revenge The Faith, Rocket Rockers, dan masih banyak lagi.


Ya, meski namanya sudah beken sebagai desainer tata lampu dari Bandung, namun Zamzam Mubarok alias Zems masih saja tersipu malu saat kami hendak mengajaknya ngobrol. Saat kami sudah kepepet deadline, berani-beraninya ia menolak wawancara dan merekomendasikan temannya yang menurutnya lebih layak.

"Kenapa sih kalian memilih saya?" katanya, di awal sesi wawanacara yang berlangsung di tempatnya bekerja, di Gedung Kesenian Sunan Ambu, Institut Seni Budaya Indonesia Bandung, Kamis (1/4/2021).

Namun, mau bagaimana lagi? #BertemuTemanBaik kan memang coba menghadirkan deretan TemanBaik yang sudah kami kurasi untuk bercerita tentang apa yang boleh jadi belum ia ceritakan. Setelah kami jelaskan maksud dan tujuan kami ingin ngobrol dengannya, dan bahwasannya sesi #BertemuTemanBaik berfokus pada nilai positif dan kebaikan dari profesi seseorang di luar tampilan dan rupa visualnya, akhirnya jebolan Seni Teater Institut Seni Budaya Indonesia ini bersedia melanjutkan obrolan dengan kami.

Ah, Kang Zems mah suka merendah gitu…
"Ha ha ha, naha sih kudu urang? (Kenapa sih harus saya?) sebetulnya banyak banget temen-temen di lighting yang lebih jago dari saya. Mau saya panggilin ya? Gampang deh!”

Tapi kita penginnya sama Kang Zems. Soalnya akang keren. Buktinya bisa jadi lighting man kebanggaan Under The Big Bright Yellow Sun, bisa jadi lighting man di Limunas. Kita kepengin tahu proses kreatif Kang Zems di balik itu…
"Enggak tau ya. Saya mah tipe orang yang kalau disuruh ngomong itu suka malu, ngerasa enggak pantes atau belum pantes lah. Masih harus banyak belajar. Tapi pas dikasih alat, nah, saya baru ngerti apa aja yang harus saya kerjain.”

Ya udah, makanya wawancaranya pelan-pelan. Ngobrol aja oke?
"Ha ha ha ha, jangan dulu direkam…”

Iya ini belum direkam. Makanya dimulai dong ceritanya…
"Jadi memang saya tuh asli kan dari Cicalengka, aktif di komunitas teater juga di sana. Lalu…”


TemanBaik, kami terpaksa 'berbohong' kepada Zamzam. Saat ia meminta wawancara ini jangan dulu direkam, kami tetap merekamnya tanpa sepengetahuan beliau. Kami biarkan ia bercerita fase awal ketertarikannya dengan dunia teater. Saat masa remaja hingga muda, ia memang aktif bersama komunitas teater di Cicalengka. Saking tertariknya dengan seni pertunjukan, ia dan teman-temannya sampai harus pergi ke Bandung untuk nonton pertunjukan, utamanya teater. Dengan modal uang Rp2 ribu, ia naik kereta Bandung Lokal untuk menonton pertunjukan. Proses tersebut dijalaninya dengan penuh rasa cinta dan sepenuh hati.

Satu masa, ketika lulus SMA, Zamzam mendapat 'modal' sebesar Rp3 Juta untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S1. Awalnya, ia berencana mengambil kuliah jurusan fotografi di Universitas Pasundan. Namun, apa daya, budget Rp3 juta tersebut enggak cukup mengantarnya jadi mahasiswa fotografi.

Ia sempat putus asa. Hingga akhirnya pada suatu hari, ia dan beberapa temannya hendak mencari alamat di Jalan Gajah. Kebiasaan Zamzam sebagai mantan anak pesantren atau anak "pondokan" membuatnya lebih gemar jalan kaki apabila membawa uang pas-pasan. Ketimbang uang tersebut ia gunakan untuk ongkos, lebih baik ia menggunakannya untuk membeli makanan atau jajanan.

"Waktu itu lagi naik angkot sampai Carefour (Jl. Soekarno Hatta, red), terus nyari Jalan Gajah. Pas nanya sama orang, katanya tinggal satu lampu merah lagi setelah jalan kaki ke arah barat (dari lampu merah di perempatan Jalan Soekarno Hatta dan Ibrahim Adjie menuju lampu merah perempatan Jalan Soekarno Hatta dan Buahbatu) terus belok kanan. Saya pikir ah deket lah! Eh, enggak taunya pas dijalanin, baru sampai lampu merah Buahbatu, busyet! Capek juga ya," ujarnya sembari tertawa terbahak-bahak.


Bukan salah si penunjuk jalan, karena memang benar: untuk tiba di Jalan Gajah dari perempatan Jalan Soekarno Hatta – Ibrahim Adjie, kita bisa menggunakan rute lurus ke arah barat menuju lampu merah perempatan Jalan Soekarno Hatta – Buahbatu, lalu belok ke kanan, dan hanya tinggal lurus saja ikuti jalan besar. Setelah tiba di Jalan Terusan Buahbatu, maka Jalan Gajah yang dituju sudah dekat. Namun, bukan berarti jarak sejauh itu bisa ditempuh cepat dengan berjalan kaki.

Kembali ke cerita Zamzam. Di tengah perjalanannya menuju Jalan Gajah tadi, ia kemudian melihat ada parade seni yang keren di Jalan Buahbatu. Ya, saat itu, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI, kini menjadi Institut Seni Budaya Indonesia Bandung) sedang menggelar acara Pekanseni 2005. Acara itu menampilkan parade seni dari jurusan-jurusan atau program seni yang ada di kampus tersebut.

Kebetulan, Zamzam bertemu dengan seniornya di sana. Ia langsung bertanya mengenai parade ini. Setelah ngobrol panjang lebar, akhirnya ia menjatuhkan pilihan untuk berkuliah di kampus tersebut, yakni ISBI Bandung. Ia memilih jurusan Seni Tari, sebelum meralatnya jadi jurusan Seni Teater. Entah, apakah perjalanannya ke Jalan Gajah tadi diteruskan atau tidak? Kami tidak tahu, karena ia bercerita secara acak.

Saat itu, ia merogoh kocek sekira Rp1,2 juta untuk memulai kuliah. Sisa uang sebesar Rp1,5 kemudian ia belikan skuter Vespa. Boleh jadi, ini senafas dengan kisah nostalgia TemanBaik di masa remaja. Betul tidak?

Mantap sekali, Kang Zems. Ceritera-nya mantap!
"Naon anu menarikna sih!? (Emang apa yang menarik sih!?) Ha ha ha.. Asli saya malu.”

Enggak. Terus gimana tuh proses belajar selama di Jurusan Teater?
"Intinya sih. Semua peran, seminim apapun panggung buat saya kala itu, saya coba maksimalkan dengan baik.”

Misalnya?
"Terlibat di pertunjukan aja. Saya memulainya dari menjadi kru. Misalnya, dulu saya pernah kebagian peran untuk menurunkan lilin di beberapa adegan pertunjukan. Itu pertunjukan dua jam lamanya, saya perannya minim, tapi saya enggak bisa gerak, enggak bisa ngopi atau udud (merokok), dan ya stuck aja. Karena kalau gerak sedikit, itu bakal bikin ada suara yang merusak si pertunjukan itu. Ini baru salah satu dari sekian banyak cerita perjalanan saya.”

Tapi sukses dilewati ya?
"Sukses. Ya gitu. Saat pertunjukan beres. Semua orang tepuk tangan. Hore. Hore. Hore. Saya sih mengumpat: hura hore hura hore. Gua pegel nih. Ha ha ha ha.”

Apa yang Mang Zems dapat dari Jurusan Teater?
"Sebelum ketemu mata kuliah tata cahaya, saya juga ketemu mata kuliah kayak dramaturgi, filsafat, manajemen seni. Semua itu membantu dan banyak disiplin ilmu yang akhirnya terpakai untuk profesi saya saat ini. Waktu itu banyak teman-teman saya yang baru dua bulan kuliah, enggak tahan, dan akhirnya keluar. Nah, cara saya bertahan dengan pengetahuan seni yang minim itu dengan cara jadi kru, dan aktif aja kalau dapet tawaran. Kebetulan kakak-kakak senior saya suka ngajakin jadi kru buat pentas mereka. Saya belajar jadi kru dari mulai ngangkut-ngangkut lampu, pasang filter, memfokuskan lampu, dan masih banyak lagi. Proses itu juga sedikit banyaknya membentuk saya.”


Apakah saat itu sudah tertarik dengan tata lampu?
"Kayaknya udah deh. Jadi, memang saya tuh tertarik dengan tata lampu karena saya enggak tau. Maksudnya, itu terjadi secara alami saat saya datang ke sebuah pertunjukan teater. Di sana, saya ngeliat ada lampu (lighting) panggung, dan saya malah terkesima sama lampu itu ketimbang aktornya.”

Jadi kayak langsung punya dunia sendiri saat melihat lampu itu?
"Iya. Asli. Bengong aja. Itu aktornya kalau tau saya ngeliatin lampu mungkin sudah gedek: yah, gua kira lu terkesima sama gua. Ha ha ha.”

Memang di ISBI pergaulannya gimana waktu itu?
"Saya tuh di ISBI memang suka gabung sama senior yang suka jadi lighting man. Dan saya aktif aja, jadi aktor, jadi pemanis di UKM, semua kesempatan saya hajar lah.”

Spesifik kenal lampu pas kapan?
"Ya pas waktu itu. Kenal dengan beberapa teman-teman yang suka jadi lighting man. Dan dulu tuh saya kebayangnya kerjaan lighting man itu hanya mengoperasikan aja. Padahal itu luas banget loh.”

Baca Ini Juga Yuk: Percakapan Batin Yura Yunita di Lagu 'Tenang'


Nyatanya, dalam divisi tata lampu untuk kebutuhan panggung, terdapat beberapa pos. Dari mulai kru, operator, hingga desainer lampu. Enggak semudah yang kita bayangkan loh. Selain pos-pos tersebut, divisi tata lampu ini juga punya sejarah dan perkembangan teknologi. Mirip-mirip dengan piranti pertunjukan yang populer.

Perkembangan teknologi itu diikuti oleh Zamzam, lagi-lagi dengan sepenuh hati. Padahal, ia kerap merasa minder saat harus bekerja dengan spesifikasi alat yang menurutnya canggih.

"Saya beberapa kali bilang, 'urang balik wae nya? (saya pulang aja ya?) saat ketemu teknologi yang canggih banget. Tapi saya dipercaya, enggak boleh pulang,” kenangnya.

Suka duka itu ia jalani. Sampai saat ini, Zamzam menjadi desainer tata lampu secara independen. Ia tidak punya vendor tata lampu sendiri. Saat ini, Zamzam bekerja di Institut Seni Budaya Indonesia dan De Majestic. Di De Majestic, ia bekerja sebagai penanggung jawab bagian lighting.

Saat proses belajar dulu, ia punya beberapa tokoh yang mengajarinya di bidang artistik, khususnya tata lampu. Beberapa guru yang ia sebutkan antara lain berasal dari para pengajar dan dosen-dosen khususnya dosen jurusan Seni Teater selama ia berkuliah di ISBI Bandung, antara lain Joko Kurnaen dan Yayat HK. Ia sering kebagian kesempatan menjadi lighting man di bawah arahan dosen-dosennya itu.

Ia beberapa kali mengenang momen di mana ia merasa begitu kampungan. Salah satunya ketika ia menemui teknologi setelan lampu yang bisa diotak-atik di ponsel pintar.

"Waktu itu dapet proyek dari IFI, lewat Sunan Ambu. Nah, di sana saya kaget ngeliat lighting nyala sendiri. Eh, ternyata program tata lampunya bisa diatur lewat hape. Itu saya kaget, kok bisa nyala sendiri? Sialan banget, enggak taunya dari hape," bebernya sembari terpingkal.

Kalau sama band itu gimana sih? Maksudnya, pertama kali terjun jadi penata lampu di pertunjukan musik?
"Saya sebetulnya aktif di pertunjukan musik Karawitan. Sampai hari ini, saya kerja di ISBI, saya masih aktif menjadi lighting man untuk pertunjukan musik Karawitan. Sampai akhirnya pada suatu hari, di tahun 2012, Eza, gitarisnya Under The Big Bright Yellow Sun meminta bantuan saya untuk menjadi lighting man. Judul karyanya 'Distorsik', dan memang memainkan bebunyian aja. Pengalaman di IFI tadi (yang mainin lampu pakai handphone) itu saya coba terapkan di pertunjukannya Eza. Akhirnya, saya jadi tokoh juga di sajian karya mereka. Gara-gara itu, saya jadi ikutan latihan eksplorasi. Tapi karena enggak kebeli alat-alatnya, akhirnya eksploratif lah. Jadi bareng Eza tuh saya juga jadi lighting man yang juga ngasih bebunyian dari lampu (ground). Dari situ deh, saya diajakin jadi lighting man si UTTBYS.”

Sebelumnya udah kenal sama UTBBYS?
"Mereka pernah manggung beberapa kali di sini. Mereka udah main delapan lagu, saya tidur. Ha ha ha, ieu mana vokalisna? Naha teu maen maen? (Ini mana vokalisnya? Kok enggak mulai mulai?) jadi ya intinya saya enggak tau musik post rock itu kayak gimana. Saya pikir ini belum mulai.”

Dari situ, langsung ikut UTTBYS?
"Iya. Diajakin, diberi kesempatan sama Eza, Kang Indra dan Kang Uzi.”

Kalau kita mampir ke sebuah acara pertunjukan, boleh jadi kita menganggap tata lampu dalam sebuah pertunjukan itu keren, ya hanya sebatas keren. Namun nyatanya, di balik gemerlap tata lampu yang indah, ada eksplorasi mati-matian yang dilakukan oleh desainer tata lampu seperti Zamzam.

Untuk mendapatkan setelan tata lampu saat bertugas, Zamzam kerap melakukan observasi terkait karya yang akan ditampilkan. Biasanya ia terlebih dulu bakal meminta sinopsis karya kepada penyaji. Zamzam juga kerap hadir saat penyaji sedang berlatih. Misalnya, saat Under The Big Bright Yellow Sun akan manggung, dan Zamzam akan bertugas menjadi desainer tata lampu, ia sekaligus mempelajari lagu-lagu dari band post rock ini.

Hal serupa juga dilakukannya saat ia menjadi desainer tata lampu untuk penyaji karya manapun. Karena berangkat dari artistik di Seni Teater, ia terdidik dan terbiasa untuk mengetahui konten apa yang akan ia beri sentuhan tata lampu. Latar belakang pendidikannya sebagai orang teater terus dipertahankannya menjadi sentuhan humanis.

"Jadi enggak asal nyalain lampu, gitulah," terangnya.


Bedanya jadi desainer tata lampu di pentas musik dan teater tuh apa sih?
"Kalau menata lampu di musik, itu kita full pakai skill. Kecepatan aja yang dimainin. Kalau di teater tuh lebih pakai feel.

Di teater itu biasanya pakai lampu-lampu dasar, tapi di pertunjukan musik itu banyak pakai lampu moving, yang mana perlu skill dan kecepatan.”

Secara spesifik, bedanya gimana?
"Distribusi cahaya untuk keperluan pertunjukan musik itu dinamis Di teater itu, kedinamisannya (si cahaya ini) bisa meruang, bisa jadi atmosfer dan banyak lagi. Hal yang paling mencolok dari desain lampu pertunjukan teater dan musik itu dari jenis lampunya. Nah, pemilihan jenis lampu ini juga dikembaliin lagi sama konsep pertunjukan. Makanya, komunikasi sama sutradara teater, atau kalau di musik itu ada show director maupun si bandnya sendiri, itu perlu banget. Pada dasarnya sih sama-sama mendesain, dan teknisnya hampir sama. Tapi implementasinya beda. Kalau di teater, saya baca naskah. Sebab si naskah itu sendiri bisa membentuk kebutuhan cahaya. Setelah proses itu, baru keluarlah si layout desain lampu, setelah itu baru deprogram, dan hajar! Nah, kalau di band (musik), kita harus tau dulu bandnya. Kita pelajari liriknya, aransemen, konsep panggung, dan kita keluarin desain lampunya. Dari situ sama: di program dan hajar! Tapi ya, itu balik lagi: kalau saya jadi penata lampu si UTBBYS di sebuah festival nih, saya enggak mendesain dari awal. Karena konsepnya sudah ada.”

Gimana cara Mang Zems mengeksplorasi karya?
"Saya benar-benar pelajari lagunya, liriknya, karakternya. Sampai nanti muncul desain lampunya. Tentang apa dan ini kontennya gimana. Saya menginterpretasi karya ini dan ya, sugguh-sungguh saya mengulik si lagunya. Kalau perkara alat mah itu bisa ngikutin. Jadi, intinya enggak asal bray-bray-bray aja (menjadi lighting man).”

Ada pengalaman enggak saat menginterpretasi karya?
"Pernah pada suatu hari, saya ngundang Eza dan Ranyay (UTBBYS) ke kos-kosan, hanya kepengin tahu ini makna lagu mereka tuh apa. Atau waktu saya diminta mendesain lampu buat pertunjukan si Revenge The Faith. Saya sampai ke Garut buat ketemu seorang teman, dan bertanya ini lagunya si RTF tuh maknanya apa. Saya ikut proses latihan. Jadi, enggak sekadar bray-bray aja sih.”

Peran UTBBYS dalam membawa Mang Zems jadi banyak kenalan di bidang musik tuh gede banget ya?
"Jelas. Semenjak saya jadi lighting man buat mereka, saya ketemu banyak orang baru. Saya ketemu Bottlesmoker, dan ketemu Limunas.”

Jadi lighting man di Limunas pas Limunas pertama bukan?
"Itu udah jalan beberapa kali. Saya jadi lighting man pertama kali pas Bottlesmoker maen sama Stars & Rabbit, itu tahun berapa ya? Lucunya, saya tuh awalnya diminta jadi lighting man di panggungannya Bottlesmoker. Eh, enggak taunya, itu panggungan tuh acara Limunas dan saya jadi ketemu tokoh-tokoh Limunas kayak Teh Boit dan Mas Tri Dari acara Limunas itu, akhirnya saya ketemu sama banyak orang. Sampai akhirnya saya ngelampuin acara Wah Wah di 372 Kopi yang diinisiasi oleh Deni Kocun. Terakhir sih saya jadi kolaborator di acara Follow The Lights, akhir tahun 2019.”

Sampai saat ini berarti jadi lighting man buat UTBBYS dong?
"Masih. Iya.”

Saat penonton terpukau sama hasil desain tata lampu bikinan Mang Zems, apa yang terlintas di benak Mamang?
"Bersyukur mah harus. Soalnya ini perjalanan panjang: saya harus ngafalin lagu, mikirin lagunya kayak gimana, mau digimanain setelannya. Satu lagu yang sudah dibawakan beberapa kali itu boleh dibilang gabungan interpretasi saya dari panggung ke panggung. Ngomongin suka atau enggak suka, itu sih subyektif. Yang saya lakuin adalah menaganalisa, menginterpretasi karya ke dalam bentuk setelan lampu. Selebihnya, silakan. Gimana penonton aja.”

Setelah akhirnya aktif di dunia pentas, khususnya pertunjukan musik di Bandung, Zamzam menganggap dirinya jadi punya lebih banyak mentor. Ia berkenalan dengan ragam pelaku seni pertunjukan. Di bidang tata lampu, ia berkenalan dengan banyak orang vendor lampu. Orang-orang tersebutlah yang ia anggap sebagai mentor baru.

Kembali lagi, kendati paham artistik dari segi akademis, Zamzam tetap menganggap bahwa orang-orang teknis itu jauh lebih banyak tahu ketimbang dirinya. Ia terus mempertahankan prinsip ini sampai hari ini.

“Ujung-ujungnya sih, saya sampai jadi kekeluargaan lah dengan mereka (vendor). Ya, ujung-ujungnya pula, jadi ngeliwet (makan bareng) di rumahnya,” katanya.

Gimana sih caranya mempertahankan sikap rendah hati kayak begini?
"Bukan rendah hati. Urang emang loba keneh kekuranganna (saya memang masih banyak kekurangannya). Dan bagi saya tiap panggung adalah dunia baru.”

Sekarang kan Mang Zems sudah dikenal oleh orang banyak sebagai lighting man. Gimana tanggapannya?
"Ya Alhamdulillah. Saya bisa kayak gini karena tokoh-tokoh teater, dan teman-teman seniman lainnya. Dan karena saya ada di dunia seni pertunjukan (si lighting man ini), jadi saya enggak bisa berdiri sendiri. Ekosistem itu perlu. Saya juga menghaturkan terima kasih untuk keluarga, guru-guru, rekan-rekan seniman, rekan-rekan seperjuangan dari lintas disiplin seni. Semuanya memberi ruang eksplorasi buat saya. Saya masih berproses sampai saat ini pun masih berproses.”

Harapan Mang Zems untuk profesi yang saat ini dijalani?
"Semoga profesi ini bisa menjadi berkah, dan juga mudah-mudahan saya bisa terus berproses, meningkatkan kualitas. Secara umumnya, semoga profesi di bidang tata lampu ini ada sertifikasinya. Ya, tersertifikasi lah ya disebutnya. Karena kalau di luar negeri sih, profesi ini diperhitungkan. Sayang banget, di Indonesia belum. Semoga arahnya ke sana ya. Saya kepengin punya gedung pertunjukan. Di sana, saya mau ngebentuk ekosistemnya. Saya mau siapkan regenerasi desainer tata lampu.”

Pesen Mang Zems buat temen-temen yang baru mau memulai kiprah sebagai desainer tata lampu?
"Urang sok teu bisa euy ngajawab pertanyaan nu kararieu (saya enggak bisa jawab pertanyaan yang kayak begini). Ha ha ha, pada dasarnya sih kemauan dan tekad sih. Apalagi zaman sekarang ya. Tinggal nyari, dan aplikasiin aja. Saya pun bisa ada di titik ini enggak secara instan.”

Mang. Hampura nya. Ieu direkam. Teu aya nu sensitif kan pembahasanna? (Mang. Maaf, obrolan ini kita rekam. Enggak ada pembahasan yang sensitif atau off the record kan?)
"Heh! Ha ha ha, sensitif semua itu obrolan. Aduh. Nanti kalau artikelnya udah jadi, gua bongkar semua ya! Ha ha ha ha. Tapi, makasih banget loh Beritabaik.id. Saya tuh kadang suka enggak nyangka aja bisa diliput sama media.”

Tenang, Kang Zems. Proses kurasi narasumber di #BertemuTemanBaik itu enggak simpel. Kamu terpilih karena memang profesi atau pekerjaanmu punya nilai positif yang bisa jadi refleksi untuk kita dan TemanBaik di manapun berada.

Nah, dari perjalanan Zamzam, kita bisa menarik kesimpulan bahwasannya konsistensi dalam menjalankan apa yang kita cintai, lambat laun akan membuahkan hasil. Kendati gemas karena sikapnya yang terlampau rendah hati, namun terkadang sifat rendah hati itu juga tetap perlu kok, TemanBaik. Dengan sikap ini, kita bisa terus belajar dan mengeksplorasi, seperti yang selalu dilakukan Zamzam dari fase ke fase dalam karir dan hidupnya.

Sehat-sehat selalu, Mang Zems!

Foto    : Djuli Pamungkas/Beritabaik.id
Layout : Agam Rachmawan/Beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler