Varis Sechan, Penata Suara Paling Ramah di Tongkrongan

Bandung - Gemar bermusik sejak kecil, kemudian dirinya menemukan 'mainan' baru saat sang Ayah membelikan CD aplikasi rekaman musik Fruity Loops. Siapa sangka, CD yang awalnya ia kira sebuah gim komputer tersebut justru menjadi gerbang masuknya menuju profesi hari ini.

Ya, Varis Sechan boleh jadi merupakan salah satu audioman atau penata suara dan peramu rekam paling ramah se-alam dunia. Boleh jadi, ya. Sebab, enggak jarang, band-band baru merasakan keresahan yang sama saat rekaman di studio: bekerja sama dengan penata suara yang ketus.

Saat kami mengajaknya berbincang, ia awalnya bingung, kenapa dirinya yang hendak kami wawancarai. Jawabannya, selain keramahannya, kebaikan Varis yang berujung menyumbang banyak ide di dalam proses kreatif band-band kampus yang ingin menjajal rekaman di studionya jadi nilai tambah. Belakangan ia menyadari, cukup melelahkan juga saat harus bertemu klien yang masuk ke studio rekaman namun enggak tahu materinya.

"Tapi, enggak boleh ngeluh lah. Itu mah pasti ada aja," katanya.

Saat ini, Varis menjadi orang di balik layar dalam proses kreatif beberapa band, salah satunya Rocket Rockers. Usaha mandiri studio rekamannya itu pun mendapat ‘lapak’ di markas band pop punk veteran asal Bandung tersebut.

Namun, jauh sebelum menjadi penata suara profesional, Varis punya sekelumit kisah unik dari mulai jadi pemain band di acara nikahan sampai driver ojol. Perjalanan Varis itu terekam dalam obrolan bersama kami. Simak yuk!


Varis Sechan. Kamu siapanya Sarah Sechan sih?
"Ha ha ha. Bukan siapa-siapa. Itu karena Ibu saya ngefans sama Sarah Sechan. Eh, serius ini mah asli.”

Beneran?
"Bener. Ini udah berapa kali saya dapet pertanyaan gini. Ha ha ha."

Kamu lagi bikin apa sih? Ini kayaknya ngerjainnya dari semalam ya?
"He he he. Ini deadline nih, pesanan gitu. Ada mixingan yang harus dikerjain.”

Sibuk banget nih sekarang ya? Banyak band yang akhirnya ngerjain di kamu?
"Ya gitu. Ha ha ha. Kan kalau di kantor sih memang rata-rata order musik ke saya.”

Bisa menjanjikan enggak sih kerjaan gini?
"Maksudnya audioman? Menurut saya sih enggak ya. Makanya saya saranin si audioman ini juga harus belajar produksi. Jatohnya dia nanti jadi produser. Nah, kalau produser, itu mah menjanjikan.”

Baca Ini Juga Yuk: Merayakan Perbedaan Lewat Video Klip 'Awesome' dari IGMO

Kembali ke medio 2009 saat masih duduk di bangku SMP, Varis mengingat sebuah momen saat Ayahnya membawakan CD aplikasi Fruity Loops. Buat kamu yang belum tahu, Fruity Loops adalah salah satu aplikasi untuk rekaman musik. Beberapa musisi profesional sekaliber Ariel Noah (tertuang dalam buku autobiografi 'Kisah Lainnya') mempelajari perangkat lunak ini di awal perjalanan karir musiknya.

Varis awalnya sudah gemar membuat musik. Sebuah aplikasi pembuat musik di ponsel lah yang awalnya mengarahkan ketertarikannya terhadap proses kreatif pembuatan musik.

"Di hape Nokia dan Sony Ericsson itu ada. Duh, saya lupa seri berapa ya waktu itu. Tapi yang pasti ada fiturnya. Jadi kayak kita bikin ringtone gitu deh. Nah, saya awalnya mainan yang kayak begitu," kenangnya.

Usai berkenalan dengan Fruity Loops, Varis kemudian menjajalnya di komputer. Ia lebih banyak melamun ketimbang mengoperasikan aplikasi ini. Wajar saja, namanya masih hijau. Namun, setelah terus beradaptasi, ia kemudian merasa sanggup untuk bisa menjalankan aplikasi ini dan meyakini kalau band masa SMP yang dijalankannya bisa rekaman sendiri di rumahnya.

Dulu emang kamu nge-band bawain lagu apa?
"Avenged Sevenfold. Hadeh, udah lah..”

Mereka yakin gitu bisa rekaman di rumah kamu?
"Awalnya iya. Kayak nawarin ‘udah lah, rekaman bisa di rumah gua. Kita enggak usah ke studio ya..’ dan akhirnya rekaman lah di rumah.”

Udah dirilis karyanya?
"Bentar dulu, ceritanya belum kelar. Nah. Pas rekaman nih. Sut-sat-set, beres lah. Pas didengerin, saya bandingin sama hasil rekaman profesional. Terus saya bilang ‘wah, kita harus ke studio..’ hahahaha bangkar!”

Yah, kamu harkosin mereka?
"Enggak sepenuhnya lah. Karena ujung-ujungnya kalau di saya (rekaman) itu jadinya buat bikin guide aja. Buat panduan nanti kalau rekaman di studio.”

Saat teman-teman seusianya jadi maniak warnet dengan game online, Varis hampir tidak mengalami fase itu. Ia sibuk di depan komputer, tetapi untuk mempelajari software Fruity Loops hadiah dari Ayahnya. Di fase itu pula, Varis sebetulnya enggan melanjutkan sekolahnya. Seingat dia, saat menginjak kelas tiga SMP, ia nyaris berhenti sekolah dengan alasan ingin mempelajari musik secara formal.


Nilai akademik yang konsisten buruk, peringkat atau rangking di kelas yang konsisten berada di tiga terbawah, serta minatnya belajar yang makin surut sempat membuatnya dihantui pertanyaan besar dari orang tua. Ia kemudian mengutarakan keinginannya untuk tidak melanjutkan sekolah karena ingin serius belajar musik.

"Walau ujungnya enggak jadi sih. Karena itu udah mau deket UN, gila aja kalau sampai keluar," katanya.

Keinginan untuk belajar musik bukan sekadar ingin belajar layaknya anak kursus gitar biasa. Varis ingin belajar gitar di sekolah musik reguler, yang mana ia menjumpai seluruh pelajaran musik. Kendati demikian, belum terpikir olehnya akan profesi menjadi penata suara yang menyegarkan ini.

Selepas SMP, Varis yang kala itu berdomisili di Jakarta kemudian pindah ke Bandung. Ia kemudian masuk di jurusan Seni Musik SMK Negeri 10 Bandung; sekolah yang dianggapnya menjadi salah satu impian. Bisa sekolah musik ala film 'School of Rock'.

"Ya, meskipun enggak sepenuhnya mirip sih," kenangnya sembari tertawa.

Di SMA, Varis makin getol mempelajari perangkat lunak rekaman. Tugas-tugas sekolah yang berkaitan dengan musik dijadikan bahan laboratoriumnya mempelajari audio. Namun meski begitu, ia tidak menampakkan diri sebagai orang yang sedang memperdalam ilmu audio saat berada di tongkrongannya. Varis lebih dikenal sebagai gitaris ketimbang audio man.

Masa-masa SMA itu juga dihabiskannya dengan bermusik. Ia berpindah haluan dari metal menuju fusion jaz. Beberapa band ia jajaki, dan beberapa kali pula ia membawa teman ngebandnya untuk rekaman di rumah.


Mereka jadi kambing percobaan lah ya?
"Iya. Terus saya kenal sama beberapa software baru tuh waktu itu. Software buat audio jingle radio gitu deh. Diulik-ulik. Belum ngerti teknisnya gimana ya waktu itu.”

Tapi di sekolah enggak kepikiran buat nanya gitu?
"Karena hampir enggak ada yang melek ke sana kan. Jadi ya skip aja. Waktu salah seorang guru di sana ngejual efek gitar dan ampli, di situ saya banyak nanya deh akhirnya.”

Maksudnya gimana?
"Jadi si guru itu nyeletuk ‘ini efek bisa jadi soundcard juga kok..’ nah, saya bingung. Soundcard itu apa ya? Kalau yang saya liat sih biasanya orang kalau rekaman itu kan dari alat, terus ke efek, terus ke laptop. Ternyata itu… Enggak salah sih, tapi enggak begitu juga yang benernya. Ha ha ha.”

Celetukan sang guru itulah yang kemudian membuat Varis banyak melakukan eksplorasi. Ia mulai menabung untuk bisa mendapatkan alat yang dimaksud. Singkat cerita, ia membeli pedal efek yang dijual gurunya tersebut, dan memulai proses rekaman.

Di fase tersebut, Varis juga mengenal software rekaman yang lebih populer yakni Cubase. Ia merasa geli sendiri mengenang masa-masa di mana dirinya girang sendiri saat mengenal software tersebut.

"Akhirnya bisa rekaman pake software-nya artis-artis. Ha ha ha, seneng banget pas pertama tau,” katanya.

Tiga tahun dihabiskannya di sekolah musik tersebut, Varis tidak langsung jadi penata suara handal. Ia melewati fase dirinya menjadi anak band kafe, pemusik di acara nikahan, hingga menjadi supir ojol. Hal itu dilakoni karena jika hanya mengandalkan dari satu sumber pekerjaan, penghasilannya tidak mencukupi.

Ia juga merelakan harus terlambat masuk kuliah karena eksplorasinya. Lulus tahun 2015 dari sekolah tersebut, ia langsung melakoni tiga peran berbeda sembari terus mempelajari seluk beluk dunia rekaman. Namun, hal itu agak sulit terlaksana karena letak rumahnya yang berada di Kopo, cukup jauh dari pusat kota. Waktu Varis banyak dihabiskan di perjalanan.


Titik cerah menghampiri Varis di awal tahun 2016. Seorang temannya yang bernama Samuel (kini menjadi additional player gitar untuk Rocket Rockers) menawarinya untuk sewa kamar indekos bersamaan. Melihat harga patungan yang murah, Varis mengiyakan. Akhirnya, perjalanan panjang Varis tiap manggung di kafe dan acara nikahan bisa terpangkas.

Tinggal di dekat kota menurut Varis adalah hal yang penting, setidaknya saat itu ia punya mobilitas yang tinggi sebagai musisi dan juga penata suara. Kesempatan menyewa kamar bersama Samuel itu dimanfaatkan Varis untuk kembali berproses mempelajari seluk beluk audio. Samuel yang saat itu menjadi gitaris ketiga di Rocket Rockers melirik proses belajar Varis, dan sesekali meminjam alat rekaman yang dimiliki Varis untuk kemudian berproses kreatif bersama band pop punk asal Bandung tersebut.

"Kayak buat guide lagu 'Pilihanku', itu bikinnya di kosan saya. Guide-nya aja sih," kata Varis.

Di kamar kos berukuran kecil itu, Varis memberanikan diri untuk membuka jasa studio rekaman rumahan. Tarif Rp200 ribu dipasangnya untuk satu sesi rekaman. Dengan menghitung biaya listrik, jasa, belum lagi terkadang ia harus turun tangan menyelesaikan rekaman karena bandnya belum siap, tarif itu kini membuatnya tersenyum sendiri.

"18 jam rekaman, dibayar Rp200 ribu. Hadeh!" katanya sembari tertawa.

Namun ia menjalaninya dengan sepenuh hati. Apa lagi alasannya kalau bukan kecintaan terhadap audio. Sampai saat ini, Varis mengaku seolah punya dunia sendiri saat sedang mengerjakan proyek audio.

Saat teman-teman memutuskan kuliah, kamu yakin bakal di dunia rekaman ini?
"Hmm. Enggak kepikiran sih. Waktu itu tuh penghasilan saya sekitar sejutaan dalam sebulan deh kira-kira. Itu dari ngojek sama main musik. Dicukup-cukupin aja sih sebenernya, enggak ada tanggungan juga kan.”

Tapi kamu udah mulai cari klien?
"Enggak nyari sih. Gini. Jadi, saya enggak pernah nyari klien disengaja gitu. Saya percaya kalau buat jasa kayak begini, promosi yang ampuh itu promosi mulut ke mulut. Karena itu yang bekerja sampai saat ini.”

Terus gimana cara kamu dapetin pelanggan kalau enggak pakai promo?
"Dari band sendiri. Terus akhirnya temen ada yang tau, bilang lagi ke temen yang lain. Gitu aja terus.”

Menggarap banyak aliran musik kan tentunya kamu juga harus dengerin aliran yang secara subyektif enggak kamu suka, itu gimana tuh?
"Ya memang tantangannya di situ. Tapi, saya lebih memaknai itu sebagai proses belajar aja. Saya harus nyemplung juga di dalam lagunya.”


Akhir 2016, Varis kemudian membuat produk sendiri untuk studio rekaman miliknya. Ia memilih nama 'Homestracks' dengan filosofi home adalah rumah, track diambil dari istilah tracking atau rekaman musik, dan huruf 'S'adalah Sechan. Menarik juga.

Beberapa klien mulai menghampiri Varis. Ia kadang bercanda, dirinya saat itu banyak didatangi klien karena harganya yang amat murah. Ia memberi anekdot harga teman kualitas profesional untuk konteks ini. Saat itu pula ia sudah bisa membeli soundcard dan mic condenser. Dengan harga yang enggak terlalu mahal, ia coba memaksimalkan kinerja alat tersebut.

Saat sedang asyik-asyiknya menggarap beberapa klien, Varis harus dibuat pening sejenak karena tandem indekosnya, Samuel, memutuskan pindah tempat tinggal. Mengingat harga sewa kost yang terbilang lumayan apabila ditanggung sendiri, Varis nyaris mengubur pekerjaannya dan hendak fokus menjadi supir ojol.

Namun, angin segar kembali muncul; seorang teman ngebandnya menawari rumah tinggal yang tidak terpakai untuk ditempati. Tanpa basa-basi, Varis mengiyakan. Lengkap dengan pernyataan kalau rumah itu akan disulapnya menjadi tempat kreatif dan studio rekaman. Singkat cerita, ia menempati rumah tersebut.

Berbarengan dengan momen itu, Varis kemudian terpikir melanjutkan pendidikan. Ia kemudian masuk sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Langlangbuana pada tahun 2017. Teman-teman kampusnya kemudian menambah wawasan baru. Beberapa di antaranya dibawa Varis ke studionya untuk berproses rekaman.

Menikmati tapi kuliah di UNLA waktu itu?
"Menikmati. Saya ambil jurusan komunikasi karena saya pemalu. Ha ha ha, tapi kuliahnya enggak beres.”

Main band masih jalan tapi waktu itu?
"Jalan. Tapi, fokusnya kayak beralih jadi ngurusin si Homestracks ini. Saya full di sana, ngabisin waktu dan tenaga lah ibaratnya.”

Masih pakai tarif Rp150 ribu itu?
"Oh kebetulan naik. Waktu itu udah di Rp250 ribu. Tapi kayaknya masih murah sih segitu, sekalipun letak studionya jauh banget di GBI. Ha ha ha.”

Sudah ketemu band-band besar di sini?
"Boro-boro. Ha ha ha. Waktu studio di sini sih saya kayak ada di fase kontemplasi aja. Karena bingung mau ngapain, kayak ada di persimpangan aja. Antara mau terus di musik, atau gimana. Dan di fase ini tuh kegiatan ngeband udah enggak kayak pas waktu masih tinggal di kos-kosan itu. Saya keluar dari salah satu band cukup gedelah di skena-nya mah. Terus fokus ngabisin waktu di sini.”

Pertemuannya dengan band yang lebih profesional terwujud berkat kehadiran Samuel. Ya, sesekali, Samuel membawa pekerjaan rumah dari Rocket Rockers untuk kemudian dikerjakan di studio Varis dan saat itu pula, klien reguler Varis untuk rekaman bertambah. Namun untuk tetap menjaga stabilitas penghasilan, ia masih harus menjadi sopir ojol tadi.

Satu tahun dilewati Varis di rumah tersebut, hingga akhirnya empunya rumah hendak menjual rumah tersebut. Varis mengaku sempat pesimis. Sebab, nyaris mustahil ia membuka jasa rekaman musik di rumahnya. Ia berpikir untuk rehat sejenak pada saat itu.

"Lalu datanglah keajaiban dari si Samuel,” ujarnya sembari tertawa.

Ya, kehadiran Samuel pada saat itu adalah untuk menawari Varis membuka lapak di markas manajemen yang menaungi Rocket Rockers yang terletak di Antapani. Dengan senang hati Varis menerimanya.

Pindah ke kota ya berarti kamu Ris?
"Oia. Kota banget. Ha ha ha.”

Gimana progress usaha waktu itu?
"Secara keseluruhan, klien di fase awal ngelapak di markasnya RR ini masih sedikit. Tapi nambahnya cepet banget.”

Dan langsung diminta nanganin musik dari manajemen waktu itu?
"Enggak deh kayaknya. Saya tuh enggak pernah ketemu anak-anak (Rocket Rockers) sebelumnya. Pernah pun sekali, itu saya hanya diminta install aplikasi rekaman. Jadi mereka lagi bikin instalasi rekaman rumahan gitulah. Udah, itu aja.”

Per-2020, Varis disibukkan dengan garapan musik dari Rocket Rockers dan untuk kebutuhan manajemen musik yang menaungi mereka, Reach & Rich Artist Management. Ia menjadi bagian tetap dari manajemen musik itu, dan mengerjakan orderan musik untuk keperluan aset digital. Karena penghasilannya sudah lebih besar, Varis mulai meninggalkan aktivitas sebagai sopir ojol dan bermusik. Ia hanya mengerjakan garapan musik saja di kantornya.

Di antara ribuan penata suara, boleh jadi Varis adalah penata suara paling ramah. Terkait hal ini, ia mengaku untuk menumbuhkan kenyamanan saat musisi atau kliennya sedang berproses di studio. Ini juga berkaitan dengan pengalaman tak mengenakannya saat menjalani rekaman di studio dan kebagian operator studio yang dianggap ketus.

Kamu denger-denger enggak pernah marahin musisi ya?
"Enggak lah. Ha ha ha, Bete pasti ada sih. Bete banget kalau musisi yang rekaman di saya tuh lambat, main tempo aja enggak benar. Tapi, sebisa mungkin kita jangan sampai nunjukkin kalau kita kesel. Treatment musisi sebaik mungkin. Walaupun kasus beginian biasanya saya temuin di band-band yang baru, atau yang anak-anak band kampus yang baru ngeband. Kalau musisi yang udah profesional mah mereka tau pas ke studio tuh mereka mau ngapain.”

Kalau teknis rekaman di kamu gimana?
"Sama aja kayak kalau rekaman di studio. Cuma kalau di sini enggak ada drum. Tapi saya garapin kalau mau bawa file drum dari luar misalnya, boleh.”

Apa aja sih yang harus dimiliki oleh seorang penata suara atau peramu rekam handal biar kerjaannya bermanfaat buat orang?
"Think like a musician. Kalau ngerjain drum, berfikirlah sebagai drummer, ngerjain bas, berfikirlah sebagai basis. Sisanya kayak good attitude, tepat waktu, dan lain-lain mah emang kudu punya itu mah. Hahaha.”

Belajar rekaman itu ngaruh ke skill main musik kamu enggak?
"Ngaruh banget. Ha ha ha, saya jadi agak lambat kalau ngulik lagu. Makanya, saya juga punya target saya tetap main band sih. Biar tetap keasah aja main musiknya.”

Penata Suara, Ada Namun Kadang Enggak Terlihat
Perjalanan Varis sebelum akhirnya menjadi penata suara profesional menyadarkan kita kalau musik yang kita dengar sehari-hari itu enggak lepas dari keahlian penata suaranya. Ya, keahlian olah suara yang dikenal dengan istilah mixing, mastering, atau balancing, enggak semua orang bisa melakukannya. Sekalipun itu musisi besar. Perlu keahlian dan telinga yang ciamik untuk bisa menghadirkan musik ke telinga pendengar.

Dalam hal ini, Varis merasa punya tanggung jawab penuh untuk menjalankan perannya sebagai pemberi warna dan penyampai pesan. Walau kadang perannya terlupakan dan penonton kerap memuja artis yang manggung di hadapannya, namun ia tetap senang mengerjakan musik.

"Ibaratnya gini: klien tuh orang tua, karya atau lagunya itu anak. Nah, saya bidannya. Kebayang enggak sih, saat si anak ini tumbuh gede, gede, gede, dan dinyanyiin banyak orang. Ada terbesit pemikiran 'wah, ini lahirannya di gua nih..' begitu di kepala saya. Bangga aja, walaupun proses saya belum berhenti sih. Masih banyak yang harus saya kejar,” kata Varis.

Sebagai pamungkas, ia berharap profesi penata suara ini enggak berhenti untuk konteks musik saja. Ia saat ini sedang membidik penataan suara untuk kebutuhan visual. Misalnya dengan mengerjakan musik scoring untuk tayangan YouTube Jurnal Risa.

"Intinya sih jangan sampai mati aja deh. Saya kepengin si Homestracks ini jadi jasa penyedia audio yang mana klien bisa kostum sendiri, maunya kayak apa,” pungkasnya sembari tertawa.

Perjalanan Varis 12 tahun mempelajari dunia rekaman enggak sia-sia. Ketekunannya membawa Varis di pintu gerbang untuk menjadi seseorang yang punya pekerjaan dari sesuatu yang ia gemari. Belajar dari perjalanan Varis, yang perlu kita lakukan adalah konsisten dan enggak menyerah. Selain itu, sebisa mungkin lakukanlah yang terbaik saat kita mengerjakan sesuatu. Karena, perlakuan baik akan berbalas kebaikan pula untuk kita.

Selamat berakhir pekan, TemanBaik!

Foto: Rayhadi Shadiq/Beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler